Kerja Sama Penerbangan Haji antara Garuda Indonesia dan Maskapai Teluk
Dalam rangka meningkatkan efisiensi penerbangan haji, Danantara Indonesia telah menjajaki kerja sama dengan sejumlah maskapai dari negara Teluk. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menciptakan sistem penerbangan yang lebih optimal dan mengurangi beban operasional perusahaan.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan bahwa pihaknya terbuka terhadap berbagai bentuk kerja sama, termasuk pembentukan perusahaan patungan atau joint venture (JV) sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menjelaskan bahwa penjajakan kerja sama tersebut dilakukan dengan beberapa maskapai, seperti Saudi Arabia Airlines, Emirat, dan Etihad. Namun, ada beberapa tantangan yang muncul, seperti konflik di wilayah tersebut.
“Kami sih terbuka ya. Kami semua penjajakan-penjajakan, baik dengan Saudi Arabia [Airlines], kemarin dengan Emirat, sempat ya, lagi bicara dengan Emirat tetapi ada kejadian ini [perang]. Kami sempat bicara juga dengan Etihad,” ujarnya saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Rosan menegaskan bahwa salah satu tujuan dari kerja sama ini adalah untuk membuat penerbangan haji lebih efisien. Dalam hal ini, Garuda Indonesia juga sedang menjalani proses transformasi secara internal. Proses ini mencakup berbagai aspek, mulai dari sumber daya manusia hingga efisiensi operasional.
“Memang dengan kenaikan harga avtur tentunya punya dampak terhadap seluruh penerbangan di dunia termasuk Garuda. Ya sekarang bagaimana kami bisa menavigasi ini secara baik dan benar, tetapi ini kan proses transformasi memang pasti membutuhkan waktu,” tambahnya.
Kritik terhadap Pola Operasional Angkutan Haji
Sebelumnya, dalam Rapat Kerja Pemerintah, Rabu (8/4/2026), Presiden Prabowo menilai pola operasional angkutan haji selama ini masih belum optimal. Ia menyampaikan bahwa pesawat yang membawa jemaah dari Indonesia menuju Arab Saudi terisi penuh, tetapi kembali dalam kondisi kosong. Hal ini dinilai tidak ekonomis.
“Selama ini pesawat Garuda berangkat membawa haji ke Tanah Suci, pulangnya kosong. Ini kan tidak ekonomis. Arab Saudi juga demikian, mengembalikan haji ke Indonesia, kembalinya kosong,” ujarnya di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Untuk mengatasi masalah ini, Presiden Prabowo mendorong terbentuknya perusahaan patungan antara Indonesia dan Arab Saudi dengan komposisi kepemilikan masing-masing 50%. Dengan skema tersebut, diharapkan tingkat keterisian pesawat dapat optimal baik saat keberangkatan maupun kepulangan.
“Kenapa tidak kerja sama? Bikin satu anak perusahaan 50% Arab Saudi, 50% Indonesia. Berangkat dari Indonesia [pesawat] penuh, pulang juga penuh. Harga [ibadah haji] bisa turun lagi, waktu lebih singkat,” kata Prabowo. Ia menekankan pentingnya langkah konkret dari manajemen Garuda Indonesia untuk segera menindaklanjuti peluang kerja sama tersebut.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Presiden menegaskan bahwa pembahasan rencana tersebut harus dilakukan secara cepat. Dirut Garuda Indonesia diharapkan segera menghadap untuk membahas detail kerja sama yang akan dijalin.
“Harus kerja cepat. Pemerintah ini kerja cepat. Dirut Garuda nanti menghadap saya,” tegasnya.
Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan penerbangan haji dapat menjadi lebih efisien dan ekonomis. Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan mampu mengurangi biaya ibadah haji serta mempercepat proses perjalanan jemaah.