Kehidupan Seorang Penjual Jamu Tradisional di Tolitoli
Dua puluh tahun yang lalu, setiap pagi, sosok seorang perempuan dengan langkah pelan tapi mantap sering terlihat berjalan di jalanan kecil di Kota Cengkeh. Di punggungnya, tergantung botol-botol kaca berisi cairan berwarna kuning, cokelat, dan merah bata — jamu tradisional racikannya sendiri. Ia dikenal sebagai Ibu Far, nama yang disebut oleh warga setempat.
Kini, dua dekade kemudian, langkah kaki itu telah berganti dengan deru mesin motor bebek. Dulu, jamu-jamu tersebut dibawa dalam gendongan, kini ia menyimpannya dalam boks kecil di belakang kendaraan. Meskipun begitu, Ibu Far tetap menjajakan jamu yang sama: kunyit asam, beras kencur, hingga sinom — resep turun-temurun yang tidak pernah ia ubah.
“Dulu saya jalan kaki, kadang naik sepeda ontel,” ujarnya sambil tersenyum di halaman kantor pemerintah daerah Tolitoli, Kamis (23/10). “Sekarang alhamdulillah sudah bisa naik motor. Jauh lebih ringan.”
Ia mengenakan jilbab sederhana berwarna krem, dengan tangan yang masih gesit menuang jamu ke gelas plastik. Sesekali ia berhenti melayani pelanggan yang datang menghampiri. Beberapa dari mereka adalah wajah lama yang mengenalnya sejak masa ketika jamu dijajarkan dari rumah ke rumah.
Ibu Far tinggal di Kompleks Kampung Jawa, Kelurahan Baru. Baginya, jamu bukan hanya sekadar sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari perjalanan hidupnya. Ia memulai usaha ini ketika anak pertamanya baru belajar berjalan. Kini, ketiga anaknya telah dewasa, sebagian sudah bekerja di luar kota.
“Anak-anak sering bilang, ‘Bu, istirahat saja.’ Tapi saya bilang, kalau berhenti jualan, saya justru sakit,” katanya, tertawa kecil. “Sudah terbiasa bangun pagi, merebus rempah, lalu keliling.”
Setiap pagi, aroma jahe dan serai memenuhi dapurnya. Dengan modal sekitar Rp100 ribu, ia bisa memproduksi puluhan botol jamu. Hasilnya dijual dengan harga Rp5.000 per gelas — cukup terjangkau, tapi tetap memberi keuntungan yang layak.
“Kalau habis semua, bisa dapat tiga ratus ribuan sehari,” ujarnya sambil menutup botol jamu dengan kain serbet bersih. “Yang penting sabar dan jaga rasa.”
Jamu Ibu Far digemari berbagai kalangan — dari ibu rumah tangga hingga pegawai kantor. Bagi sebagian pembelinya, jamu itu bukan sekadar minuman, tapi nostalgia akan masa kecil dan keseharian yang kian jarang disentuh tradisi.
Di tengah derasnya minuman kemasan dan kopi modern, kehadiran Ibu Far adalah pengingat hal-hal sederhana yang perlahan menghilang dari ruang kota kecil. Ia menjual keaslian, bukan kemasan; kehangatan, bukan sekadar minuman.
Saat ditanya apakah ia pernah terpikir untuk berhenti, Ibu Far menggeleng. “Selama masih kuat, saya akan tetap jualan jamu,” ujarnya mantap. “Karena ini bukan cuma soal uang, tapi tentang menjaga warisan.”
Di bawah sinar matahari Tolitoli yang mulai condong sore itu, motor tuanya kembali melaju pelan. Botol-botol jamu bergoyang lembut di belakangnya — seperti kenangan yang tak pernah tumpah, terus menyatu dengan denyut kehidupan kota kecil di pesisir Sulawesi Tengah.