22 April 2026
AA1VBW9k.jpg

Produksi Padi di Sumsel Diprediksi Meningkat

Pada periode Januari hingga Maret 2026, produksi padi di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) diprakirakan mengalami peningkatan sebesar 0,23% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Hal ini disampaikan oleh Statistisi Ahli Madya Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Tituk Indrawati.

Menurut data yang dirilis, produksi padi pada tiga bulan awal tahun ini diperkirakan mencapai 1,27 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), atau naik sebesar 2,97 ribu ton dibandingkan dengan periode sebelumnya. “Kenaikan ini merupakan potensi atau angka sementara yang dihitung berdasarkan luas panen yang ada pada periode tersebut,” ujarnya.

Tituk menjelaskan bahwa angka sementara ini juga mempertimbangkan rata-rata produktivitas subround I tahun 2024-2025. Dalam hal ini, BPS mencatat bahwa total produksi padi Sumsel pada periode Januari hingga Desember 2025 mencapai 3,63 juta ton GKG, meningkat sebesar 24,67% dibandingkan dengan produksi pada tahun 2024 yang sebesar 2,91 juta ton GKG. Jika dikonversi ke beras, jumlahnya mencapai 2,08 juta ton.

Selain itu, luas panen padi di Sumsel pada tahun 2025 juga mengalami kenaikan sebesar 22,11% menjadi 636,32 ribu hektare, dari luas panen tahun 2024 yang seluas 521,09 ribu hektare. Tren kenaikan ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga triwulan pertama tahun 2026 dengan angka potensi mencapai 217,04 ribu hektare, atau meningkat sebesar 4,25 ribu hektare dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.

“Kenaikan ini didukung oleh berbagai upaya yang telah dilaksanakan seperti optimalisasi lahan maupun program cetak sawah yang berlanjut di tahun ini,” kata Tituk.

Upaya untuk Meningkatkan Produksi dan Luas Panen

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel, Bambang Pramono, menyampaikan bahwa pada tahun 2026, Sumsel mengusulkan adanya kenaikan alokasi pupuk subsidi jenis NPK menjadi 279.000 ton. Usulan ini tidak hanya bertujuan untuk mendukung produksi padi, tetapi juga sejalan dengan strategi daerah dalam mendorong peningkatan produksi dan perluasan luas panen.

“Harapan kami adalah peningkatan usulan alokasi pupuk ini dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga terjadi peningkatan produksi dan luas panen secara akumulatif,” ujar Bambang.

Lebih lanjut, Bambang juga mengklaim bahwa pihaknya akan kembali melakukan intervensi benih untuk pertanaman seluas 200 ribu hektare. Langkah ini dilakukan dalam rangka mendorong target produksi padi di wilayah tersebut yang dipatok mampu mencapai angka 4 juta ton pada tahun ini.

“Kita akan intervensi benih melalui sumber pembiayaan APBN, APBD provinsi dan kabupaten/kota,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *