27 April 2026
t7-transformed.jpg

Dampak Bencana Alam pada Sektor Pertanian di Sumatera Utara

Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara, khususnya banjir dan longsor, telah meninggalkan dampak serius terhadap sektor pangan. Produksi beras, salah satu komoditas utama, diperkirakan mengalami penurunan signifikan. Wilayah Tapanuli dan Langkat menjadi daerah yang paling terdampak, dengan kerusakan yang menyebar ke sentra-sentra pertanian lain seperti Deli Serdang, Batu Bara, hingga Serdang Bedagai.

“Ketiga daerah tersebut dikenal sebagai penyangga utama pasokan beras dan cabai di Sumut,” ujar Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin dalam keterangan tertulisnya. Kondisi ini memicu kebutuhan pendataan ulang lahan pertanian, terutama untuk mengetahui seberapa besar sawah yang masih bisa diselamatkan.

Dari data kontribusi wilayah Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan sepanjang 2024, kawasan ini menyumbang produksi beras sekitar 269 ribu hingga 285 ribu ton per tahun. Jika pemulihan lahan sawah di tiga kabupaten tersebut sulit dilakukan dalam waktu dekat, bahkan hingga satu tahun ke depan, Sumatera Utara berpotensi mengalami kekurangan beras minimal 269 ribu ton.

“Jumlah ini hampir setara dengan total cadangan beras yang disalurkan Bulog Sumut sepanjang 2024,” tambahnya. Sementara itu, Kabupaten Langkat pada tahun lalu memproduksi sekitar 49 ribu hingga 52 ribu ton beras. Wilayah Tanjung Pura, Besitang, Pangkalan Brandan, hingga Pangkalan Susu tercatat mengalami dampak terberat akibat banjir. Berbeda dengan Kecamatan Hinai yang sebagian besar lahan sawahnya masih bisa diselamatkan.

Untuk jangka pendek, hingga kuartal pertama 2026, wilayah Tapanuli Utara, Tengah, dan Selatan diperkirakan kehilangan produksi sekitar 122 ribu hingga 130 ribu ton beras. Meski kondisi ini belum serta-merta memicu lonjakan harga beras dalam waktu dekat, karena produksi dari daerah lain seperti Simalungun, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai diproyeksikan meningkat seiring datangnya musim panen raya, potensi gangguan tetap perlu diantisipasi sejak dini.

Langkat, misalnya, berpeluang kehilangan sekitar 43.500 ton gabah pada kuartal pertama tahun depan. Risiko serupa juga mengintai beberapa sentra produksi di Deli Serdang dan Serdang Bedagai. Dalam situasi ini, Bulog dinilai perlu memperkuat cadangan beras lebih awal, terutama untuk menghadapi kebutuhan pada kuartal kedua 2026. Langkah antisipatif menjadi krusial guna meredam gejolak pasokan di tengah ketidakpastian cuaca.

Dengan asumsi paling optimistis, yakni produksi di Langkat, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai tetap normal, sementara Tapanuli belum sepenuhnya pulih, Sumatera Utara diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 30 ribu ton beras pada Januari 2026. Kebutuhan akan melonjak tajam pada Mei, sebelum akhirnya mereda saat panen besar berlangsung pada September.

Namun, jika pemulihan lahan sawah di Tapanuli dan Langkat dapat dilakukan lebih cepat pada kuartal pertama 2026, serta tidak terjadi gangguan berarti di sentra produksi lain, maka tambahan pasokan beras diperkirakan baru akan terasa pada akhir kuartal kedua atau awal kuartal ketiga 2026.

Perkembangan Terkini dan Strategi Antisipasi

Pemulihan lahan pertanian memerlukan koordinasi yang baik antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat setempat. Upaya penguatan infrastruktur pertanian, seperti saluran irigasi dan sistem drainase, menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa depan. Selain itu, penggunaan teknologi modern dalam pertanian, seperti sistem pengairan otomatis dan pengawasan cuaca, juga diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan.

Selain itu, penguatan sistem distribusi beras dan stok cadangan nasional menjadi prioritas utama. Bulog dan instansi terkait perlu memastikan bahwa pasokan beras mencukupi kebutuhan masyarakat, terutama di daerah-daerah yang rentan terhadap bencana. Edukasi kepada petani tentang cara mengelola lahan yang aman dan berkelanjutan juga harus ditingkatkan.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Sumatera Utara dapat menghadapi tantangan pasca-bencana secara lebih efektif dan menjaga stabilitas pangan di wilayah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *