21 April 2026
AA1TxNfZ.jpg

Prediksi Penguatan Yield SUN di Tahun 2026

Pasar surat utang negara (SUN) di Indonesia diperkirakan akan mengalami penguatan pada paruh pertama tahun 2026. Berdasarkan prediksi dari berbagai analis, kemungkinan besar yield SUN bisa mencapai level di bawah 6%. Hal ini didorong oleh beberapa faktor yang memengaruhi pasar keuangan.

Katalis Penguatan Yield SUN

Ramdhan Ario Maruto, Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa ada sejumlah katalis yang dapat mendorong penguatan yield SUN dalam enam bulan pertama tahun 2026. Salah satu faktor utamanya adalah potensi pemotongan suku bunga acuan.

“Saya cukup yakin di semester pertama 2026, yield SUN bisa kembali di level 5,8–5,9%. Salah satu katalisnya adalah pemotongan suku bunga acuan,” ujar Ramdhan.

Menurut data dari Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), yield obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun telah berada di level 6,16%. Sebelumnya, yield SUN sempat mencapai level tertingginya di posisi 5,93% pada Oktober 2025 silam.

Dampak Likuiditas Domestik

Likuiditas domestik juga menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan yield SUN. Pasar obligasi Indonesia dinilai semakin diminati karena adanya dana yang masih idle di perbankan. Dana tersebut belum terserap secara penuh di sektor industri, sehingga menjadi penggerak bagi yield SUN.

“Dan masih banyak dana idle di perbankan yang belum terserap di sektor industri. Jadi itu yang menjadi penggerak yield kita dan perbankan memang aktif masuk di instrumen-instrumen itu,” kata dia.

Prospek Pasar Obligasi Indonesia

PHEI juga menilai prospek pasar obligasi Indonesia di tahun 2026 cenderung positif. Dari dalam negeri, inflasi yang terjaga dalam target Bank Indonesia (BI) serta stabilitas nilai tukar rupiah pada semester II/2025 memberikan sentimen positif bagi pasar obligasi.

Selain itu, postur fiskal pemerintahan Prabowo-Gibran dengan defisit APBN di 2026 sebesar 2,48% dari PDB dinilai akan meningkatkan permintaan terhadap Surat Berharga Negara (SBN).

“Meski demikian, kepastian arah kebijakan fiskal dan strategi pembiayaan pemerintah akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar,” kata manajemen PHEI dalam keterangannya.

Peran Investor Domestik

Peran investor domestik menjadi sangat krusial dalam menopang pasar obligasi Indonesia. Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian kondisi global yang membuat aliran dana asing lebih minim.

“Penerbitan SBN ritel diperkirakan tetap besar mengingat keberhasilan perluasan pasar investor ritel beberapa tahun terakhir,” kata PHEI.

Dengan berbagai faktor yang mendukung, yield SUN diharapkan dapat stabil dan bahkan meningkat pada tahun 2026. Namun, para pelaku pasar harus tetap waspada terhadap perubahan kebijakan dan situasi ekonomi yang mungkin memengaruhi pasar obligasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *