Persoalan Kemasan Plastik yang Mengancam Industri Pangan
PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food mengungkapkan bahwa kelangkaan biji plastik kini menjadi tantangan serius bagi industri pangan nasional. Keterbatasan bahan baku kemasan ini dinilai berdampak luas karena hampir seluruh produk pangan hingga pupuk bergantung pada material plastik.
Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, menjelaskan bahwa masalah kemasan kini semakin terasa di tingkat pabrik. Ia menyebutkan bahwa kesulitan dalam mendapatkan kemasan sudah mulai terasa di semua pabrik-pabrik. Hal ini lebih krusial karena hampir seluruh produk pangan, pupuk, hingga beras menggunakan bahan plastik.
“Kesulitan yang sekarang lagi viral dan terasa di pihak kami sebagai pemain pangan yaitu kesulitan kemasan. Di semua pabrik-pabrik itu sudah mulai terasa kelangkaan biji-biji plastik. Ini lebih krusial karena seluruh pangan, pupuk, hingga beras menggunakan bahan plastik,” ujarnya dalam Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (7/4).
Ia menambahkan bahwa penggunaan plastik tidak hanya terbatas pada kemasan utama, tetapi juga mencakup kemasan turunan seperti kemasan kiloan dan minyak goreng. Dengan demikian, gangguan pasokan biji plastik berpotensi menghambat produksi secara menyeluruh.
Jaringan Distribusi yang Kuat
Di tengah tekanan tersebut, ID Food memastikan tetap menjaga kelancaran distribusi pangan. Saat ini, perusahaan telah membangun jaringan distribusi yang luas dengan dukungan 94 titik cabang, lebih dari 1.400 titik pasar pantauan, serta lebih dari 27.000 mitra retail di seluruh Indonesia.
Jaringan ini menjadi fondasi penting untuk memastikan pasokan pangan tetap bergerak di berbagai wilayah. ID Food juga aktif mendukung program pemerintah melalui Gerakan Pangan Murah bersama Badan Pangan Nasional.
Ghimoyo menjelaskan bahwa sepanjang 2026, ID Food menargetkan sekitar 420 titik penugasan dari total 1.900 titik Gerakan Pangan Nasional. “Langkah ini dilakukan sebagai bentuk intervensi langsung untuk menjaga keterjangkauan harga, terutama saat terjadi gejolak harga di pasar,” kata dia.
Sinergi dalam Distribusi Beras
Dalam distribusi beras, ID Food juga menyatakan kesiapan untuk bersinergi dengan Perum Bulog dalam penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) secara nasional. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat distribusi dan menjangkau wilayah yang selama ini belum optimal terlayani.
Selain itu, perusahaan terus memperkuat distribusi hingga ke tingkat paling dekat dengan masyarakat melalui pengembangan warung pangan. Saat ini, lebih dari 6.200 mitra telah bergabung sebagai perpanjangan tangan distribusi ID Food ke pasar dan konsumen langsung.
Dukungan yang Diperlukan
Namun demikian, ID Food menilai diperlukan dukungan tambahan dari pemerintah agar peran dalam menjaga stabilitas pangan semakin optimal. Salah satunya melalui akses pembiayaan dengan subsidi bunga guna memperkuat pengadaan komoditas strategis dan investasi di sektor hilirisasi.
Selain persoalan kemasan, tantangan lain yang disoroti adalah distribusi pangan, khususnya ke wilayah Indonesia Timur dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). ID Food mendorong adanya subsidi biaya logistik agar harga pangan tetap terjangkau dan tidak terjadi disparitas antarwilayah.
Komitmen untuk Menjaga Ketersediaan Komoditas Strategis
Di sisi lain, ID Food menegaskan komitmennya untuk menjaga ketersediaan komoditas strategis seperti gula, daging, dan minyak goreng sepanjang tahun. Perusahaan juga siap mendukung program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), melalui penyediaan sumber protein seperti ayam, telur, dan ikan.