22 April 2026
AA20ZQtA.jpg

Peran Transportasi Umum dalam Mengatasi Kemacetan di Bali

Banyak pihak menyadari bahwa rendahnya minat masyarakat di Bali terhadap transportasi umum menjadi hambatan utama bagi upaya pemerintah dalam mengurangi kemacetan. Salah satu alternatif yang ditawarkan adalah water taxi atau taksi air, yang diharapkan dapat memangkas waktu tempuh antara Bandara I Gusti Ngurah Rai ke wilayah Canggu dari 2 jam menjadi hanya 30 menit.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat bahwa proyek ini tidak hanya bergantung pada kesiapan infrastruktur, tetapi juga pada perubahan perilaku transportasi wisatawan dan masyarakat lokal. Hingga saat ini, masyarakat masih cenderung menggunakan kendaraan pribadi, sehingga memengaruhi efektivitas penggunaan transportasi umum.

Studi Kelayakan dan Minat Wisatawan

Studi kelayakan awal menunjukkan bahwa kawasan Canggu menjadi salah satu destinasi dengan minat tertinggi, dipilih oleh 204 responden atau sekitar 16% dari total 1.271 responden yang disurvei pada Agustus 2025. Minat ini berasal dari wisatawan domestik sebanyak 13% dari total 430 responden, dan 17,67% wisatawan mancanegara dari total 841 responden.

Namun, di sisi teknis, kondisi perairan di sekitar Bandara I Gusti Ngurah Rai (Pantai Sekeh) dan kawasan Canggu (Pantai Berawa) tergolong ekstrem dengan gelombang dan arus tinggi. Untuk itu, pembangunan fasilitas penahan gelombang atau breakwater diperlukan agar operasional pelabuhan bisa berjalan optimal sepanjang tahun.

Direktur Jenderal Perhubungan Muhammad Masyhud menjelaskan bahwa kondisi alam menjadi faktor kunci dalam desain proyek. “Tanpa perlindungan pelabuhan, dermaga hampir sulit digunakan selama 12 bulan dalam setahun,” ujarnya.

Desain Awal dan Tantangan Teknis

Desain awal menunjukkan dua opsi lokasi utama, yaitu kawasan Bandara (Sekeh) dan Canggu (Berawa), dengan karakteristik berbeda. Di Sekeh, keunggulan terletak pada minimnya potensi sedimentasi dan material konstruksi yang relatif lebih murah. Namun, area ini memiliki keterbatasan kapasitas serta risiko navigasi yang lebih tinggi.

Sementara itu, kawasan Canggu menawarkan material yang relatif lebih murah dan kemampuan menahan gelombang ekstrem, tetapi menghadapi tantangan sedimentasi yang berpotensi meningkatkan kebutuhan pengerukan. Selain itu, terdapat risiko konflik lahan dan kewajiban penyelesaian aspek legal, termasuk penguasaan tanah dan dokumen lingkungan.

Estimasi Investasi Awal

Estimasi kebutuhan investasi awal untuk skenario pengembangan mencapai Rp1,21 triliun. Komponen terbesar berasal dari pengadaan kapal senilai Rp375 miliar, diikuti pengadaan tanah pelabuhan Rp315 miliar, serta pembangunan infrastruktur darat sekitar Rp312,98 miliar. Sisanya mencakup pekerjaan mekanikal dan elektrikal Rp176,05 miliar serta fixture dan furniture Rp31,07 miliar.

Pelaksanaan Proyek

Di sisi pelaksanaan, pemerintah sejak 2025 telah menugaskan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) untuk menggarap proyek tersebut bersama PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports). ASDP bertanggung jawab sebagai penyedia infrastruktur pelabuhan di kawasan bandara, sementara InJourney Airports mendapatkan mandat untuk memfasilitasi dan mendukung penyediaan sumber daya yang dibutuhkan dalam proses penyusunan kajian perencanaan terkait water taxi.

Proses saat ini masih berada pada tahap penyusunan detail engineering design (DED) yang ditargetkan rampung pada Agustus 2026.

Urgensi Alternatif Transportasi

Kebutuhan alternatif transportasi di tengah kemacetan tersebut menjadi penting, mengingat jumlah kunjungan wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara, terus meningkat setiap tahunnya. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk ke Indonesia melalui pintu utama Bandara I Gusti Ngurah Rai mencapai 6,9 juta kunjungan per 2025.

Serupa, jumlah wisatawan nusantara (wisnus) juga tercatat telah mencapai 26,6 juta kunjungan pada 2025 atau meningkat 17,5% dari 2024 yang sebanyak 22,64 juta kunjungan.

Bukan Solusi Tunggal

Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menyoroti keberadaan angkutan umum yang seharusnya menjadi solusi kemacetan. Dia menilai budaya penggunaan angkutan umum di Bali masih rendah, meski telah ada Trans Metro Dewata. Headway bus masih cukup lama, yakni setiap 20 menit dan beroperasi tak sampai pukul 19.00 waktu setempat.

Kondisi ini membuat kebijakan pembatasan kendaraan pribadi tidak efektif tanpa diimbangi layanan alternatif yang memadai. Djoko juga menilai potensi pasar untuk water taxi lebih besar berasal dari wisatawan asing, itu pun jika tarifnya dalam batas wajar.

Tantangan dan Perspektif Masa Depan

Dengan kombinasi tantangan teknis, kebutuhan investasi besar, serta rendahnya adopsi angkutan umum, proyek water taxi di Bali masih menghadapi pekerjaan rumah yang signifikan sebelum dapat beroperasi optimal dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *