22 April 2026
Ketika-prosesi-akad-nikah-tampak-dua-kakak-laki-laki-dari-mempelai.jpg

Kisah Zulfa, Pelajar yang Viral karena Kehidupan yang Penuh Kekuatan dan Semangat

Zulfa Qaulani Ma’ruf (13) adalah seorang pelajar kelas 7 Tsanawiyah di Kabupaten Garut. Ia menjadi perbincangan banyak orang setelah video yang menunjukkan dirinya belajar di ruang kelas sambil membawa adiknya yang masih berusia 16 bulan viral di media sosial. Video tersebut menampilkan Zulfa duduk di halaman sekolah dengan wadah berisi jajanan yang sedang ia jual. Dalam beberapa momen lain, ia tampak membantu mengasuh adiknya saat orang tuanya sedang bekerja.

Kehidupan Sehari-hari Zulfa

Zulfa tinggal di Kampung Panyingkiran, Desa Situsaeur, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Rumahnya tidak jauh dari sekolahnya, hanya sekitar lima menit berjalan kaki dari gerbang. Saat diwawancarai oleh jurnalis Tribunjabar.id, senyum manis Zulfa merekah. Ia baru saja beraktivitas di lapangan sekolah sesaat sebelum jam pulang. “Alhamdulillah sehat, kaget senang (bisa viral)” ujarnya.

Didampingi Kepala MTs Al Iryad, Reni Sari Anggraeni, Zulfa menjelaskan bahwa ia kini menjalani hari-harinya seperti biasa yakni membantu orang tua mengasuh sang adik dan berjualan makanan ringan di sekolah. Sepulang sekolah, ia juga diketahui berjualan dari hasil panen ayahnya di ladang seperti timun, cabe, dan sayuran lain.

Bantuan untuk Keluarga

Kedatangan Zulfa ke sekolah bersama adiknya bukan dilakukan setiap hari. Ia hanya membawa adiknya saat jam-jam santai atau menjelang pulang. Hal ini dilakukannya untuk membantu meringankan ibunya yang menemani sang ayah mengurus ladang. “Karena mamah dan bapak lagi ke sawah, jadi ga ada yang jagain ade,” ujarnya.

Zulfa juga mengajak wartawan untuk bertemu langsung dengan keluarganya di rumah. Di sepanjang perjalanan ke kediamannya, ia bercerita bahwa cita-citanya di masa depan adalah menjadi seorang fotografer. “Ingin jadi fotografer,” ucapnya.

Kondisi Keluarga Zulfa

Di rumah, Aneu Aliyah (37) dan Ade Ma’ruf (51), kedua orangtua Zulfa sudah menunggu, beberapa makanan ringan siap jual, mulai dari makaroni juga baso goreng nampak tertata rapih di dalam box. Senyum sang ibu merekah, mempersilahkan wartawan duduk. Ia kemudian memperkenalkan ketiga anaknya, Zulfa diketahui merupakan anak tengah.

Aneu menceritakan kisah kehidupan keluarganya, mulai dari proses pengobatan anak bungsu yang memiliki penyakit penyerta karena mengalami down syndrome, hingga kondisi usahanya yang saat ini belum optimal karena fokus pengobatan sang anak. “Dede itu mengalami down syndrome, ada lima penyerta yang sekarang sedang dialami, dari sejak lahir sampai sekarang kami bolak-balik rumah sakit untuk pengobatan,” ujar Aneu.

Saat ditanya mengenai cita-cita Zulfa yang ingin menjadi seorang fotografer, Aneu mendukung penuh keinginan anaknya itu. Ia menyebut bahwa selama ini, anaknya itu cukup lihai melakukan penyuntingan foto di smartphone-nya. “Ini kan ada hape satu punya ibunya, berdua aja sama Zulfa, ya memang dia suka sekali dengan foto suka ngedit begitu,” ucapnya.

Peran Sekolah dalam Kehidupan Zulfa

Kepala MTs Al Iryad Reni Sari Anggraeni mengatakan Zulfa merupakan pelajar yang aktif dan maju dalam pelajarannya. Pihak sekolah ucapnya memang mengizinkan Zulfa untuk membantu kedua orangtuanya dengan mengasuh sang adik bahkan sampai di bawa ke kelas. “Ya itu kami izinkan, orangtuanya juga izin ke kami, tidak setiap hari, paling di jam tenang aja, jam seperti ini ya antara jam mau pulang misalnya,” ujarnya.

Masalah Teknis yang Menghambat

Namanya menjadi perbincangan setelah sebuah video menampilkan dirinya belajar di kelas sambil mengasuh adik bungsunya yang baru berusia 16 bulan. Dalam potongan video lainnya, terlihat Zulfa duduk di halaman sekolah dengan wadah berisi jajanan di sampingnya, dagangan kecil yang ia jual untuk membantu keluarga. Setelah kisahnya viral karena belajar sambil mengasuh adik, ia bersama keluarganya diundang ke salah satu stasiun televisi nasional. Namun, mereka tidak bisa melihat langsung saat tayangan itu muncul. Televisi tabung 16 inci berwarna abu-abu milik mereka ternyata sudah lama rusak.

Harapan Orang Tua untuk Zulfa

Aneu Aliyah (37) ibunda Zulfa, tersenyum getir saat bercerita. Ia mengatakan Tv jadul itu dulunya sempat jadi hiburan keluarga di sela-sela kesibukan mengasuh dan berjualan. Kini alat itu hanya jadi pajangan di atas meja kayu, menunggu diperbaiki jika nanti ada rezeki lebih. “Udah dua atau tiga bulan rusak, udah gak nonton tv. Waktu katanya tayang di tv, taunya dikasih tahu guru, hanya lihat di hape juga,” ujar Aneu saat ditemui Tribunjabar.id, Kamis (30/10/2025).

Ia menuturkan, putrinya, Zulfa, juga tidak memiliki smartphone yang bisa digunakan untuk belajar maupun berkomunikasi. Selama ini Zulfa masih menggunakan ponsel milik ibunya untuk berbagai keperluan, mulai dari belajar daring hingga berkomunikasi dengan guru dan teman sekolahnya. “Jadi hape juga ya dipake berdua aja bergiliran,” ungkapnya.

Keberlanjutan Usaha Keluarga

Di balik viral itu, Aneu tetap menjalani hari seperti biasa, menjaga ekonomi keluarga lewat usaha kecil yang dimulainya dengan modal tak seberapa. “Karena fokus ngurus dede berobat, usaha snack jadi tak seratus persen, kekurangan modal juga, ya paling 100 ribu,” ujarnya saat ditemui Tribunjabar.id, Kamis (30/10/2025).

Ia bercerita, sebelum anak bungsunya lahir dan mengalami down syndrome, ia sempat berjualan cukup rutin ke sekolah juga berkeliling di kampung. Namun sejak fokus mendampingi pengobatan sang anak, kegiatan usahanya tersendat. Kini ia berusaha bangkit pelan-pelan, dibantu Zulfa yang ikut menjajarkan dagangan ke teman sekolahnya.

Harapan Orang Tua untuk Masa Depan Zulfa

Aneu menjelaskan, selama ini ia berbelanja bahan baku mentah seperti kerupuk, makaroni, dan baso goreng, semua itu lalu diolah jadi bermacam-macam snack. Cukup sederhana, namun aktivitas berdagangnya itu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sembari menunggu hasil panen di sawah milik kerabat yang digarap suami. “Sangat besar sekali harapan saya untuk mengembangkan ini, kemarin sempat ngemodal tapi habis lagi dipakai biaya sehari-hari selama berobat anak,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Aneu ternyata sudah mengantongi sertifikat halal untuk usahanya dalam membuat olahan tepung tapioka, seperti baso aci, dan seblak. Namun usahanya itu kini sementara terhenti karena lebih memilih fokus untuk merawat anak menjalani rawat jalan. Ia juga bersyukur karena selama berobat jalan, sopir ambulans desa yang mengantarnya itu tak pernah mau dibayar alias gratis.

Dengan segala keterbatasannya itu, Aneu tetap berharap anak-anaknya bisa mandiri dan sukses di kemudian hari. Terkhusus untuk Zulfa, ia berharap pendidikan anak keduanya itu bisa berjalan dengan baik sampai ke jenjang lebih tinggi. “Ya harapannya semoga sukses, masuk sekolah ke sekolah yang dia mau, semoga cita-citanya tercapai dan tak terganggu juga sama saya yang menitipkan dagangan ke dia,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *