21 April 2026
AA1wX9Jx.jpg

Hasil Survei Evaluasi Pelaksanaan Program Ditjen Risbang Tahun 2025

Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, baru saja merilis hasil survei evaluasi pelaksanaan program tahun 2025. Survei ini melibatkan sebanyak 5.942 responden yang terdiri dari dosen, peneliti, serta pengelola riset dan pengembangan di perguruan tinggi. Dengan confidence level di atas 95% (sebesar 99%) dan margin of error antara 1–2%, survei ini memberikan gambaran yang cukup akurat mengenai kepuasan sivitas akademika terhadap layanan yang diberikan.

Responden dalam survei ini sebagian besar berasal dari perguruan tinggi akademik (90,0%) dan vokasi (9,9%). Sebagian besar juga berasal dari perguruan tinggi swasta (PTS) sebesar 86%, disusul oleh perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH), perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN BLU), dan perguruan tinggi negeri satker. Wilayah dengan jumlah responden terbanyak adalah Jawa (39,50%), diikuti Bali-Nusa Tenggara (21,37%), Sumatera (19,08%), Sulawesi-Maluku-Papua (17,20%), dan Kalimantan (2,84%).

Tingkat Kepuasan Sivitas Akademika

Hasil survei menunjukkan bahwa skor kepuasan sivitas akademika terhadap layanan Ditjen Risbang mencapai 85,8%. Secara umum, responden memberikan persepsi positif terhadap program Ditjen Risbang. Sebanyak 87,1% responden menyatakan bahwa program tersebut relevan dengan kebutuhan riset dan pengembangan perguruan tinggi, sedangkan 88,1% menilai program mendukung peningkatan kualitas riset, termasuk penguatan talenta, luaran, jejaring, dan dampaknya.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menyampaikan bahwa hasil survei ini menjadi cerminan capaian sekaligus umpan balik strategis bagi Ditjen Risbang. Meski demikian, ia juga menyatakan bahwa pihaknya secara serius mencermati berbagai catatan perbaikan yang disampaikan responden, terutama terkait durasi program, penguatan komunikasi, serta perluasan akses dan partisipasi pada program kolaborasi dan hilirisasi riset.

Efektivitas Mekanisme Pelaksanaan Program

Dari aspek tata kelola, mekanisme pelaksanaan program dinilai berjalan efektif oleh 85,7% responden, dan 80,5% menilai durasi pelaksanaan program sudah memadai. Selain itu, sebanyak 87,7% responden menyatakan bahwa luaran program memberi manfaat bagi dosen, mahasiswa, institusi perguruan tinggi, dan masyarakat.

Penilaian terhadap layanan dan respons Ditjen Risbang tercatat sebesar 83,9%, didukung koordinasi yang efektif dengan perguruan tinggi (85,6%) serta layanan administrasi dan sistem digital seperti BIMA, SINTA, dan Hilirisasi (85,2%). Kanal komunikasi serta kecepatan respons terhadap kendala teknis dan administratif juga dinilai berjalan baik.

Tingkat Pemahaman Terhadap Program

Survei juga menunjukkan tingkat pemahaman terhadap program Ditjen Risbang sebesar 86,1%. Informasi program yang disampaikan melalui kanal resmi dinilai jelas dan memadai (87,9%), sosialisasi program dinilai optimal (86,5%), panduan teknis mudah diakses (87,7%), serta arah kebijakan riset dan pengembangan tersampaikan dengan jelas dan dapat dipahami (85,9%).

Komposisi responden didominasi oleh dosen dengan jabatan fungsional Lektor (49,3%), diikuti Asisten Ahli (20,5%) dan Lektor Kepala (15,8%), sementara sisanya terdiri atas Guru Besar serta dosen yang belum memiliki jabatan fungsional. Dari sisi jabatan struktural, responden mencakup pimpinan LPPM/DRI/DKST/STP dan sejenisnya (17,6%), pimpinan fakultas/dekanat (8,9%), pimpinan perguruan tinggi (8,0%), kategori lainnya (26,6%), serta responden tanpa jabatan struktural (39,0%).

Partisipasi dalam Program

Dari sisi partisipasi, Program Penelitian (BIMA) menjadi program yang paling banyak diikuti (84,5%), disusul Program Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) (46,4%). Keberlanjutan program ke depan masih didominasi oleh pendanaan riset kompetitif (79,9%) dan pendanaan pengabdian kepada masyarakat (68,9%), diikuti kebutuhan penguatan kolaborasi riset nasional dan internasional, hilirisasi riset, serta penguatan talenta.

Area yang Perlu Diperkuat

Di samping capaian tersebut, hasil survei juga mengidentifikasi sejumlah area yang perlu terus diperkuat, antara lain penyesuaian durasi pelaksanaan program, penguatan kanal komunikasi dan kecepatan respons, serta optimalisasi perencanaan dan waktu sosialisasi program. Survei juga mencatat adanya kesenjangan antara tingkat kebutuhan dan partisipasi pada beberapa program strategis, khususnya kolaborasi riset, hilirisasi, dan penguatan talenta.

“Ke depan, Ditjen Risbang akan terus menyempurnakan perencanaan, memperkuat layanan dan sosialisasi, serta memastikan program riset dan pengembangan makin adaptif, inklusif, dan berdampak nyata bagi perguruan tinggi, masyarakat, dan pembangunan nasional,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *