22 April 2026
AA1QncqE.jpg

Krisis Regenerasi Pemulia Tanaman di Indonesia

Indonesia sedang menghadapi tantangan serius dalam regenerasi pemulia tanaman, yang dapat berdampak pada ketahanan pangan nasional. Saat ini, jumlah pemulia aktif sangat terbatas, sementara kebutuhan akan varietas unggul terus meningkat untuk menghadapi perubahan iklim, penurunan produktivitas lahan, dan alih fungsi lahan pertanian.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia (PERIPI), PT East West Seed Indonesia (EWINDO), dan IPB University akan menyelenggarakan Indonesian Breeder Award 2025 (IBA) dengan tema “Breeding is Giving” pada 19 November 2025 di IPB International Convention Center (IICC), Bogor.

Acara ini akan dihadiri sekitar 150 peserta dari berbagai latar belakang, termasuk pemerintah, akademisi, pelaku usaha, pemulia tanaman, asosiasi, dan komunitas pertanian. Tujuan utama acara ini adalah untuk mendorong inovasi, memperkuat kolaborasi riset, serta mendorong regenerasi pemulia tanaman guna pengembangan varietas unggul yang berkelanjutan.

Ketua PERIPI, Profesor Muhamad Syukur, menekankan bahwa peran pemuliaan tanaman sangat sentral dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas pertanian. Menurutnya, pada tahun 2050, Indonesia harus mampu menghasilkan pangan dua kali lipat dibanding saat ini karena jumlah penduduk yang terus bertambah. Di sisi lain, tantangan lingkungan juga akan semakin berat. “Hanya dengan menghasilkan varietas-varietas yang adaptif terhadap cekaman lingkungan dan punya produktivitas tinggi, kita bisa menghadapi tantangan tersebut,” jelasnya.

Sayangnya, jumlah pemulia tanaman di Indonesia saat ini jauh dari ideal dan tidak sebanding dengan kebutuhan pengembangan varietas baru. Dari sekitar 1.000 pemulia tanaman yang terdaftar di PERIPI, hanya separuh atau bahkan seperempatnya, yaitu sekitar 250 orang, yang benar-benar melakukan kegiatan pemuliaan. Padahal, saat ini dibutuhkan minimal 10 ribu pemulia tanaman untuk melayani petani sekitar 30 juta petani Indonesia.

Prof. Syukur berharap penyelenggaraan IBA 2025 dapat menjadi “pupuk” bagi pengembangan riset dan pemuliaan tanaman di Indonesia. “Harapannya orang akan menjadi semangat karena dihargai,” ujarnya.

Managing Director EWINDO, Glenn Pardede, menegaskan bahwa penelitian atau pemuliaan tanaman adalah cara bermakna untuk berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. “Breeding is Giving bukan sekadar tema—melainkan komitmen kami untuk menciptakan dampak yang lebih besar. Benih adalah titik awal dari sistem pangan yang berkelanjutan,” ujar Glenn Pardede.

Menurut Glenn, penyelenggaraan IBA 2025 ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi bagi para pemulia, tetapi juga panggilan untuk menumbuhkan generasi penerus di bidang yang sangat strategis ini. Melalui ajang ini, mereka ingin menginspirasi generasi muda agar melihat pemuliaan tanaman sebagai profesi yang mulia. Setiap benih unggul yang dihasilkan adalah wujud nyata kontribusi untuk petani dan bangsa.

Selain memberikan penghargaan kepada pemulia berprestasi, kegiatan ini juga menghadirkan forum ilmiah dan diskusi lintas sektor dengan narasumber pakar dari berbagai lembaga riset dan universitas dalam maupun luar negeri, serta pembuat kebijakan. Melalui kegiatan ini diharapkan lahir sinergi nyata antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha dalam memperkuat ekosistem perbenihan nasional.

“Benih adalah awal dari ketahanan pangan. Setiap varietas baru yang diciptakan pemulia merupakan kontribusi langsung bagi keberlanjutan pangan Indonesia,” tutup Glenn.

Mengusung tema “Breeding is Giving”, IBA III akan diselenggarakan pada 19 November 2025. Dipersembahkan oleh PERIPI, IPB University, dan EWINDO, ajang ini merupakan bentuk apresiasi bagi para pemulia tanaman—mereka yang berkontribusi nyata bagi kesejahteraan petani, dan keberlanjutan pertanian Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *