
Komitmen Besar Direktur Jenderal Bea Cukai
Direktur Jenderal Bea Cukai, Djaka Budi Utama, menunjukkan komitmennya untuk melakukan perbaikan besar-besaran di dalam instansinya. Pernyataan ini muncul setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan ancaman tegas bahwa Bea Cukai bisa dibekukan jika tidak menunjukkan perbaikan signifikan dalam satu tahun ke depan.
Namun, di balik fokus pada reformasi Bea Cukai, muncul pertanyaan tentang profil pribadi sang direktur, termasuk harta kekayaannya dan isi garasinya. Dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) terakhir yang disampaikan Djaka saat masih menjabat sebagai Asintel Panglima TNI, total kekayaannya mencapai Rp4.703.334.767 atau sekitar Rp4,7 miliar.
Menariknya, dalam laporan LHKPN yang disetor pada 28 Juni 2024 itu, Djaka hanya mencantumkan satu kendaraan di garasinya, yakni Toyota Innova tahun 2021 yang ditaksir bernilai Rp256 juta. Tidak ada kendaraan lain yang dilaporkan, dan mobil tersebut tercatat sebagai aset hasil usaha sendiri.
Ultimatum Menteri Keuangan
Kekhawatiran terhadap masa depan Bea Cukai semakin meningkat setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan ultimatum. Ia meminta waktu satu tahun kepada Presiden Prabowo Subianto untuk memperbaiki kinerja instansi tersebut. Jika gagal, Bea Cukai bisa benar-benar dihentikan operasinya.
Djaka menanggapi tekanan tersebut dengan sikap percaya diri. Ia yakin bahwa reformasi Bea Cukai dapat dituntaskan dalam jangka waktu yang diberikan. “Ya optimis, harus optimis (perbaikan dalam waktu satu tahun). Kalau kita nggak optimis, tahun depan kita selesai semua. Apakah mau Bea Cukai ataupun pegawai Bea Cukai dirumahkan dengan makan gaji buta aja itu? Tentu tidak akan mau,” tegas Djaka saat ditemui di Kantor Wilayah Bea Cukai Jakarta, Rabu 3 Desember 2025.
Purbaya sendiri telah berulang kali menegaskan ancamannya. Jika kinerja tidak kunjung membaik, maka 16.000 pegawai Bea Cukai bisa saja dirumahkan. “Kalau memang nggak bisa perform ya kita bekukan, dan betul-betul beku. Artinya 16.000 pegawai Bea Cukai kita rumahkan. Tapi saya minta waktu ke Presiden untuk memperbaiki Bea Cukai,” ujar Purbaya dalam Rapimnas KADIN 2025 di The Park Hyatt Hotel Jakarta, Senin 1 Desember 2025.
Perubahan yang Diharapkan
Reformasi yang dimaksud oleh Djaka meliputi beberapa aspek penting, seperti peningkatan efisiensi, penggunaan teknologi modern, serta peningkatan transparansi dan akuntabilitas. Hal ini menjadi sangat penting mengingat Bea Cukai memiliki peran vital dalam pengawasan impor dan ekspor, serta pengelolaan pajak daerah.
Selain itu, reformasi juga akan mencakup pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia agar pegawai lebih siap menghadapi tantangan di era digital. Djaka berharap dengan perubahan ini, Bea Cukai dapat menjadi lembaga yang lebih profesional dan mampu memberikan layanan yang lebih baik kepada masyarakat.
Tantangan dan Harapan
Meskipun ada keteguhan dari Djaka dan Purbaya, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah menghadapi resistensi internal dan perubahan budaya kerja yang sulit dilakukan dalam waktu singkat. Namun, dengan dukungan penuh dari pemerintah dan kesadaran seluruh pegawai, harapan besar tetap terbuka.
Djaka berkomitmen untuk terus memperbaiki kinerja Bea Cukai, baik secara internal maupun eksternal. Ia percaya bahwa dengan pendekatan yang tepat dan kolaborasi yang baik, Bea Cukai dapat kembali menjadi institusi yang dihormati dan dipercaya oleh masyarakat.