22 April 2026
AA21hAEJ.jpg



Sektor industri menjadi salah satu sektor yang menyumbang emisi terbesar di dunia. Dalam laporan yang disampaikan oleh Advisor GIZ Indonesia dan Asean, Putra Jaka Kelana dalam acara Bisnis Indonesia Forum (BIF) bertajuk “Peran Perempuan dalam Upaya Dekarbonisasi Industri”, disebutkan bahwa sektor ini berkontribusi sekitar 24% dari total emisi global dan 30% dari penggunaan energi global.

“Mayoritas sumber emisi industri berasal dari penggunaan energi, yaitu sekitar 70%, sedangkan sisanya berasal dari proses industri,” jelasnya. Ia menekankan bahwa dekarbonisasi perlu dilakukan oleh entitas usaha karena memiliki manfaat baik secara eksternal maupun internal.

Secara eksternal, kegiatan ramah lingkungan dapat membantu mengurangi dampak perubahan iklim, mendukung target nasional, serta mendorong inovasi teknologi. Sementara itu, secara internal, dekarbonisasi bisa meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya, menarik investasi pembiayaan hijau, meningkatkan daya saing perusahaan, serta mengurangi risiko kebijakan dan regulasi.

Jaka menjelaskan bahwa kesiapan sektor industri di Indonesia untuk melakukan dekarbonisasi masih berada di tahap awal. Meskipun teknologi rendah karbon sudah tersedia di pasar Indonesia, implementasinya masih terbatas. Dari sisi finansial, skema produk keuangan hijau dan mekanisme bisnis sudah ada, tetapi implementasinya belum optimal. Di sisi SDM, masih terbatasnya ahli dalam bidang seperti manajemen karbon, manager energi, ahli ESG, dan ahli MRV/M&V juga menjadi tantangan.

Dari segi tata kelola perusahaan, tidak semua menjadikan dekarbonisasi sebagai strategi inti bisnis. Banyak perusahaan hanya memandangnya sebagai kepatuhan terhadap pelaporan ESG. Selain itu, audit energi belum merata di seluruh perusahaan, saat ini didominasi oleh perusahaan multinasional besar.

Untuk mendorong semakin masifnya dekarbonisasi di sektor industri, diperlukan pola kolaborasi. Beberapa model kolaborasi yang efektif antara lain pentahelix yang melibatkan pemerintah, swasta, akademisi, CSO, dan media. Model lainnya adalah kerja sama antara swasta dan publik, serta kolaborasi internasional dengan lembaga perbantuan pembangunan.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Presiden Direktur PT Pan Brothers Indonesia Tbk. (PBRX), Anne Patricia Sutanto, menjelaskan bahwa perusahaan garmen tersebut telah menjadi pionir dalam praktik ramah lingkungan sejak 2013, sebelum Persetujuan Paris ditandatangani pada 2015. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan industri garmen dengan menekan emisi dan polusi.

Menurutnya, langkah-langkah ini didorong oleh kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan industri garmen. Di sisi lain, sebuah entitas bisnis membutuhkan peran dari manajer energi dalam menentukan langkah penurunan emisi.

Energy Manager Adis Dimension Footwear Anies Septiana menjelaskan bahwa peran manajer energi sebelumnya lebih fokus pada aspek teknis seperti penghitungan biaya energi, pengelolaan penggunaan energi, efisiensi, hingga audit energi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, peran manajer energi meningkat, bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara strategis.

“Seorang manajer energi bisa memberikan saran-saran strategis kepada manajemen karena mereka sehari-hari berhadapan dengan situasi harga energi, ketersediaan sumber energi, dan sebagainya,” ujarnya.

Audit energi menjadi langkah fundamental dalam mendukung program dekarbonisasi. Melalui audit, perusahaan dapat mengidentifikasi posisi efisiensi energi serta tingkat emisi yang dihasilkan.

“Tanpa audit energi, kami tidak tahu posisi kami saat ini. Apakah sistem kami sudah efisien, atau apakah penggunaan energi dan emisinya sudah di bawah rata-rata, di atas rata-rata, atau rata-rata. Dari audit energi-lah hal-hal itu diketahui,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *