Upaya Meningkatkan Literasi dan Numerasi Siswa SD di Kabupaten Tegal
Kemampuan literasi dan numerasi siswa sekolah dasar di Kabupaten Tegal masih menjadi tantangan yang perlu segera diatasi. Hasil Asesmen Nasional menunjukkan bahwa tidak sedikit murid yang belum mencapai kompetensi dasar dalam membaca dan matematika. Di sisi lain, praktik pembelajaran di kelas masih didominasi metode konvensional, dengan keterbatasan pemanfaatan pendekatan inovatif dan teknologi pembelajaran.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, upaya peningkatan kapasitas guru dilakukan agar mampu menyajikan pembelajaran yang lebih relevan, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan siswa abad ke-21. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui kolaborasi Tanoto Foundation bersama Pemerintah Kabupaten Tegal melalui kelompok fasilitator daerah bernama Tim Lintang Edukasi.
Tim Lintang Edukasi terdiri atas para pendidik dan kepala sekolah di Kabupaten Tegal, antara lain Dede Munalip, S.Pd., M.Pd., Kepala SDN Pasangan 02; Fetiatul Khapidoh, S.Pd., Guru SDN Lebakgowah 01; Upiek Salamah, S.Pd., Kepala SDN Kalisalak 03; Nur Aripiyah, S.Pd., Kepala SDN Gumalar 02; serta Kusnaeni, S.Pd., M.Pd., Kepala SDN Kajen 02.
Program pelatihan dan pendampingan pembelajaran berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang diintegrasikan dengan pendekatan pembelajaran mendalam menjadi fokus utama. Program ini menyasar guru sekolah dasar untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna, kreatif, dan berpusat pada murid.
Program tersebut dilaksanakan pada periode 1 Juli hingga 22 Oktober 2025, dengan sasaran 42 sekolah dasar dan 50 guru di Kabupaten Tegal. Salah satu sekolah yang terlibat dalam program ini adalah SDN Pesayangan 02, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
Kepala SDN Pasangan 02 sekaligus ketua Tim Lintang Edukasi, Dede Munalip, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang sebagai respons atas masih belum maksimalnya kemampuan literasi dan numerasi siswa di sejumlah sekolah.
“STEM kami pilih karena merupakan strategi pembelajaran multidisipliner yang memungkinkan guru mengintegrasikan berbagai mata pelajaran dalam satu kegiatan pembelajaran. Dengan pendekatan ini, literasi dan numerasi tidak diajarkan secara terpisah, tetapi hadir dalam konteks yang nyata dan bermakna bagi siswa,” ujarnya.
Program ini dilaksanakan melalui rangkaian kegiatan berupa dua kali pelatihan pembelajaran literasi dan numerasi berbasis STEM, dilanjutkan dengan pendampingan di kelas, refleksi dan diskusi, serta praktik mengajar antarpeserta untuk saling berbagi pengalaman dan strategi pembelajaran.
Menurut Dede, setelah pelatihan dan pendampingan dilaksanakan, perubahan mulai terlihat di sekolah-sekolah sasaran. Guru menjadi lebih kreatif dalam merancang pembelajaran, lebih percaya diri memanfaatkan media belajar, serta lebih fokus pada pembelajaran yang berpusat pada murid.
“Guru kini lebih mampu mengintegrasikan literasi, numerasi, matematika, dan Bahasa Indonesia dalam satu rangkaian pembelajaran. Siswa juga terlihat lebih antusias, berani menyampaikan pendapat, dan mampu berpikir lebih kritis,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Rosikha, Kepala SDN Pesayangan 02. Menurutnya, pendekatan pembelajaran yang diterapkan melalui program tersebut membuat suasana kelas menjadi lebih hidup dan kondusif.
“Anak-anak menjadi lebih berani mengungkapkan ide, gagasan, dan pendapat. Dampaknya, kepercayaan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah juga semakin meningkat,” katanya.
Sementara itu, Fetiatul Khapidoh, Guru SDN Lebakgowah 01, berharap program tersebut dapat menjaga semangat guru untuk terus mengembangkan pembelajaran literasi dan numerasi secara berkelanjutan.
“Pelatihan ini memberi kami bekal untuk merancang pembelajaran yang lebih kontekstual dan relevan. Harapannya, guru terus termotivasi untuk berinovasi sehingga kemampuan literasi dan numerasi siswa semakin meningkat,” ujarnya.
Dampak program juga dirasakan langsung oleh guru peserta pelatihan. Siti Mariyatul Kiftiyah, Guru SDN Pesayangan 02, mengaku mengalami perubahan dalam cara pandang dan praktik mengajarnya.
“Pembelajaran menjadi lebih aktif dan kreatif. Melalui pendekatan STEM, literasi dan numerasi bisa dikembangkan melalui proyek-proyek sederhana berbasis eksperimen dan pemecahan masalah,” tuturnya.
Perubahan tersebut turut dirasakan oleh para murid di kelas. Irma Khoirunnisa mengaku pembelajaran kini terasa lebih menyenangkan dan mudah dipahami.
“Saya lebih fokus karena medianya menarik,” kata Faqih Syauqi Syafiq.
Hal serupa disampaikan Athaleta Almeera. Ia mengaku kini semakin tertarik untuk membaca dan berhitung melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Sekarang saya jadi lebih suka membaca dan berhitung untuk membandingkan benda-benda di sekitar,” ujarnya.
Salah satu praktik pembelajaran yang diterapkan adalah pengenalan konsep rasio melalui kegiatan pencampuran warna. Melalui aktivitas tersebut, murid diajak untuk bernalar, berpikir kritis, dan memecahkan masalah secara kontekstual.
Melalui program ini, Tim Lintang Edukasi berharap dapat ikut berkontribusi memperkuat ekosistem pembelajaran di sekolah dasar, sekaligus menumbuhkan generasi siswa yang kritis, kreatif, dan tidak lagi takut terhadap matematika.