Perkembangan Kinerja dan Strategi Delta Djakarta Tbk. (DLTA) pada 2025
Delta Djakarta Tbk. (DLTA), sebuah emiten produsen bir yang memiliki merek ternama Anker, menunjukkan optimisme terhadap proyeksi kinerja di tahun 2026. Dalam paparan publiknya, Direktur Delta Djakarta Ronny Titiheruw menjelaskan bahwa baik kinerja top line maupun bottom line perseroan diprediksi akan mengalami pertumbuhan.
Salah satu strategi utama yang akan dilakukan oleh DLTA adalah memperluas area ekspansi ke daerah-daerah yang belum maksimal dimanfaatkan selama ini. Saat ini, DLTA telah memiliki total 52 distributor yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Jawa, dan Bali-Nusa Tenggara (Nusra). Selain itu, beberapa pasar internasional juga menjadi kontributor penjualan DLTA, antara lain Taiwan, Thailand, dan Vietnam.
Namun, hingga September 2025, penjualan ekspor hanya berkontribusi sebesar 0,39% dari total penjualan perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk pengembangan lebih lanjut di pasar luar negeri.
Peningkatan Portofolio Merek sebagai Strategi Pertumbuhan
Selain memperluas pasar, DLTA juga fokus pada upaya memaksimalkan portofolio merek. Hingga saat ini, perseroan telah memasarkan 10 jenis produk bir di Tanah Air, termasuk merek-merek ternama seperti Anker, San Miguel, dan Carlsberg. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan pangsa pasar DLTA.
Ronny Titiheruw menyatakan bahwa pihaknya percaya bahwa strategi ini akan membantu meningkatkan kinerja perusahaan di 2026. Selain itu, DLTA juga menjaga efisiensi operasional dengan menjaga biaya agar tetap dalam level yang efektif dan efisien.
Penggunaan Anggaran Belanja Modal (Capex)
Di sisi lain, sepanjang 2025, Delta Djakarta baru menyerap sebagian kecil anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) yang telah ditetapkan untuk tahun ini. Direktur Keuangan Delta Djakarta Ma. Joe De Castro Perucho menjelaskan bahwa capex yang telah diserap perseroan sepanjang 2025 hanya mencapai Rp20,3 miliar dari total anggaran sebesar Rp63,9 miliar.
Penganggaran tersebut terutama difokuskan pada aspek operasional, seperti peningkatan fasilitas pabrik, fasilitas IT, serta mesin yang mendukung operasional DLTA. Menurutnya, diperkirakan hingga akhir tahun, realisasi capex akan mencapai 70–75%, yang terutama digunakan untuk peningkatan operasi dan replacement perangkat mesin, pabrik, serta IT yang terkait.
Kinerja Keuangan Sepanjang 2025
Sepanjang sembilan bulan 2025, DLTA berhasil membukukan pendapatan senilai Rp484,19 miliar, yang mencerminkan pertumbuhan dibandingkan posisi Rp482,70 miliar pada periode yang sama 2024.
Upaya efisiensi juga berhasil dilakukan DLTA dengan beban pokok penjualan yang menyusut menjadi Rp148,54 miliar, turun dari Rp152,28 miliar pada Januari–September 2024. Namun, beban penjualan yang membengkak menjadi Rp163,64 miliar dan beban pajak senilai Rp33,55 miliar justru membuat koreksi terhadap laba tahun berjalan perseroan.
Akibatnya, setelah dikurangi berbagai beban dan pajak, DLTA hanya mampu membukukan laba bersih senilai Rp101,23 miliar per September 2025, terkoreksi dari posisi Rp101,76 miliar pada periode yang sama 2024.
Kesimpulan
Dengan strategi yang terarah dan upaya peningkatan efisiensi, DLTA tampaknya siap menghadapi tantangan di tahun 2026. Meski menghadapi tantangan di sektor keuangan, perusahaan tetap berkomitmen untuk terus berkembang dan memperkuat posisinya di pasar domestik maupun internasional.