22 April 2026
AA20M5AN.jpg

Perjudian Daring di Jerman dan Tantangan dari Pasar Prediksi

Perjudian daring semakin diminati oleh masyarakat di Jerman. Meskipun bertaruh pada peristiwa politik melalui pasar prediksi seperti Polymarket dianggap ilegal, pihak berwenang kesulitan untuk menindaknya secara efektif.



Platform pasar prediksi bernilai miliaran dolar AS, Polymarket, saat ini memfasilitasi taruhan untuk beberapa pemilihan umum daerah di Jerman yang akan digelar akhir tahun ini. Meski penggunaan situs tersebut ilegal di Jerman, akses ke platform ini tetap terbuka bagi warga negara setempat.

Pasar prediksi memungkinkan orang-orang untuk bertaruh secara anonim dalam berbagai hal, mulai dari serangan militer hingga perkembangan non-olahraga lainnya. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar prediksi semakin menarik perhatian, namun juga menyulitkan regulator perjudian di seluruh dunia.

Departemen Kehakiman AS beberapa waktu lalu menghentikan penyelidikan regulasi terhadap Polymarket. Tindakan ini memicu ekspansi platform tersebut di AS, membuatnya lebih kompetitif dengan Kalshi, sebuah platform pasar prediksi yang teregulasi di AS.

Namun, akses ke Polymarket telah diblokir di beberapa negara Eropa karena dianggap sebagai platform perjudian tanpa izin. Di Jerman, meskipun otoritas menyebut penggunaan situs seperti Polymarket ilegal, platform ini masih dapat diakses oleh warga negara.

Otoritas yang mengatur perjudian di negara-negara bagian Jerman (GGL) mengeluarkan pernyataan pada September 2025, memperingatkan warga Jerman agar tidak menggunakan platform seperti Polymarket. Mereka menjelaskan bahwa “taruhan sosial” merujuk pada peristiwa publik atau sosial, seperti pemilihan umum, putusan pengadilan, bencana alam, atau perkembangan non-olahraga lainnya. Pernyataan tersebut menekankan bahwa taruhan ini sangat rentan terhadap manipulasi karena dasarnya sering kali berdasarkan peristiwa yang tidak jelas, subjektif, atau mudah dipengaruhi.

Dalam pernyataan kepada DW, GGL mengatakan bahwa meskipun situs web Polymarket dan platform serupa dapat diakses, mengirim uang ke platform tersebut dengan alamat IP Jerman tidak dimungkinkan. Selain itu, informasi tentang taruhan ilegal ini akan diteruskan kepada otoritas penegak hukum.

Meskipun demikian, Polymarket saat ini memiliki pasar taruhan aktif di situsnya untuk tiga pemilihan negara bagian Jerman berikutnya: Sachsen-Anhalt, Berlin, dan Mecklenburg-Vorpommern, yang akan berlangsung di bulan September. Ada juga pasar taruhan mengenai “Apakah Friedrich Merz akan mundur dari jabatannya sebagai kanselir sebelum tahun 2027?”

Pemilihan umum Berlin tampaknya menjadi taruhan yang paling populer, dengan nilai taruhan sekitar €2,6 juta (Rp. 50,5 miliar), meskipun pemungutan suara baru akan digelar beberapa bulan lagi.

Ancaman Ganda: Perdagangan Informasi Rahasia dan Manipulasi Pasar

Para ahli telah memperingatkan bahwa pasar prediksi menimbulkan risiko bagi proses demokrasi. Burkhard Stiller, profesor ilmu komputer dan pakar teknologi keuangan di Universitas Zurich, mengatakan kepada DW bahwa “Mereka berusaha mengubah keputusan politik menjadi model teori permainan.” Stiller menjelaskan bahwa hal ini berbahaya karena teknologi semacam itu pada prinsipnya dapat memanipulasi narasi.

Potensi perdagangan informasi rahasia oleh ‘orang dalam’ di pasar prediksi telah digambarkan dengan baik oleh contoh-contoh yang terjadi baru-baru ini. Taruhan atas kejatuhan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan serangan AS-Israel terhadap Iran menimbulkan kecurigaan bahwa orang dalam yang bertindak oportunis telah memanfaatkan informasi rahasia yang mereka ketahui.

Namun, karena pengguna dapat bertaruh secara anonim dan platform-platform tersebut menggunakan mata uang kripto, hampir mustahil untuk menentukan siapa yang memasang taruhan. Dilaporkan pekan ini bahwa akun-akun baru di Polymarket telah meraup ratusan ribu dolar atau puluhan miliar rupiah dengan bertaruh pada gencatan senjata antara AS dan Iran, beberapa jam sebelum kesepakatan diumumkan.

Taruhan semacam ini merupakan ancaman bagi proses demokrasi, menurut Stiller. Demokrasi, menurutnya, ada pada proses dalam parlemen dan kabinet mencapai konsensus untuk mengambil keputusan. Melepas keputusan-keputusan tersebut dalam platform taruhan dengan insentif yang tidak ada hubungannya dengan substansi keputusan, dapat merusak proses pertukaran pendapat dalam demokrasi.

Selain itu, ada pula risiko manipulasi pasar, karena orang-orang yang memiliki cukup uang dapat memengaruhi pasar prediksi dengan bertaruh besar-besaran pada suatu keputusan atau hasil pemilu tertentu, sehingga membuatnya tampak lebih mungkin terjadi dan mendorong lebih banyak pengguna untuk bertaruh pada hasil tersebut.

Hal ini menjadi “bandwagon effect” (fenomena psikologis di mana seseorang mengadopsi perilaku atau gaya tertentu karena orang lain melakukannya), kata Alexander Bechtel, pakar ekonomi digital dan dosen di Universitas St. Gallen.

Ancaman Terhadap Pemilu

Pasar prediksi mulai menarik perhatian di tahun 2024 ketika pasar tersebut berhasil memprediksi kemenangan Donald Trump atas Kamala Harris dalam pemilihan presiden AS yang lebih akurat daripada jajak pendapat. Jaringan berita AS pun mulai menggunakan pasar prediksi sebagai sumber data.

Pada Desember 2025, CNN mengumumkan bahwa mereka menjalin kemitraan dengan Kalshi untuk melengkapi liputan terkait pemilu.

Pakar ekonomi digital Bechtel menekankan bahwa beberapa ilmuwan politik kini mulai lebih mempercayai pasar prediksi daripada jajak pendapat tradisional, karena jajak pendapat sering dianggap terdistorsi akan fakta bahwa orang terkadang enggan mengakui bahwa mereka menyukai partai tertentu.

“Kami melihat hal itu di AS dalam pemilihan seputar Donald Trump, ketika Donald Trump selalu mendapat peringkat lebih buruk daripada lawan-lawannya,” katanya kepada DW. Hal ini, menurut Bechtel, disebabkan karena orang cenderung lebih jujur ketika mereka “Mempertaruhkan uang untuk apa yang mereka katakan.”

Apakah Pasar Prediksi Lebih Baik Daripada Jajak Pendapat?

Bukan berarti saat seseorang memenangkan pemilu, lantas masyarakat menyetujui kebijakan politik mereka. Para ahli juga turut memperingatkan agar tidak menyamakan pasar prediksi dengan jajak pendapat. “Tentu saja, pasar prediksi juga bisa terdistorsi,” jelas Bechtel.

Pengguna dapat menentukan pertanyaan mereka sendiri di pasar prediksi, yang kerap kali acak dan sangat spesifik. Sedangkan, lembaga survei merumuskan pertanyaan yang bertujuan untuk menggambarkan secara akurat apa yang dipikirkan oleh pemilih dari kelompok demografis tertentu di suatu negara.

Bechtel tidak begitu mengkhawatirkan melejitnya popularitas pasar prediksi, “Menurut saya, pasar prediksi tidak merepresentasikan ancaman bagi sistem demokrasi, tetapi mereka menyimpan bahaya,” jelasnya.

Namun demikian, ia percaya bahwa pasar prediksi memerlukan regulasi yang lebih ketat, dan bahwa beberapa langkah dapat diterapkan untuk mengendalikan beberapa bahaya tersebut.

Pertama dengan memaksa pengguna pasar prediksi untuk mengidentifikasi diri mereka secara daring, misalnya, akan menjadi langkah yang menekan praktik pertukaran informasi rahasia yang belum diketahui publik. Kedua adalah dengan melarang pasar prediksi membuat pertaruhan spesifik pada keputusan politik tertentu yang mendorong lebih banyak manipulasi, “Menurut saya hal tersebut dapat dicegah melalui regulasi,” tegas Bechtel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *