22 April 2026
AA1RGg1N.jpg

Pengalaman Warga Saat Bencana Longsor di Desa Sibalanga

Seorang warga Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Dennis Sitompul (56) menceritakan pengalamannya saat bencana longsor terjadi beberapa waktu lalu. Longsor terjadi dua kali dalam waktu berdekatan, yang pertama pada Selasa (25/11/2025) pukul 23.00 WIB dan yang kedua pada Rabu (26/11/2025) pukul 02.00 WIB.

Pada kejadian pertama, dua unit rumah tertimbun material longsor, serta penghuni rumah dan pelintas yang sedang beristirahat di depan rumah tersebut tertimbun. Masyarakat langsung berhamburan dari rumah dan mencari tempat yang paling aman.

Masyarakat berkumpul di Gereja HKBP Sibalanga setelah kejadian yang pertama pada Selasa (25/11/2025) pukul 23.00 WIB. Ada dua rumah yang tertimpa longsor saat itu dan dinyatakan seluruh penghuni rumah itu meninggal dunia. Hingga saat ini, satu di antara mereka belum ditemukan.

Warga sekitar panik dan tidak tahu kemana akan pergi menyelamatkan diri. Sebagian dari mereka berlari ke rumah tetangga, sebagian lagi berlari menuju Gereja HKBP Sibalanga yang berada di daerah perbukitan desa tersebut.

“Sebagian warga sekitar sudah mengungsi ke rumah warga lainnya atau keluarganya, yakni ke tempat yang lebih aman. Setelah itu, menyusul longsor yang kedua pada Rabu (26/11/2025) pukul 2.00 WIB,” tuturnya.

Setelah kejadian itu, warga berhamburan dari rumah dan mengungsi ke Gereja HKBP Sibalanga ini. Penentuan gereja ini menjadi posko adalah inisiatif kades setelah meminta izin dari pihak gereja.

Sejak kejadian, bantuan terus mengalir ke desa tersebut. Penanganan bencana juga berlangsung. Sejumlah alat berat bekerja membersihkan material yang menimbun jalanan.

Desa ini merupakan bagian dari akses jalan dari Taput menuju Tapteng. Lebih dari 20 orang korban meninggal dunia di desa ini sudah dievakuasi. Mayoritas korban bencana adalah pelintas yang sedang menunggu akses dari Taput menuju Tapteng yang terputus, tepatnya di Kecamatan Sitahuis.

Begitu mendengar informasi adanya jalan putus di kawasan Sitahuis, pelintas memilih beristirahat di Desa Sibalanga. Saat menunggu, bencana longsor menimpa mereka.

Dari informasi warga sekitar, tiga orang masyarakat Desa Sibalanga yang menjadi korban bencana tersebut, selebihnya para pelintas. “Hingga saat ini, pemerintah dan instansi lain telah memberikan sumbangan dan bantuan bagi kami. Apa yang kami butuhkan selama dalam pengungsian ini dipenuhi,” terangnya.

Ia kisahkan, inilah bencana longsor yang pernah ia alami selama 56 tahun. Sebelumnya, desa ini menjadi tempat paling nyaman bagi mereka. Pasalnya, air bersih mudah didapat dan sumbernya dekat. Selain itu, cuaca di desa tersebut membuat orang betah tinggal. Mereka nyaman. Ditambah dengan kekayaan alam yang luarbiasa.

Kini mereka harus dibantu oleh berbagai pihak supaya bisa bertahan hidup di pengungsian. Bukan hanya bantuan sandang dan pangan yang datang, namun juga penghiburan melalui program trauma healing dari berbagai pihak juga hadir.

Kini, senyum anak-anak di desa tersebut secara berangsur pulih. Walau rumah, harta benda, dan lahan pertanian mereka terdampak bencana, mereka tetap perlihatkan hati yang kokoh dan semangat hidup.

“Selain bantuan, kami juga dikunjungi oleh berbagai pihak dan memberikan penghiburan khususnya bagi anak-anak, ibu dan lansia. Mereka dihibur dan diajak bercerita seputar pengalaman menghadapi bencana ini,” terangnya.

“Bahkan, kami juga menikmati santapan rohani kami melalui ibadah di gereja. Kalau rumah yang rusak parah ada sebanyak 8 rumah dan mengalami kerusakan lainnya ada sebanyak 3 rumah,” tuturnya.

Ia terangkan, dirinya tinggal sekitar 60 meter dari lokasi kejadian. Namun dirinya juga diselimuti ketakutan setelah menyaksikan dahasyatnya dampak bencana tersebut. Hanya bermodalkan lampu emergency dan senter, masyarakat saling membantu agar bisa sampai di gedung gereja HKBP tersebut.

Kini rumah pendeta yang masih dalam pembangunan dijadikan sebagai dapur umum. “Waktu kejadian yang pertama dan kedua, kami tetap di rumah. Namun, merasa terancam juga, kami memilih mengungsi ke gereja HKBP ini. Rumah saya berada sekitar 60 meter dari lokasi kejadian, tapi ketakutan juga makanya langsung bergerak ke gereja ini,” lanjutnya.

Usai kejadian longsor yang pertama, posisi dan pemerintah desa berupaya mencari keberadaan korban pada timbunan material. Pencarian tak membuahkan hasil karena longsor susulan pun datang. Mereka fokus bertahan hidup. Tinggal di pengungsian dan saling menguatkan.

Kaum bapak terus berjaga-jaga, sementara kaum ibu, anak-anak dan lansia ditempatkan di gedung gereja agar bisa beristirahat. Diperkirakan lebih dari 75 KK yang tinggal di gereja tersebut pada awal kejadian. Secara berangsur, keluarga pelintas kembali ke tempat masing-masing setelah jasad keluarganya ditemukan.

Kini proses pembersihan material masih berlangsung. Sejumlah aparat masih berada di lokasi. Buka-tutup jalan diberlakukan agar proses pembersihan material dan pencarian seorang korban masih dilakukan.

“Setelah kejadian, pihak kepolisian dan pemerintah desa juga mencoba mencari korban tertimbun longsor. Karena longsornya semakin besar, akhirnya pencarian tidak berhasil,” sambungnya.

Kini mereka masih siaga dan berjaga-jaga. “Ketakutan semakin memuncak karena terjadi longsor susulan. Sebelum kejadian longsor yang pertama, listrik sudah padam. Kita hanya menggunakan lampu emergency untuk menolong warga sekitar menuju pengungsian di gereja ini,” terangnya.

“Kaum ibu, anak-anak, dan lansia, kita prioritaskan. Sementara kaum bapak dan laki-laki siaga di luar gereja sembari berjaga-jaga,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *