22 April 2026
AA20yASD.jpg

Kenaikan Harga Minyak Akibat Serangan ke Infrastruktur Energi Arab Saudi



Harga minyak acuan dunia mengalami kenaikan pada Jumat (10/4). Pemicunya adalah pengumuman dari Arab Saudi yang menyatakan bahwa kapasitas produksi minyak negara tersebut berkurang akibat serangan terhadap infrastruktur energi. Hal ini memicu ketidakpastian di pasar minyak global, yang semakin memperburuk situasi pasokan.

Minyak acuan West Texas Intermediate (WTI) naik sebesar 0,7% menjadi US$ 98,53 per barel, sementara minyak Brent juga meningkat 1,2% menjadi US$ 95,92 per barel. Perubahan harga ini menunjukkan respons pasar terhadap penurunan kapasitas produksi dan distribusi minyak dari Arab Saudi.

Menurut laporan dari kantor berita resmi Arab Saudi, kapasitas produksi minyak negara tersebut turun sekitar 600.000 barel per hari akibat serangan terhadap infrastruktur energi. Dari data Bloomberg, angka ini setara dengan sekitar 10% dari ekspor minyak mentah normal Saudi. Selain itu, kapasitas aliran harian melalui stasiun pemompaan yang melayani pipa East-West juga mengalami penurunan sebesar 700 ribu barel pekan ini. Pipa ini digunakan untuk mengekspor minyak melalui Laut Merah.

Pengaruh terhadap Pasokan Minyak ke Asia

Penurunan kapasitas produksi dan distribusi ini memiliki dampak signifikan terhadap pasokan minyak mentah di Asia. Analis minyak global dari BloombergNEF, Mohith Velamala, mengungkapkan bahwa penurunan aliran pipa East-West memperlemah strategi Arab Saudi dalam menghindari Selat Hormuz. Hal ini juga menunjukkan risiko pasokan yang masih berlanjut, terutama di kawasan Asia.

Negara-negara seperti Jepang, yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah, mulai memanfaatkan cadangan minyaknya. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengumumkan bahwa mereka akan melepas sekitar 20 hari pasokan dari stoknya pada Mei. Di sisi lain, Amerika Serikat menawarkan hingga 30 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve melalui skema pertukaran untuk meredam kenaikan biaya energi akibat gangguan di Timur Tengah.

Peran Trump dan Ketegangan AS-Iran

Presiden AS Donald Trump menyatakan optimisme terhadap kesepakatan dengan Iran, serta menyebut Israel akan menurunkan intensitas serangan terhadap militan Hizbullah yang didukung Teheran di Lebanon. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa serangan yang terjadi tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata AS-Iran. Trump juga mengancam Iran terkait pungutan biaya di Selat Hormuz.

“Ada laporan Iran mengenakan biaya kepada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Mereka seharusnya tidak melakukannya, dan jika benar, mereka harus segera menghentikannya!” tulis Trump di media sosial pada Kamis.

Konflik antara AS dan Iran terus berlanjut meski fokusnya sudah beralih ke Islamabad. Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi AS dalam pembicaraan dengan pejabat Iran pada Sabtu. Isu utama yang dibahas adalah terkait Selat Hormuz, yang hampir tertutup sejak akhir Februari dan telah mengganggu sekitar seperlima arus minyak global serta gas alam cair. Kondisi ini memicu guncangan pasokan yang signifikan.

Perspektif dari Para Ahli

Trump menggambarkan para pemimpin Iran jauh lebih rasional dibandingkan pernyataan publik mereka dalam wawancara telepon dengan NBC News. Namun, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan di Telegram mengatakan Iran pasti akan membawa pengelolaan Selat Hormuz ke tahap baru. Arah pembawaan ini belum jelas, apakah merujuk pada tuntutan lama Iran untuk mempertahankan kendali atas jalur perairan tersebut yang ditolak AS.

“Pasar kembali fokus pada realitas arus pasokan melalui Selat Hormuz, yang masih jauh dari normal dan kecil kemungkinan pulih dengan cepat,” kata trader energi senior di CIBC Private Wealth Group, Rebecca Babin.

Kenaikan Harga Minyak yang Fluktuatif

Pasar minyak sangat bergejolak sejak perang dimulai. Situasi tersebut memaksa pelaku pasar mengambil posisi lebih kecil dalam jangka waktu lebih singkat karena batas risiko. Harga minyak acuan berfluktuasi rata-rata lebih dari US$ 9 per hari sejak konflik pecah, menjadi pergerakan harian terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan ini mencerminkan ketidakstabilan yang terus berlangsung di pasar minyak global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *