23 April 2026
AA1Qmdl4.jpg

Persiapan Menghadapi Nataru 2025 dan 2026

AirNav Indonesia mengambil langkah-langkah proaktif untuk memastikan keselamatan dan kelancaran penerbangan selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Dengan meningkatkan kewaspadaan operasional di seluruh wilayah udara Indonesia, perusahaan ini berupaya menghadapi potensi gangguan yang mungkin terjadi akibat lonjakan lalu lintas penerbangan dan kondisi cuaca ekstrem.

Direktur Keselamatan, Keamanan, dan Standardisasi AirNav Indonesia, Capt Nurcahyo Utomo, menjelaskan bahwa beberapa faktor menjadi perhatian utama selama masa Nataru. Salah satu ancaman utama adalah cuaca ekstrem seperti hujan lebat, petir, angin kencang, dan visibilitas rendah. Faktor-faktor ini dapat menyebabkan penundaan atau pengalihan penerbangan.

“Diseminasi informasi cuaca yang akurat menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan penerbangan,” ujar Nurcahyo dalam konferensi pers yang diadakan di Bandung, Rabu, 12 November 2025.

Selain cuaca, AirNav juga mengawasi aktivitas gunung berapi yang bisa menghasilkan abu vulkanis. Abu ini berpotensi menutup bandara atau jalur penerbangan. Untuk itu, koordinasi intensif dilakukan dengan BMKG dan PVMBG agar kondisi cuaca serta aktivitas vulkanik dapat dipantau secara real time.

Faktor lain yang diperhatikan adalah gangguan dari balon udara liar dan layang-layang. Ancaman ini bisa membahayakan keselamatan penerbangan dan menyebabkan pengalihan rute. Selain itu, ada juga ancaman satwa liar di sekitar bandara, seperti burung dan hewan lainnya, yang terus dimonitor untuk meminimalkan risiko tabrakan dengan pesawat.

“Selain itu, kami juga mengantisipasi potensi gangguan operasional di bandara maupun maskapai yang dapat berdampak pada keterlambatan dan penyesuaian jadwal penerbangan,” ucap Nurcahyo.

Langkah Antisipasi yang Dilakukan

Dalam menghadapi puncak kepadatan penerbangan, AirNav mengantisipasi peningkatan traffic akibat extra flight dan lonjakan penumpang. Kondisi ini dapat memicu peningkatan konflik traffic, holding, serta beban kerja petugas Air Traffic Controller (ATC).

Untuk itu, AirNav telah menyiapkan beberapa langkah antisipasi, antara lain:

  • Peningkatan kesiapan fasilitas navigasi agar sistem komunikasi, navigasi, dan pengawasan (CNS/ATM) beroperasi dengan andal.
  • Pengaturan kapasitas dan flow management secara optimal, termasuk koordinasi lintas unit operasional.
  • Manajemen kelelahan personel (fatigue management) melalui pengaturan shift, briefing awal, serta komunikasi tim yang efektif.
  • Pemeliharaan preventif dan kesiapsiagaan teknisi untuk respon cepat bila terjadi gangguan.

AirNav juga menerapkan sistem baru ATMAS Pontia (Air Traffic Management Automation System) guna mendukung efisiensi dan akurasi pelayanan navigasi penerbangan selama periode sibuk Nataru.

“Kami berkomitmen untuk menjaga keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan nasional selama periode Nataru,” kata Nurcahyo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *