Penemuan Mikroplastik dalam Air Hujan di Surabaya Memicu Kekhawatiran
Temuan mikroplastik dalam air hujan di Kota Surabaya, yang dilaporkan oleh para peneliti dan aktivis lingkungan, kembali menimbulkan kekhawatiran publik. Hal ini disebabkan karena kemungkinan adanya dampak negatif terhadap kesehatan manusia. Sebagai respons terhadap isu ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) akan melakukan pengkajian terkait fenomena hujan yang diduga mengandung mikroplastik.
Kepala DLH Kota Surabaya, Dedik Irianto, menjelaskan bahwa pengujian tersebut bertujuan untuk memverifikasi apakah air hujan di Surabaya benar-benar mengandung mikroplastik. Menurutnya, kota-kota besar seperti Surabaya memiliki risiko tinggi terhadap kontaminasi mikroplastik, baik di air maupun udara.
“Kita perlu mengungkap apakah benar ada mikroplastik dalam air hujan. Kota-kota metropolitan memang rentan terhadap masalah ini,” ujarnya.
Dedik menyebutkan bahwa sumber mikroplastik bisa berasal dari berbagai aktivitas. Contohnya adalah sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik, pembakaran sampah yang tidak terkontrol, serta gesekan ban kendaraan dengan permukaan jalan. Ia juga menyebut bahwa masih banyak warga yang membakar sampah di lingkungan rumah mereka, yang bisa menjadi penyumbang utama mikroplastik.
Menurut Dedik, ada dua kemungkinan mikroplastik dapat terbawa oleh hujan. Pertama, partikel mikroplastik sudah ada di udara lalu menempel pada tetesan air hujan. Kedua, mikroplastik sudah terkandung dalam awan yang dibawa angin ke Surabaya.
“Jika awan mengandung mikroplastik, itu bisa saja berasal dari daerah lain. Namun, kita tetap akan melakukan pengujian untuk memastikan kondisi di Surabaya,” tambahnya.
Pengujian Dilakukan dengan Kolaborasi Lembaga Terakreditasi
Dalam waktu dekat, DLH Kota Surabaya akan melakukan pengujian terhadap air hujan. Untuk memastikan akurasi hasil, Pemkot akan bekerja sama dengan lembaga terakreditasi dan perguruan tinggi.
Hasil riset yang dilakukan oleh Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Growgreen, River Warrior, dan Ecoton menempatkan Surabaya di posisi ke-6 secara nasional dalam hal kontaminasi mikroplastik. Riset ini dilakukan selama periode 11-14 November 2025 di tujuh lokasi, yaitu Darmawangsa, Ketintang, Gunung Anyar, Wonokromo, HR Muhammad, Tanjung Perak, dan Pakis Gelora.
Para peneliti menggunakan wadah aluminium, stainless steel, dan mangkok kaca dengan diameter 20-30 cm. Wadah tersebut ditempatkan pada ketinggian lebih dari 1,5 meter selama 1-2 jam untuk mengumpulkan partikel mikroplastik.
Wilayah dengan Tingkat Kontaminasi Tertinggi
Berdasarkan grafik hasil penelitian, wilayah di Surabaya yang paling tercemar adalah Pakis Gelora dengan 356 partikel mikroplastik per liter. Diikuti oleh Tanjung Perak dengan 309 PM/liter, HR Muhammad dengan 135 PM/liter, Wonokromo dengan 77 PM/liter, Gununganyar dengan 66 PM/liter, Ketintang dengan 48 PM/liter, dan Dharmahusada dengan 24 PM/liter.
Hasil ini menunjukkan bahwa masalah mikroplastik bukanlah isu kecil yang bisa diabaikan. Kehadirannya dalam air hujan memicu kebutuhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah dan perlindungan lingkungan. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan lembaga peneliti, harapan besar diarahkan untuk menciptakan solusi jangka panjang guna mengurangi risiko kesehatan akibat paparan mikroplastik.