19 April 2026
AA1ZTilk.jpg

Ramadan Runway 2026 Menutup Pameran dengan Omzet Rp7,9 Miliar

Perhelatan mode Ramadan Runway 2026 telah resmi ditutup setelah berlangsung selama hampir tiga minggu, dari tanggal 5 hingga 29 Maret 2026. Acara yang digelar di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, berhasil mencatatkan omzet sebesar Rp7,9 miliar. Angka ini menjadi bukti bahwa meski dalam situasi ekonomi yang sedang lesu, industri kreatif khususnya fesyen masih tetap menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan.

Ketua APPMI DKI Jakarta, Dana Duriyatna, mengungkapkan bahwa penurunan omzet tahun ini tidak terlalu signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menilai hal ini dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global yang membuat masyarakat lebih waspada dalam menghabiskan uang untuk kebutuhan Ramadan dan Idulfitri.

“Di tengah situasi geopolitik global yang memengaruhi perekonomian dalam negeri, penurunan omzet ini tidak jauh dari tahun sebelumnya. Namun, ini menunjukkan bahwa industri kreatif khususnya fashion masih memiliki potensi yang kuat,” kata Dana.

Lebih dari 70 peserta pameran turut berpartisipasi dalam acara ini, memberikan kontribusi besar dalam memeriahkan perhelatan fesyen tersebut. Dana mengaku bangga dengan pencapaian ini, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit.

“Kami optimistis bahwa fesyen dapat menyumbang perekonomian melalui sektor industri kreatif dalam Produk Domestik Bruto (PDB),” ujarnya.

Persembahan Khusus untuk Para Desainer Legendaris

Pada penutupan acara, disajikan sebuah fashion show tribute khusus untuk mengenang para desainer legendaris Indonesia. Parade busana ini menampilkan karya-karya abadi dari mendiang Hengki Kawilarang, Handy Hartono, Sikie Purnomo, Ramli, Anne Rufaidah, dan Raizal Rais. Selain itu, koleksi dari Harry Ibrahim, Marga Alam, Eddy P Chandra, Tari Mande, Arthur Harlan, serta Jondri Erman juga turut dipamerkan.

Dana Duriyatna menilai peragaan busana para maestro ini berfungsi sebagai pengingat bagi seluruh ekosistem mode di tanah air. Ia menegaskan bahwa Indonesia pernah memiliki para perancang terbaik yang memiliki keunikan dan meninggalkan warisan atau legacy yang kuat.

Namun, pihak APPMI DKI Jakarta mengakui adanya tantangan dalam mencari kembali koleksi asli dari para desainer legendaris tersebut. Dana menyebut bahwa pihaknya melakukan pendekatan kepada berbagai pihak untuk meminjam koleksi busana bersejarah itu.

“Cukup sulit mencari koleksi para desainer legendaris Indonesia tersebut. Kami bahkan harus meminjam kepada Mien R Uno untuk koleksi Ramli dan Marga Alam. Lalu, untuk koleksi Sikie Purnomo meminjam kepada Vina Panduwinata, kemudian koleksi Handy Hartono lantas meminjam dari mantan Konjen RI di Houston, Rika Siregar,” imbuh Dana.

Menghargai Kontribusi Orang-orang di Balik Layar

Melalui peragaan Ramadan Runway, kontribusi besar dari orang-orang di balik layar tersebut diharapkan tetap abadi. Acara ini dipandang sebagai salah satu wadah terbaik dengan momentum yang tepat untuk mengapresiasi karya besar para perancang mode yang telah tiada.

Dengan hadirnya perhelatan ini, diharapkan semangat dan warisan para desainer legendaris tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi muda di bidang fesyen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *