19 April 2026
AA1QOYV7.jpg

Agenda Transisi Energi di Electricity Connect 2025

Elektrifikasi dan transisi energi menjadi fokus utama para pemangku kepentingan sektor kelistrikan. Hal ini kembali ditegaskan dalam ajang Electricity Connect 2025 yang digelar pada 19 November 2025 di Jakarta. Forum ini diselenggarakan oleh Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) sebagai wadah diskusi strategis mengenai kebutuhan investasi dan arah pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman P. Hutajulu, menekankan bahwa pemerintah menempatkan isu pemanasan global sebagai perhatian utama. Ia menjelaskan bahwa peta jalan transisi dari energi fosil menuju EBT telah ditetapkan. Menurutnya, sektor ketenagalistrikan harus mampu menjawab “trilema energi”: ketahanan, keterjangkauan, dan keberlanjutan.

“Kita harus memberikan listrik yang cukup, terjangkau, dan berkesinambungan. Jadi, kita harus mendorong EBT ke sistem kita semuanya,” ujar Jisman dalam keterangannya, Kamis (20/11/2025).

Dari sisi utilitas, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, memaparkan bahwa RUPTL 2025–2034 kini menjadi peta jalan transisi energi paling ambisius yang pernah disusun perusahaan. Dalam dokumen tersebut, sebagian besar rencana pembangunan pembangkit—yakni 69,5 GW atau 76% dari total kapasitas baru—akan berasal dari EBT.

Untuk menopang masuknya EBT ke sistem nasional, PLN menargetkan pembangunan 48.000 kilometer sirkuit transmisi dan 109.000 MVA gardu induk. Total kebutuhan investasi hingga sepuluh tahun ke depan diperkirakan mencapai Rp3.000 triliun.

“Dengan transisi energi ini, biaya pokok produksi diharapkan turun, dan ketergantungan pada energi impor bergeser ke pemanfaatan EBT domestik sehingga meningkatkan ketahanan energi,” tambah Darmawan.

Prioritas Pemerintah dalam Kemandirian Energi

Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, menyampaikan bahwa penguatan kemandirian energi menjadi bagian dari agenda prioritas pemerintah. Menurutnya, penyebaran potensi energi Indonesia yang tersebar hingga daerah terpencil justru menjadi kekuatan strategis, meskipun masih terdapat wilayah penghasil energi yang belum menikmati listrik secara optimal.

Ia menambahkan bahwa rencana investasi Rp3.000 triliun pada pembangkit EBT berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi sekitar 1% per tahun.

“Energi ini sangat vital untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8%. Tidak ada cerita pertumbuhan ekonomi 8% tanpa kelistrikan yang kuat,” ujarnya.

Kolaborasi Lintas Pelaku Industri

Ketua Panitia Pelaksana Electricity Connect 2025 sekaligus Sekretaris Jenderal MKI, Arsyadany G. Akmalaputri, mengatakan forum tahun ini membuka ruang kolaborasi lintas pelaku industri untuk memperkuat ekosistem EBT di Asia, termasuk Indonesia.

Agenda tahun ini mencakup plenary session, panel diskusi, workshop, hingga pertemuan bisnis, serta pameran 94 perusahaan yang menampilkan teknologi terbaru di sektor ketenagalistrikan.

“Kami optimis Electricity Connect 2025 akan membuka lebih banyak pintu kolaborasi dan inovasi. Sama seperti tahun lalu, acara ini merupakan Net Zero Emission event,” kata Arsyadany.

Fokus pada Inovasi dan Keberlanjutan

Electricity Connect 2025 tidak hanya menjadi wadah diskusi, tetapi juga menjadi ajang pameran teknologi terkini dalam sektor ketenagalistrikan. Para peserta dapat melihat langsung inovasi yang sedang berkembang, baik dari segi pengembangan EBT maupun infrastruktur pendukung.

Selain itu, forum ini juga menjadi kesempatan bagi pelaku industri untuk membangun jaringan dan memperluas kerja sama dalam upaya mewujudkan sistem kelistrikan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Tantangan dan Peluang di Masa Depan

Meski ada tantangan dalam proses transisi energi, seperti ketersediaan sumber daya dan infrastruktur, Electric Connect 2025 menunjukkan komitmen kuat dari berbagai pihak untuk menghadapi tantangan tersebut. Dengan kolaborasi yang kuat, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu negara yang sukses dalam transisi energi.

Para pemangku kepentingan yakin bahwa dengan pendekatan yang tepat, transisi energi akan memberikan manfaat jangka panjang, baik secara ekonomi maupun lingkungan. Dengan demikian, Electricity Connect 2025 menjadi langkah penting dalam mempercepat transformasi sistem kelistrikan Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *