Program Desa Energi Berdikari (DEB) di Tengah Perhelatan COP30
Di tengah perhelatan Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30), program Desa Energi Berdikari (DEB) yang digagas oleh PT Pertamina (Persero) mendapatkan perhatian khusus dari kalangan akademisi di Kota Belém, Brasil. Acara ini berlangsung di Universidade Federal Rural de Amazonia (UFRA), tempat mahasiswa dan dosen berkumpul untuk mendiskusikan berbagai isu terkait energi dan lingkungan.
Program DEB menjadi salah satu inisiatif utama Pertamina dalam memperkuat partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan sumber daya energi. Dalam sesi talkshow bertema “From Indonesia to Brazil: How Non-Party Stakeholders Drive Stronger Climate Action”, Senior Expert Environment Policy, Standard & Risk Management PT Pertamina (Persero), Pretty Mayang Arum, menjelaskan secara rinci tentang konsep dan implementasi DEB.
Tujuan dan Visi DEB
Pretty menyatakan bahwa DEB dirancang untuk mempromosikan upaya Pertamina dalam melakukan konservasi energi melalui pemanfaatan energi terbarukan. Tujuannya adalah untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga ketahanan iklim. Program ini menekankan pentingnya partisipasi aktif komunitas dalam menghadapi tantangan lingkungan dan ekonomi.
DEB memiliki tiga tema utama yang telah diimplementasikan di berbagai daerah di Indonesia. Pertama, Desa Pesisir Modern yang dikembangkan di 42 desa. Fokusnya adalah pada penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas nelayan. Kedua, Desa Wisata Energi yang mencakup 54 desa. Program ini mendukung swasembada energi baru terbarukan sambil mengembangkan potensi wisata lokal. Ketiga, Desa Pangan Berkelanjutan yang mencakup 156 desa. Program ini bertujuan untuk meningkatkan hasil panen dari tanaman padi hingga sayuran agar dapat menjaga ketahanan pangan.
Secara keseluruhan, Pertamina telah menerapkan DEB di 252 desa yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Hal ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam memberdayakan masyarakat lokal melalui pendekatan yang berkelanjutan.
Teknologi Adaptif Lokal
Dalam paparannya, Pretty juga menunjukkan bagaimana DEB telah mengadopsi 47 teknologi adaptif lokal berbasis energi terbarukan. Beberapa contohnya termasuk irigasi berbasis soil sensor, mesin produksi pengering padi, serta sistem monitoring Internet of Things (IoT). Teknologi-teknologi ini berkontribusi pada peningkatan akses energi bersih, penguatan ekonomi desa, dan penurunan emisi karbon secara signifikan.
Penerapan teknologi tersebut tidak hanya membantu meningkatkan produktivitas, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Dengan demikian, DEB menjadi contoh nyata bagaimana inovasi teknologi dapat digunakan untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan.
Peluang Kolaborasi Global
Kehadiran Pertamina di COP30 menjadi momentum penting untuk berbagi pengetahuan sekaligus membuka peluang kolaborasi global. Pretty menegaskan bahwa Pertamina mengajak keterlibatan mitra melalui pendanaan bersama untuk sistem energi terbarukan serta teknologi yang diadopsi secara lokal maupun program peningkatan kapasitas berupa pelatihan atau pendampingan program.
Implementasi teknologi tersebut dapat memperluas akses energi bersih sekaligus meningkatkan produktivitas untuk meningkatkan kemandirian desa. Dengan begitu, Pertamina berharap dapat menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.
Kesamaan Budaya dan Geografis
Ia menambahkan bahwa kesamaan kondisi geografis dan budaya antara Indonesia dan Brasil membuka peluang pertukaran pembelajaran yang lebih luas, termasuk kemungkinan kunjungan lapangan dan adopsi teknologi di masa mendatang. Pertamina berharap kolaborasi lintas negara ini dapat mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat peran komunitas lokal dalam mencapai ketahanan energi dan iklim.
Di tempat terpisah, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menambahkan bahwa langkah Pertamina dalam mengekspose DEB ke berbagai stakeholder merupakan upaya untuk menggambarkan ragam budaya bangsa, sekaligus pemanfaatan energi transisi di Indonesia.
“Dalam kegiatan COP30, Pertamina banyak melakukan diskusi dan berbagi informasi dengan para stakeholder, terutama terkait energi transisi dan upaya menjaga perubahan iklim. Interaksi antara Pertamina dengan para stakeholder, seperti akademisi di Belém ini, diharapkan dapat memberi paradigma baru untuk pengembangan DEB ke depan,” jelas Baron.