Dewa News -.CO.ID – JAKARTA.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan memulai uji jalan (road test) program biodiesel B50 pada awal Desember 2025. Langkah ini menjadi tahap krusial sebelum penerapan mandatori B50 secara nasional pada tahun depan.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa uji jalan akan dimulai pada 3 Desember 2025 dan berlangsung secara serentak di enam sektor: otomotif, alat pertanian, pertambangan, perkeretaapian, perkapalan, dan pembangkit listrik (genset). Durasi pengujian di tiap sektor akan bervariasi antara dua hingga delapan bulan.
“Semua kendaraan sudah disiapkan. Ada truk, alat berat, traktor, kapal, hingga kendaraan pertanian. Uji jalan ini bukan seremoni, tapi benar-benar dilakukan dengan target teknis yang jelas,” ujar Eniya dalam acara 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Price Outlook (IPOC) di Nusa Dua, Bali, Kamis (13/11/2025).
Sebelum pelaksanaan uji jalan, pemerintah telah melakukan pengujian di laboratorium menggunakan dua jenis solar: solar yang beredar di pasar domestik dan solar berstandar Eropa (50 ppm). Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa solar berstandar Eropa memberikan performa yang lebih baik.
“Komposisi paling ideal di lab adalah B35 dengan tambahan 15% hydrotreated vegetable oil (HVO) dan solar Eropa. Namun untuk uji jalan nanti, kita akan gunakan B50 full FAME tanpa HVO karena harga HVO masih terlalu tinggi,” jelas Eniya.
Meski begitu, ESDM tetap berhati-hati terhadap dampak teknis dari penggunaan B50 terhadap performa kendaraan, terutama pada bagian karet, filter, dan mesin.
“Kami tidak ingin terburu-buru mengambil kebijakan besar jika suplai crude palm oil (CPO) belum mencukupi atau kesiapan teknis belum ideal,” katanya.
Penerapan mandatori B50 masih menunggu hasil kajian dari berbagai aspek, termasuk teknis, teknoekonomi, harga indeks pasar (HIP), serta insentif yang diperlukan. Salah satu pertimbangan utama pemerintah adalah pasokan CPO dan produktivitas sawit nasional yang saat ini masih stagnan.
Sebagai alternatif, pemerintah tengah mengkaji opsi penerapan B50 khusus untuk sektor Public Service Obligation (PSO), sementara sektor non-PSO disesuaikan ke level B35–B40. Dengan skema tersebut, total volume penyerapan biodiesel tetap terjaga tanpa mengganggu ketersediaan pasokan nasional.
Proses Pengujian B50 di Berbagai Sektor
Uji jalan B50 akan dilakukan di beberapa sektor penting, seperti:
Otomotif – Melibatkan berbagai jenis kendaraan, termasuk truk dan mobil pribadi.
Alat Pertanian – Menguji efektivitas B50 pada traktor dan mesin pertanian.
Pertambangan – Memastikan kinerja mesin dan alat berat di lingkungan tambang.
Perkeretaapian – Menguji penggunaan B50 pada kereta api dan sistem transportasi darat.
Perkapalan – Memastikan keandalan B50 sebagai bahan bakar kapal.
Pembangkit Listrik (Genset) – Mengevaluasi kinerja B50 dalam produksi energi.
Setiap sektor akan menjalani pengujian selama periode yang berbeda, mulai dari dua bulan hingga delapan bulan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa B50 dapat digunakan secara optimal tanpa mengganggu operasional masing-masing sektor.
Persiapan Teknis dan Kesiapan Pasokan
Pemerintah juga sedang mempersiapkan segala aspek teknis terkait penggunaan B50. Termasuk memastikan bahwa komponen kendaraan seperti karet dan filter tidak mengalami kerusakan akibat penggunaan biodiesel.
Selain itu, pemerintah juga memantau ketersediaan pasokan CPO nasional. Saat ini, produksi sawit masih mengalami stagnasi, sehingga perlu ada strategi yang tepat agar penggunaan B50 tidak mengganggu pasokan pangan atau bahan baku lainnya.
Opsi Alternatif untuk Penerapan B50
Saat ini, pemerintah sedang mempertimbangkan opsi alternatif untuk penerapan B50. Salah satunya adalah penerapan khusus untuk sektor PSO, sementara sektor non-PSO akan diatur pada level B35–B40.
Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap bisa menjaga keseimbangan antara penggunaan biodiesel dan ketersediaan pasokan CPO. Hal ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa penggunaan B50 tidak menimbulkan masalah ekonomi atau teknis yang signifikan.
Tantangan dan Tantangan Teknis
Meskipun B50 memiliki potensi besar dalam mengurangi ketergantungan pada BBM fosil, ada beberapa tantangan teknis yang perlu diperhatikan. Misalnya, perbedaan komposisi bahan bakar dapat memengaruhi performa mesin, terutama pada kendaraan lama atau alat berat.
Selain itu, penggunaan B50 juga memerlukan infrastruktur pendukung, seperti stasiun pengisian bahan bakar yang memadai. Pemerintah harus memastikan bahwa semua fasilitas siap mendukung penggunaan B50 secara luas.
Dengan demikian, uji jalan B50 menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa implementasi biodiesel ini dapat berjalan dengan lancar dan berkelanjutan.