Konflik Internal PBNU dan Isu Pemakzulan Ketua Umum
Konflik yang terjadi di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah memicu perdebatan mengenai posisi Ketua Umum, KH Yahya Cholil Staquf atau lebih dikenal dengan Gus Yahya. Isu pemakzulan terhadapnya muncul setelah polemik mengundang Peter Berkowitz, seorang tokoh pro Israel ke Universitas Indonesia (UI). Peristiwa ini menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan, termasuk petisi yang menuntut pengunduran dirinya dari jabatan tertentu.
Gus Yahya diketahui memiliki dua jabatan penting dalam organisasi NU, yaitu sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) dan Ketua Umum PBNU. Dalam konteks ini, isu pemakzulan muncul setelah ia mengundang Peter Berkowitz sebagai narasumber dalam acara Pengenalan Sistem Akademik Universitas (PSAU) UI pada 23 Agustus 2025. Selain itu, Berkowitz juga hadir sebagai pemateri dalam acara Akademi Kepemimpinan Nasional yang digelar oleh PBNU tanggal 15 Agustus 2025.
Petisi untuk mencopot Gus Yahya dari posisi Ketua MWA UI dibuat oleh Komunitas UI Student for Justice in Palestine melalui situs change.org pada 12 September 2025. Petisi tersebut telah ditandatangani oleh ribuan orang dan menyatakan bahwa Gus Yahya bertanggung jawab atas kehadiran Berkowitz. Meski Gus Yahya sudah meminta maaf atas kesalahan tersebut, pihak-pihak yang menuntut pengunduran dirinya merasa bahwa permintaan maaf tidak cukup untuk mengakhiri masalah.
Gus Yahya mengklaim bahwa PBNU tetap konsisten dalam mendukung perjuangan Palestina dan segala upaya untuk menghentikan genosida. Namun, dalam petisi tersebut disebutkan bahwa permintaan maaf tidak cukup untuk mengatasi konsekuensi dari tindakan tersebut.
Bantah Pemakzulan
Katib Aam PBNU, KH Akhmad Said Asrori, menegaskan bahwa tidak ada proses pemakzulan atau desakan pengunduran diri terhadap Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. Hal ini ia sampaikan seusai silaturahmi para kiai dan alim ulama di Kantor PBNU, Jakarta, Senin (24/11/2025).
Menurut Said, seluruh kiai dan alim ulama sepakat bahwa kepengurusan PBNU harus berjalan hingga akhir masa jabatan. Ia juga mengajak seluruh pihak di lingkungan PBNU untuk menjaga kekhidmatan organisasi dengan memperbanyak tafakur dan mujahadah.
“Jadi sekali lagi, tidak ada pengunduran dan tidak ada pemaksaan pengunduran diri. Tidak ada. Ini sekali lagi saya tegaskan, tidak ada. Semua harus, semuanya pengurusan harian PBNU mulai Rais Aam sampai jajaran, Ketua Umum dan jajaran sempurna sampai Muktamar yang akan datang,” ujarnya.
Pernah Bertemu Netanyahu
Meski membantah punya kedekatan khusus dengan Israel, Gus Yahya mengaku pernah bertemu Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. Menurutnya, pertemuan tersebut dilakukan dalam rangka membela Palestina.
“Saya itu tahun 2018 sudah pernah pergi ke Israel. Saya bertemu Netanyahu, saya bertemu dengan Presiden Israel, saya bertemu dengan berbagai elemen di sana di dalam berbagai forum tahun 2018,” ujar Gus Yahya di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (23/11/2025).
Ia menegaskan bahwa pengurus NU memilihnya sebagai Ketua Umum karena mereka tahu bahwa tujuan kedatangannya ke Israel adalah demi Palestina. “Mereka tahu, sampeyan (Anda) bisa melihat juga di berbagai unggahan internet.”
Jangan Lagi Ada Fitnah
Gus Yahya menegaskan bahwa polemik yang saat ini mengemuka di tubuh organisasi tidak bisa langsung dikaitkan dengan kepentingan politik. Ia menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada bukti yang jelas mengenai adanya aktor atau tujuan politik di balik dinamika tersebut.
“Unsur politis apa? Dengan analisa seperti apa? Ini semuanya tidak jelas,” kata Gus Yahya dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta, Minggu (23/11/2025) malam.
Ia menekankan bahwa persoalan yang muncul lebih didorong oleh perbedaan pendapat dan persepsi, serta beredarnya informasi yang belum diklarifikasi secara menyeluruh. “Informasi yang belum diklarifikasi dengan tuntas itu jadinya fitnah. Maka harus diklarifikasi sampai tuntas supaya tidak ada lagi fitnah,” ujarnya.
3 Hari Waktu Melepas Jabatan
Sebagai informasi, isu pemakzulan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menjadi perbincangan. Beredar dokumen risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU di Hotel Aston City Jakarta, Kamis (20/11/2025). Dalam risalah rapat yang ditandatangani Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyebutkan, KH Yahya Stquf atau Gus Yahya diberikan waktu tiga hari untuk melepas jabatannya.
“Berdasarkan musyawarah antara Rais Aam dan dua Wakil Ketua Rai Aam memutuskan KH. Yahya Cholil Staquf mundur sebagai Ketua Umum PBNU,” bunyi risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU yang ditandatangani oleh Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar, Jumat, 21 November 2025.
Rapat yang dihadiri 37 dari 53 pengurus Syuriyah itu berlangsung selama tiga jam dan menghasilkan sejumlah keputusan penting terkait dinamika internal organisasi. Salah satu sorotan utama adalah pengundangan narasumber dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) yang diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan Zionisme Internasional.
