22 April 2026
AA1HEAe2.jpg


SEPUTAR CIBUBUR

– Nama Gereja Satu Jam Saja (GSJS) barangkali terdengar unik dan bahkan kontroversial.

Namun di balik penamaannya, tersimpan makna spiritual yang mendalam. Didirikan pada tahun 2010 oleh Pendeta Dr. Samuel Gunawan, M.Th., S.Th., gereja ini lahir dari perenungan mendalam atas sebuah ayat dalam Alkitab, tepatnya Matius 26:40: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?”

Ayat tersebut menjadi titik awal inspirasi pendirian GSJS. Pendeta Samuel menyebut bahwa ketika membaca ayat itu, ia merasa mendapat dorongan batin yang kuat untuk membangun sebuah gereja yang menekankan kekuatan ibadah satu jam dalam hadirat Tuhan.

Dari situlah, nama Gereja Satu Jam Saja lahir dan menjadi identitas khas gereja ini.

Konsep tersebut bukan semata soal durasi, tapi juga tentang kualitas dan intensitas hubungan dengan Tuhan dalam waktu yang terbatas.

Menurut Samuel, satu jam yang sungguh-sungguh digunakan untuk berdoa dan menyembah dapat membawa dampak besar bagi kehidupan rohani jemaat.

GSJS memulai pelayanannya di Gramedia Expo, Jalan Basuki Rahmat, Surabaya, dengan ibadah setiap hari Minggu.

Hanya dalam waktu lima bulan, gereja ini berhasil menarik perhatian masyarakat Surabaya dan sekitarnya.

Jumlah jemaat yang membeludak membuat GSJS menggelar hingga 10 sesi ibadah setiap Minggu, jauh di atas rata-rata gereja lain yang biasanya hanya 4–5 sesi.

Di tengah masyarakat modern yang serba sibuk, konsep satu jam ibadah ini dianggap relevan. Pendeta Samuel menargetkan mereka yang membutuhkan pelayanan rohani tanpa harus mengorbankan terlalu banyak waktu, tetapi tetap memperoleh kekuatan dan pemulihan spiritual.

Namun, seiring berjalannya waktu, durasi ibadah GSJS mengalami pergeseran. Beberapa video dokumentasi di kanal YouTube gereja menunjukkan bahwa ibadah GSJS, terutama di lokasi seperti Pakuwon Mall, kini bisa berlangsung hingga hampir 2 jam. Fenomena ini memicu pertanyaan: apakah GSJS masih setia pada visi awalnya?

Beberapa jemaat mengaku lebih puas dengan ibadah yang lebih panjang karena memberi ruang lebih dalam menyembah dan merenungkan firman.

Meski begitu, semangat awal pendirian gereja ini tetap menjadi pijakan. Nama “Satu Jam Saja” bukan sekadar label, tetapi sebuah pengingat bahwa waktu sesingkat apapun bisa menjadi berarti jika dijalani dengan sungguh-sungguh dalam iman.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *