Tantangan Mencapai Target Bauran EBT di Indonesia
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa target bauran listrik dari energi baru terbarukan (EBT) sebesar 15,9 persen pada tahun 2025 akan sangat sulit dicapai. Hingga Oktober 2025, kapasitas listrik berbasis energi bersih baru hanya mencapai 14,4 persen dari total kapasitas nasional.
Menurut Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno, capaian tersebut menunjukkan bahwa target yang ditetapkan masih jauh dari realisasi. Ia menjelaskan bahwa dari total kapasitas EBT yang ada, tenaga air menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi lebih dari 7 persen. Disusul oleh biomassa sebesar 3 persen, panas bumi 2,6 persen, surya 1,3 persen, dan bayu 0,1 persen. Sementara itu, pembangkit EBT lainnya masih memiliki kontribusi yang relatif kecil.
Potensi dan Tantangan EBT di Indonesia
Capaian tersebut menggambarkan dua hal penting. Pertama, Indonesia memiliki sumber daya EBT yang besar, tetapi percepatan pengembangannya masih perlu ditingkatkan agar sejajar dengan negara-negara maju dalam transisi energi. Kedua, sistem pembangkit nasional masih sangat bergantung pada energi fosil, terutama batu bara, yang hingga kini menjadi sumber utama pasokan listrik nasional.
Tri menekankan bahwa pihaknya belum bisa sepenuhnya meninggalkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) karena perannya masih penting untuk menjaga keandalan sistem. Meskipun kebijakan dekarbonisasi terus menguat di tingkat nasional maupun global, proses transisi energi tidak bisa dilakukan secara cepat.
Peran Pembangkit Berbahan Bakar Gas
Pembangkit berbahan bakar gas juga masih memegang peranan penting karena sifatnya yang fleksibel. PLTG dapat menyesuaikan beban listrik dan berfungsi sebagai penyeimbang, terutama saat kebutuhan meningkat atau saat produksi listrik dari EBT seperti surya dan bayu menurun.
Perjuangan Menuju Energi Bersih
Tri menambahkan bahwa capaian EBT sebesar 14,4 persen saat ini merupakan hasil dari perjuangan panjang. Pembangunan PLTA di wilayah pedalaman menghadapi banyak tantangan, eksplorasi panas bumi berisiko tinggi karena sebagian besar berada di kawasan hutan, sementara PLTS memang cepat dibangun tetapi sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Ia menilai bahwa perjuangan menuju energi bersih masih panjang. Diperlukan percepatan investasi, infrastruktur, dan dukungan teknologi agar target bauran energi bisa tercapai.
Capaian Kapasitas Pembangkit Listrik Nasional
Hingga Oktober 2025, kapasitas pembangkit listrik nasional mencapai 107 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, listrik dari EBT baru mencapai 14,4 persen atau sekitar 15,47 GW. Adapun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan batubara masih mendominasi dengan porsi 55,1 persen atau sekitar 59,07 GW.
Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL)
Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW. Dari jumlah itu, EBT mendominasi sebesar 42,6 GW atau 61 persen, diikuti sistem penyimpanan energi (energy storage) sebesar 10,3 GW (15 persen) dan energi fosil sebesar 16,6 GW (24 persen).
Porsi EBT dalam bauran listrik nasional akan meningkat secara bertahap. Pada 2025, EBT ditargetkan mencapai 15,9 persen, naik menjadi 21 persen pada 2030. Setelah itu, peningkatannya diproyeksikan lebih cepat, yakni 26,1 persen pada 2031, 29 persen pada 2032, 32,5 persen pada 2033, dan mencapai 34,3 persen pada 2034.
Strategi Pengembangan EBT
RUPTL tersebut juga menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt selama periode 2025–2034. Dari total itu, 42,6 GW atau 61 persen akan berasal dari pembangkit berbasis EBT. Sementara itu, 10,3 GW (15 persen) dialokasikan untuk sistem penyimpanan energi (storage), dan 16,6 GW (24 persen) sisanya berasal dari energi fosil, terdiri atas gas sebesar 10,3 GW dan batubara sebesar 6,3 GW.