24 April 2026
AA1QQGJp.jpg

Penemuan Rafflesia hasseltii yang Viral di Sumatera Barat

Penemuan bunga langka Rafflesia hasseltii yang viral di Sumatera Barat tidak hanya menjadi keberhasilan ilmuwan dalam menemukan spesies ini setelah 13 tahun pencarian. Di balik mekarnya “raksasa merah” yang hanya bertahan tujuh hari, terdapat fakta menarik tentang peran hewan-hewan liar dalam menjaga kelestariannya.

Bunga Rafflesia hasseltii hidup sepenuhnya sebagai parasit pada tumbuhan Tetrastigma lanceolarium yang hanya tumbuh di hutan hujan primer. Karena itu, keberadaan fauna liar yang lalu-lalang menjadi bagian penting dari siklus hidupnya, terutama dalam penyebaran biji dan penyerbukan. Fakta-fakta ini membuat penemuan terbaru tersebut semakin berharga bagi dunia botani.

Hidup sebagai Parasit, Tergantung Penuh pada Hutan Asli

Rafflesia hasseltii termasuk dalam famili Rafflesiaceae dan dikenal sebagai salah satu spesies paling langka di Indonesia. Bunga ini tidak memiliki batang, daun, maupun akar, sehingga sepenuhnya bergantung pada inangnya. Karena teknologi budidayanya belum ditemukan, satu-satunya cara mempertahankan kelestarian spesies ini adalah dengan melindungi habitat aslinya.

Babi Hutan, Rusa, Tupai, hingga Semut: Pengaman Alami Rafflesia

Peneliti dalam jurnal Media Konservasi Vol. VI, No. 1, Agustus 1999: 23-26 IPB menemukan jejak babi hutan (Sus scrofa), rusa (Cervus sp.), tupai (Tupaia sp.), dan berbagai jenis semut (Polyergus spp.) yang diduga membantu penyebaran biji Rafflesia. Temuan lainnya dari jurnal yang ditulis Ervizal A.M. Zurud, Ninda Hernidiah, dan Agus Hikmat mengungkap bahwa beberapa bunga tumbuh pada batang Tetrastigma yang posisinya jauh dari tanah, memperkuat dugaan bahwa hewan berperan besar dalam proses persebarannya.

Selain itu, karena Rafflesia termasuk tumbuhan berumah dua (dioecious), proses penyerbukannya sangat bergantung pada hewan, terutama lalat, yang tertarik pada aroma busuk khas bunga ketika mekar.

Penemuan Bersejarah Setelah 13 Tahun Pencarian

Sebelumnya, momen penemuan bunga ini menjadi viral setelah video Septian Andriki atau Deki tersebar di media sosial. Dalam rekaman, ia terlihat berjongkok sambil menyorot bunga menggunakan baterai ponselnya, tak kuasa menahan air mata. “Selama 13 tahun. Saya sangat beruntung,” ujar Deki dengan suara bergetar.

Deki dan Dr. Chris Thorogood dari University of Oxford Botanic Garden and Arboretum menembus hutan hujan Sumatera siang dan malam, melintasi wilayah yang bahkan dijaga harimau, hanya untuk menemukan bunga langka ini. Dr. Chris kemudian membagikan foto Rafflesia hasseltii di akun X miliknya. “Kami menemukannya! Kami berjalan siang dan malam melintasi hutan hujan Sumatra yang dijaga ketat oleh harimau… Hanya sedikit orang yang pernah melihat bunga ini, dan kami menyaksikannya mekar di malam hari. Ajaib,” tulisnya.

Penemuan bersejarah ini terjadi pada Selasa (18/11/) di Hiring Batang Somi, Kecamatan Sumpur Kudus, Sumatera Barat.

Pentingnya Menjaga Hutan Alam

Dengan semakin terbukanya informasi tentang peran fauna dan kompleksitas habitatnya, penemuan ini menjadi pengingat betapa pentingnya menjaga hutan alam. Tanpa babi hutan, rusa, tupai, semut, dan komunitas hutan yang utuh, bunga ikonik ini bisa semakin sulit ditemukan atau hilang selamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *