22 April 2026
bmkg-soroti-dampak-perubahan-iklim-pada-gen-z-dan-alpha_1724310162.jpg

Kesadaran Generasi Z terhadap Dampak Perubahan Iklim

Survei yang dilakukan oleh Climate Rangers terhadap 382 responden Generasi Z menunjukkan bahwa generasi muda semakin menyadari dampak perubahan iklim, meskipun sebagian besar masih melihatnya sebagai cuaca ekstrem. Dampak krisis iklim tidak hanya terbatas pada cuaca, tetapi juga mencakup kesehatan fisik dan mental, ketahanan pangan, hingga kerusakan infrastruktur akibat bencana seperti banjir dan rob.

Febriani Nainggolan, Campaign & Communication Staff Climate Rangers, menjelaskan bahwa riset ini mengamati 382 responden yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, atau yang dikenal dengan Gen Z. Hasilnya menunjukkan bahwa generasi muda sadar bahwa apa yang mereka rasakan saat ini adalah dampak dari perubahan iklim. Namun, sebagian besar masih memandang krisis iklim sebagai hal yang terkait dengan cuaca ekstrem. Dari total responden, 95,5 persen menganggap krisis iklim hanya berkaitan dengan cuaca ekstrem.

Padahal, kata Febriani, anak yang lahir pada 2020 akan mengalami dampak krisis iklim yang jauh lebih parah dibandingkan generasi kakeknya. Mereka akan menghadapi gelombang panas tujuh kali lebih banyak, kekeringan tiga kali lebih sering, dan banjir besar dua kali lebih intens. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran tentang dampak perubahan iklim belum sepenuhnya merata di kalangan generasi muda.

Selain itu, survei tersebut juga menemukan bahwa 62,4 persen responden merasa bahwa pelibatan orang muda oleh pemerintah masih bersifat tokenisme atau sekadar formalitas tanpa makna. Ini menunjukkan bahwa meskipun generasi muda mulai sadar akan isu lingkungan, partisipasi mereka dalam kebijakan lingkungan masih terbatas.

Isu Lingkungan yang Disoroti oleh Masyarakat

Dian Irawati, salah satu pendiri lembaga riset Kawula17, mengungkapkan hasil riset yang dilakukan oleh lembaganya terhadap 404 responden menunjukkan dua isu utama yang disoroti oleh masyarakat, yaitu inefisiensi pengelolaan sampah (33 persen) dan kerusakan lingkungan akibat tambang (32 persen). Menurut Dian, meningkatnya perhatian terhadap isu-isu ini didorong oleh maraknya publikasi terkait hal-hal yang merusak alam Indonesia.

Contohnya, kasus di Raja Ampat yang memicu kampanye #SaveRajaAmpat, serta isu perampasan hutan adat (26 persen). Dian menambahkan bahwa tren ini menunjukkan bahwa kesadaran publik semakin kuat terhadap pentingnya perlindungan ekosistem dan keadilan lingkungan di Indonesia.

Tingkat Aktivisme Anak Muda yang Meningkat

Sementara itu, survei terpisah oleh Kawula17 terhadap 1.342 responden muda menunjukkan peningkatan signifikan dalam tingkat aktivisme. Sebanyak 42 persen responden tergolong peserta atau participant, sementara 35 persen adalah aktivis atau activist. Artinya, semakin banyak anak muda yang tertarik dan terlibat dalam isu lingkungan, HAM, gender, dan antikorupsi.

Ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya menyadari masalah lingkungan, tetapi juga aktif berpartisipasi dalam mencari solusi. Meski begitu, masih ada tantangan yang harus dihadapi, seperti kurangnya partisipasi nyata dari pihak pemerintah dan masyarakat luas dalam upaya mengatasi krisis iklim.

Tantangan dan Peluang untuk Generasi Muda

Meskipun generasi muda mulai sadar akan isu lingkungan, masih banyak yang perlu diperbaiki. Salah satunya adalah partisipasi aktif dalam kebijakan lingkungan. Selain itu, kesadaran akan dampak perubahan iklim yang lebih luas masih perlu ditingkatkan. Dengan adanya peningkatan aktivisme, generasi muda memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam menghadapi krisis iklim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *