23 April 2026
AA1SuAzX.jpg

Penyerangan terhadap Prajurit TNI di Kalimantan Barat

Insiden penyerangan yang dilakukan oleh belasan warga negara asing (WNA) terhadap prajurit TNI di wilayah tambang emas di Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi perhatian publik. Mabes TNI mengonfirmasi adanya kejadian tersebut pada Minggu, 14 Desember 2025 pukul 15.40 WIB.

Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Mayjen TNI Freddy Ardianzah menjelaskan bahwa kejadian berawal dari latihan satuan yang dilakukan oleh Batalyon Zipur 6/SD di areal milik sebuah perusahaan. Saat itu, anggota mendapat informasi dari petugas keamanan tentang adanya drone yang terbang di area latihan.

“Anggota kemudian melakukan pengejaran serta mendatangi lokasi orang yang mengoperasikan drone. Ternyata drone itu dioperasikan oleh empat WNA asal Beijing,” ujar Freddy dalam keterangan tertulis.

Empat WNA China tersebut sempat dimintai keterangan oleh anggota TNI. Namun, tiba-tiba muncul 11 WNA China lainnya. Belasan WNA ini diduga melakukan penyerangan terhadap anggota TNI.

Penyerangan Diduga Dilakukan dengan Benda-Benda yang Berpotensi Membahayakan

Menurut Kepala Penerangan Kodam XII/Tanjungpura, Kolonel Inf Yusub Dody Sandra, penyerangan diduga dilakukan menggunakan benda-benda yang berpotensi membahayakan, seperti senjata tajam, airsoft gun, dan alat setrum. Anggota TNI memilih tidak mengeskalasi situasi dan mengambil langkah taktis dengan menghindari konfrontasi lebih lanjut.

Setelah kejadian tersebut, anggota TNI kembali ke area perusahaan untuk mengamankan diri dan melaporkan kejadian tersebut ke komando atas. Akibat insiden ini, terdapat sejumlah kerusakan, termasuk satu unit kendaraan operasional perusahaan jenis Toyota Hilux dan satu unit sepeda motor milik PT Sultan Rafli Mandiri (SRM).

Bos Perusahaan yang Menggunakan WNA Pertanyakan Peran TNI

Sementara itu, PT Sultan Rafli Mandiri (SRM) memberikan klarifikasi terkait dugaan serangan 15 WNA China terhadap anggota TNI. Perusahaan menyatakan bahwa belasan WNA China tersebut merupakan karyawan mereka. Namun, mereka membantah adanya penyerangan terhadap anggota TNI di area tambang.

Direktur Utama PT SRM, Li Changjin, mengakui adanya staf teknis yang berkewarganegaraan China yang mengoperasikan drone di area tambang. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihaknya membantah tudingan bahwa staf tersebut melakukan penyerangan terhadap anggota TNI.

“Pada saat kejadian, staf teknis kami merasa ketakutan karena perlengkapan mereka langsung disita. Kami juga tidak mengetahui kepentingan pihak tertentu berada di lokasi tersebut,” ujar Li.

Ia menambahkan bahwa drone dan telepon seluler milik staf teknis tersebut sempat disita. Sementara rekaman di dalam perangkat dihapus, sebelum akhirnya dikembalikan.

Imigrasi Periksa 26 WN China Terkait Dugaan Penyerangan

Plt Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Imigrasi, Yuldi Yusman, menyampaikan bahwa ada 26 orang WNA China yang sudah diamankan imbas dugaan serangan terhadap anggota TNI di area PT Sultan Rafli Mandiri (SRM). Saat ini, para WNA tersebut ditahan di Kantor Imigrasi Ketapang.

“Yang pasti, WNA-nya saat ini sudah diamankan dan dititipkan di kantor imigrasi Ketapang. Jumlahnya 26 WNA, yang sementara ini diamankan di Kantor Imigrasi Ketapang,” ujar Yuldi.

Ia menambahkan bahwa saat ini sedang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait dokumen keimigrasiannya. Sementara itu, polisi masih mendalami dugaan aksi perusakan yang dilakukan oleh warga negara asal Negeri Tirai Bambu tersebut.

“Saat ini juga dalam rangka pemeriksaan, tentunya kami akan verifikasi dan klarifikasi kepada pihak sponsor yang mendatangkan WNA-WNA tersebut,” tutur dia.

Yuldi mengatakan bahwa jumlah WNA China yang diamankan kemungkinan akan bertambah. Sebab, total ada 34 WNA China yang bekerja di sana.

“Tapi, pada saat diamankan ada dua yang izin ke Pontianak karena ingin melakukan perpanjangan terkait visanya, kemudian ada satu yang sakit dan berobat. Sementara, tiga tidak berada di tempat tapi di penginapan, Tumbang Titi,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *