Pasar modal Indonesia kembali mengalami penurunan pada akhir pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 67,034 poin atau 0,94% menjadi 7.097,05 pada perdagangan Jumat (27/3/2026). Dalam satu minggu terakhir, IHSG juga mengalami penurunan sebesar 0,56%.
Sebagai analis pasar, Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas memberikan prediksi terkait level support dan resistance IHSG untuk perdagangan Senin (30/3/2026). Menurutnya, level support IHSG berada di angka 7.005 dan 6.892, sementara level resistance berada di posisi 7.222 dan 7.482. Prediksi ini didasarkan pada berbagai faktor yang memengaruhi pergerakan pasar saham.
Salah satu sentimen utama yang masih memengaruhi pasar adalah dinamika konflik di kawasan Timur Tengah. Peristiwa ini telah menyebabkan lonjakan harga minyak dunia hingga rata-rata mencapai kisaran US$ 100 per barel. Kenaikan harga minyak ini dapat menekan risk appetite investor dan pelaku pasar, sehingga berdampak pada kepercayaan terhadap investasi di pasar modal.
Selain itu, pasar juga masih dibayangi oleh kekhawatiran terhadap potensi inflasi yang berlangsung lebih lama. Hal ini dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi salah satu faktor negatif bagi pasar saham domestik.
Nafan juga menyoroti kebijakan pemerintah terkait pemberlakuan tarif biaya ekspor batubara yang akan mulai berlaku pada 1 April. Kebijakan ini berpotensi menjadi tantangan bagi emiten-emiten berbasis batubara. Namun, ia menilai bahwa sektor tersebut masih memiliki penopang jika harga komoditas tetap bergerak dalam tren bullish consolidation, sehingga bisa menjadi dorongan positif bagi saham-saham terkait.
Di sisi lain, pasar juga berpotensi dipengaruhi oleh penyesuaian portofolio para fund manager setelah libur Idulfitri. Perubahan ini bisa memicu pergeseran aliran dana di pasar saham.
Secara terpisah, Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas memberikan proyeksi IHSG yang masih rawan mengalami koreksi. Menurutnya, level support IHSG berada di angka 7.059, sedangkan resistance berada di posisi 7.136. Pergerakan pasar saham domestik dipengaruhi oleh sentimen dari kawasan Timur Tengah serta kondisi pasar global yang cenderung korektif.
Untuk rekomendasi saham, Herditya menyarankan pelaku pasar dan investor untuk memperhatikan beberapa saham unggulan. Di antaranya adalah saham CUAN dengan target harga Rp 1.475-Rp 1.745, DSNG pada target harga Rp 1.670-Rp 1.745, serta UNTR pada level target Rp 31.300-Rp 32.000.
Pergerakan pasar saham selanjutnya akan sangat bergantung pada berbagai faktor eksternal maupun internal. Investor perlu tetap waspada dan memantau perkembangan situasi secara berkala untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.