24 April 2026
AA219BBX.jpg



Pertumbuhan sektor manufaktur Indonesia pada kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan peningkatan yang signifikan. Indikator utamanya, yaitu Prompt Manufacturing Index (PMI), mencatatkan angka sebesar 52,03%, meningkat dari capaian kuartal sebelumnya yang berada di level 51,86%. Meskipun demikian, ada satu hal yang perlu diperhatikan, yaitu tidak adanya peningkatan signifikan dalam jumlah tenaga kerja yang diserap oleh industri tersebut.

Kinerja Industri Manufaktur dan Tantangan Serapan Tenaga Kerja

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), PMI kuartal I/2026 menunjukkan pertumbuhan ekspansif. Namun, komponen terkait jumlah tenaga kerja justru mengalami penurunan, turun menjadi 48,76% dari sebelumnya yang sebesar 48,80%. Hal ini menunjukkan bahwa meski produksi meningkat, sektor manufaktur belum mampu memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk., Josua Pardede, menjelaskan bahwa anomali ini menunjukkan bahwa pemulihan produksi saat ini belum bersifat padat karya. “Pabrik memang menambah output, tetapi tambahan output itu banyak ditopang oleh penggunaan kapasitas yang sudah ada, pengelolaan persediaan, dan efisiensi proses kerja, bukan oleh penambahan tenaga kerja baru,” ujarnya.

Faktor Penyebab Pemulihan Tanpa Peningkatan Tenaga Kerja

Josua menjelaskan bahwa peningkatan PMI didorong oleh beberapa komponen utama, seperti volume produksi yang naik hingga 54,07%, volume persediaan barang jadi yang meningkat 54,43%, serta volume total pesanan yang mencapai 53,20%. Hal ini sejalan dengan temuan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang menunjukkan bahwa aktivitas usaha meningkat, tetapi banyak perusahaan lebih memilih mengoptimalkan proses kerja daripada merekrut tenaga kerja baru.

Menurut Josua, keengganan pelaku industri untuk menambah karyawan juga dapat dipahami dalam konteks tantangan global saat ini. Ia merujuk pada rilis PMI Manufaktur S&P Global pada Maret 2026 yang menunjukkan tekanan harga bahan baku dan ancaman gangguan rantai pasok akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Dalam situasi seperti ini, perusahaan cenderung memilih untuk menahan rekrutmen dan memperketat biaya, meskipun aktivitas produksi masih berada di zona ekspansi.

Perubahan Struktur Industri dan Sikap Perusahaan

Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai fenomena ini sangat dipengaruhi oleh perubahan struktur industri dan langkah kehati-hatian perusahaan pasca-badai pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam dua tahun terakhir. Menurutnya, kenaikan produksi saat ini lebih banyak didorong oleh sektor-sektor yang tidak bersifat padat karya atau memiliki siklus musiman.

Misalnya, lonjakan produksi industri makanan dan minuman terjadi karena momentum Lebaran, sementara industri alas kaki dan percetakan telah melakukan penyesuaian efisiensi sebelumnya untuk meningkatkan produktivitas. “Jadi ketika permintaan naik sedikit, pabrik cukup mengoptimalkan kapasitas yang ada, seperti melalui lembur atau shifting, tanpa perlu melakukan rekrutmen,” kata Yusuf.

Sikap Wait and See dan Ketidakpastian Global

Perusahaan-perusahaan yang telah merampingkan postur tenaga kerjanya sejak 2024 masih bersikap wait and see. Yusuf menjelaskan bahwa ketika pesanan mulai kembali masuk, respons pelaku usaha cenderung memaksimalkan produktivitas pekerja yang ada daripada membuka lowongan kerja baru. Langkah ini dianggap sebagai pilihan bisnis yang paling rasional di tengah ketidakpastian global saat ini.

Di sisi lain, Yusuf juga menyoroti adanya pergeseran komposisi industri di dalam negeri. Sektor-sektor yang secara tradisional menjadi lumbung penyerap tenaga kerja massal, seperti industri tekstil, saat ini kondisinya masih lesu. Sementara itu, pertumbuhan justru dipimpin oleh sektor-sektor dengan rasio penggunaan tenaga kerja yang jauh lebih kecil.

“Pemulihan output tidak otomatis berarti pemulihan lapangan kerja. Jadi, headline PMI terlihat sehat, tapi kandungan penciptaan kerjanya tipis,” tutup Yusuf.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *