Fokus Pemerintah pada Hilirisasi Sektor Perkebunan dan Hortikultura
Pada tahun 2026, pemerintah akan memprioritaskan hilirisasi sektor perkebunan dan hortikultura. Hal ini mencakup berbagai komoditas seperti kelapa, kakao, kopi, serta lainnya. Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyiapkan anggaran sebesar Rp9,95 triliun untuk upaya peremajaan beberapa komoditas tersebut.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menjelaskan bahwa pengembangan hilirisasi akan melibatkan BUMN, petani, dan pihak swasta. Selain itu, pabrik-pabrik yang terkait dengan produk turunan dari komoditas-komoditas tersebut juga akan dikembangkan.
- Proses hilirisasi akan mencakup pabrik coklat, pabrik gulanya kelapa, dan pabrik kelapanya.
- Partisipasi BUMN, petani, dan pihak swasta sangat penting dalam proses ini.
- Pemerintah sudah mengidentifikasi lokasi-lokasi yang potensial untuk pengembangan tersebut.
Selain fokus pada perkebunan, pemerintah juga akan meningkatkan produksi peternakan dalam negeri. Tujuannya adalah untuk mendukung kebutuhan makan bergizi gratis (MBG). Anggaran sebesar Rp20 triliun akan dialokasikan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
- Dana tersebut akan digunakan untuk kebutuhan pakan, indukan, bakalan, bibit, obat-obatan, vaksin, dan lain-lain.
- Penyebaran dana akan dilakukan di seluruh Indonesia.
- Peternakan akan melibatkan Koperasi Desa/Kelurahan (KopDes/Kel) Merah Puutih dan pertanak lokal.
Swasembada Pangan pada Tahun 2026
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa Indonesia akan mencapai swasembada pangan pada 1 Januari 2026. Awalnya, target swasembada pangan ditetapkan dalam waktu 4 tahun, tetapi kemudian dipangkas menjadi satu tahun.
- Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras dalam negeri akan naik hingga 4,17 juta ton pada akhir tahun ini.
- Stok beras dalam negeri di Perum Bulog akan menjadi stok tertinggi pada 2025.
- Diperkirakan stok beras akan mencapai 3,7 juta ton pada akhir tahun ini.
- Jumlah penduduk saat ini mencapai 286 juta jiwa, sedangkan pada 1984 jumlah penduduk hanya 161 juta jiwa.
Dalam catatan Bisnis, BPS memperkirakan potensi produksi beras akan mencapai 34,79 juta ton sepanjang Januari—Desember 2025. Kenaikan potensi produksi terutama didorong oleh subround I (Januari–April 2025) yang melonjak 26,54%.
- Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini memperkirakan peningkatan produksi beras sebesar 4,17 juta ton atau 13,60% dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
- Luas panen padi sepanjang Januari—Desember 2025 diperkirakan mencapai 11,36 juta hektare.
- Luas panen padi naik 1,31 juta hektare atau 13,03% dibandingkan dengan periode yang sama 2024.
Namun, angka potensi ini masih dapat berubah tergantung pada kondisi pertanaman padi sepanjang November 2025–Januari 2026. Faktor-faktor seperti serangan hama, banjir, kekeringan, maupun pelaksanaan panen oleh para petani dapat memengaruhi hasil produksi.