Kenaikan Harga Minyak Dunia Akibat Ketegangan di Selat Hormuz
Harga minyak dunia mengalami kenaikan tipis pada akhir pekan ini, didorong oleh ketegangan yang kembali meningkat di Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital tersebut masih tertutup meskipun telah tercapai kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan data dari Tradingview, harga minyak berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik sebesar 0,39% menjadi US$98,28 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis Brent untuk pengiriman Juni juga menguat sebesar 0,5% ke level US$96,40 per barel.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberi peringatan kepada Iran agar segera menghentikan tindakan yang dianggap mengganggu kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini dapat memengaruhi kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu yang bergantung pada pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Arus pengiriman melalui jalur sempit yang sebelumnya menangani sekitar 20% pasokan minyak global masih sangat terbatas. Hal ini menjaga tingkat ketidakpastian di pasar energi.
Trump menyampaikan komentarnya dalam unggahan di Truth Social, menyebut bahwa Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk—bahkan tidak terhormat—dalam memungkinkan minyak melintas di Selat Hormuz.
Penasihat ekonomi utama Gedung Putih, Kevin Hassett, menyatakan bahwa keberhasilan meloloskan satu kapal tanker saja melalui selat tersebut akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pasokan yang saat ini terganggu.
Dampak Serangan terhadap Infrastruktur Energi Arab Saudi
Di sisi lain, serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi turut memengaruhi kapasitas produksi minyak negara tersebut. Menurut laporan dari Saudi Press Agency, serangan tersebut memangkas kapasitas produksi sekitar 600.000 barel per hari serta mengurangi aliran melalui pipa East-West sekitar 700.000 barel per hari.
Serangan Iran menghantam stasiun pompa di sepanjang pipa East-West, yang mengalirkan minyak mentah dari fasilitas pengolahan di dekat Teluk Persia menuju terminal ekspor Laut Merah di Yanbu. Riyadh mengandalkan pipa tersebut sebagai jalur ekspor utama selama konflik berlangsung, mengingat pengiriman melalui Selat Hormuz semakin tidak memungkinkan akibat serangan Iran.
Selain itu, serangan terpisah terhadap ladang minyak Manifa dan Khurais juga memangkas produksi Arab Saudi sekitar 600.000 barel per hari. Sejumlah kilang minyak turut menjadi sasaran dalam serangan terbaru, yang semakin memperparah gangguan pasokan global.
Kesepakatan Gencatan Senjata yang Masih Tertunda
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu pada Selasa, dengan imbalan Teheran mengizinkan kapal melintas di Selat Hormuz. Namun, hingga kini, kepala eksekutif perusahaan minyak mentah milik negara Uni Emirat Arab menyatakan bahwa jalur tersebut masih secara umum tertutup bagi pelayaran.
Dengan impor minyak dari kawasan Teluk turun di bawah 2 juta barel per hari dan waktu pengiriman yang memanjang hingga beberapa pekan, situasi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Analis Goldman Sachs memperkirakan pembeli harus mengandalkan cadangan serta pasokan alternatif setidaknya selama satu bulan ke depan, di tengah harga bahan bakar yang mulai menekan permintaan. Hal ini menunjukkan bahwa ketegangan di wilayah tersebut masih berpotensi memengaruhi pasar minyak dalam jangka panjang.