26 April 2026
AA1PLEp9.jpg

Respons Cepat Pemerintah Provinsi Jabar terhadap Kebocoran Atap Sekolah

Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera merespons insiden robohnya atap 5 ruang kelas di SMKN Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Kejadian ini terjadi pada Senin (3/11/2025) lalu setelah dahan pohon besar menimpa atap hingga mengakibatkan kerangka baja ringan bangunan tersebut runtuh.

Kadisdik Jabar, Purwanto, yang meninjau langsung lokasi kejadian bersama Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) Disdik Jabar, Edy Purwanto, menjelaskan bahwa kejadian ini menyebabkan 41 siswa mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, 5 siswa masih dalam observasi karena mengalami cedera patah tulang.

Menurut Purwanto, seluruh biaya pengobatan korban akan ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Jabar dan Pemerintah Kabupaten Bogor. Ia juga menegaskan bahwa amanat Gubernur Jabar jelas, yaitu memastikan anak-anak sehat kembali, ruang kelas segera dibangun, dan pembelajaran bisa berjalan seperti semula.

Langkah-langkah Penanganan Darurat

Untuk memastikan proses belajar tidak terganggu, Disdik Jabar telah menyiapkan skema pembelajaran daring bergilir bagi siswa. Sementara itu, kepala sekolah diminta segera menyusun jadwal dan langkah penenangan bagi peserta didik.

Kadisdik juga menargetkan koordinasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jabar dan Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Jabar tuntas dalam waktu satu minggu agar pembangunan ruang kelas dapat segera dimulai.

Selain langkah tanggap darurat, Disdik Jabar juga mengambil langkah pencegahan dengan meminta sekolah-sekolah melakukan mitigasi terhadap cuaca ekstrem. Pohon-pohon besar di sekitar ruang belajar segera dipangkas atau ditebang dan bangunan yang dinilai tidak layak harus dikosongkan sementara.

“Setiap sekolah harus waspada terhadap risiko hujan dan angin kencang. Kondisi seperti ini harus dimitigasi dengan baik,” tegas Kadisdik.

Apresiasi atas Respons Cepat Pihak Terkait

Kadisdik juga menyampaikan apresiasi kepada BPBD, damkar, polsek, danramil, kecamatan, dan dinkes setempat atas respons cepat dalam membantu proses evakuasi dan penanganan di lapangan.

“Alhamdulillah, penanganan berjalan cepat. Semua pihak bergerak bersama memastikan keamanan dan keselamatan siswa menjadi prioritas,” katanya.

Selain itu, SMKN Gunung Putri akan melakukan pertemuan dengan wali murid untuk menjelaskan kejadian yang menimpa gedung sekolah serta sosialisasi mekanisme pembelajaran sementara.

Tanggapan dari Gubernur Jabar

Sebelumnya, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa musibah ini menjadi pengingat bahwa masih banyak sekolah di Jawa Barat yang kualitas bangunannya belum memenuhi standar.

“Salah satu pekerjaan rumah di Jawa Barat adalah banyaknya sekolah menengah kejuruan atau SMA yang kualitas pembangunannya di bawah standar. Sehingga ketika ada angin kencang, hujan deras berakibat pada robohnya sekolah tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, Pemprov Jabar akan segera membangun kembali ruang-ruang kelas dengan konstruksi yang lebih berkualitas dan aman bagi kegiatan belajar. “Dalam waktu cepat kami ingin membangun kembali sekolah tersebut dengan ruang kelas yang lebih berkualitas,” ucap Dedi.

Atas kejadian ini, Dedi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan pihak sekolah. Ia memastikan langkah-langkah penanganan sudah dilakukan sejak laporan diterima.

Kronologi Lengkap Kebocoran Atap

Dalam keterangan tertulisnya, Plt. Kepala SMKN Gunung Putri, Nani Yulianti, menjelaskan kronologi lengkap kejadian. Ia menyebut, semula kondisi Gedung R yang terdiri dari 5 ruang kelas (XI las 3, XII las 1, XII las 2, XII mesin 2, dan XI mesin 2) dalam keadaan kondusif tanpa tanda-tanda kerusakan.

Saat hujan lebat disertai angin kencang melanda sekitar pukul 14.00 WIB, kemudian pada pukul 14.40 WIB, pohon mangga di belakang gedung tumbang dan menimpa atap ruang 21, menyebabkan runtuhnya atap di empat ruang lainnya (ruang 17–20).

“Sebagian siswa saat itu sedang praktik di bengkel dan melakukan pemeriksaan kesehatan di pendopo. Setelah kejadian, siswa yang terdampak segera dievakuasi ke UKS dan dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” sebutnya.

Evakuasi pun dilakukan dengan bantuan ambulans Puskesmas Gunung Putri dan ambulans Desa Wanaherang, dibantu oleh BPBD, Damkar, Polsek, Danramil, dan Dinkes Kabupaten Bogor.

Dia merinci, 19 siswa dirawat di Puskesmas Gunung Putri, 17 di RS Griya Kenari Medika, 3 di RSUD Cileungsi, dan 2 siswa di RS Hermina. Saat ini, seluruh siswa yang telah dirawat di Puskesmas Gunung Putri dan RS Griya Kenari Medika sudah diperbolehkan pulang ke rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *