Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra, menyatakan bahwa kepergian diplomat senior dan ahli hukum laut internasional Indonesia, Hasjim Djalal, merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. “Nama Hasjim tak akan pernah terlupakan dalam sejarah diplomasi dan perjuangan menegakkan kedaulatan Indonesia di laut serta penerimaan dunia atas konsep negara kepulauan yang digagas oleh almarhum,” kata Yusril di Jakarta, Senin.
Hasjim Djalal, yang pernah menjadi Duta Besar Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kanada, dan Jerman, juga dikenal sebagai akademisi yang mendalami hukum laut, bagian dari hukum internasional. “Pemikiran beliau bersama almarhum Prof. Mochtar Kusumaatmadja sangat besar dalam penyusunan UNCLOS atau Konvensi PBB tentang Hukum Laut,” tambah Yusril.
Yusril mengungkapkan bahwa Hasjim merupakan tipe manusia pembelajar tanpa henti. “Saya sering bertemu Hasjim di toko buku, baik di Jakarta maupun di Singapura,” tuturnya.
Hasjim Djalal wafat pada usia 90 tahun di Jakarta, Minggu (12/1) pukul 16.40 WIB, dan akan dimakamkan hari ini di rumah duka Jalan Taman Cilandak III, Jakarta Selatan. Hasjim merupakan diplomat senior Indonesia yang pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk PBB (1981-1983), Kanada (1983-1985), dan Jerman (1990-1993).
Ia berperan penting dalam penyusunan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) yang disahkan pada tahun 1982. Bersama Menteri Luar Negeri RI saat itu, Mochtar Kusumaatmadja, Hasjim memperjuangkan gagasan negara kepulauan dan wawasan nusantara agar diakui komunitas internasional.