Pendapatan Pemulihan Tidak Lagi Jadi Solusi Utama Bank
Pada tahun lalu, banyak bank memanfaatkan pendapatan pemulihan atau recovery income sebagai salah satu sumber utama untuk menjaga profitabilitas mereka. Pendapatan ini berasal dari penjualan aset yang bermasalah, seperti kredit macet atau portofolio kredit yang tidak lancar. Namun, tampaknya strategi ini semakin sulit dijalankan pada tahun ini.
Dua bank besar yang berhasil meningkatkan laba bersih mereka pada tahun sebelumnya adalah Bank Mandiri dan Bank Central Asia (BCA). Kenaikan laba bersih Bank Mandiri mencapai 0,92% secara tahunan (year-on-year/yoy), sejalan dengan pertumbuhan recovery income sebesar 7,37% yoy menjadi Rp 7,28 triliun. Sementara itu, BCA juga mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 4,9% yoy, dengan recovery income naik 25,17% yoy menjadi Rp 1,07 triliun.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyatakan bahwa penyelesaian aset bermasalah telah sesuai dengan target dan timeline yang ditetapkan. Meski tidak merinci jumlahnya, ia menegaskan bahwa proses ini dilakukan sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.
Menurut Hera, BCA selalu mengelola risiko kredit bermasalah secara optimal dengan prinsip kehati-hatian. Salah satu cara yang digunakan adalah penyediaan pencadangan yang memadai. Rasio NPL coverage BCA mencapai 183,8% pada tahun 2025. Ia menjelaskan bahwa pihaknya terus mengevaluasi pencadangan tersebut sejalan dengan perkembangan kualitas aset dan kondisi ekonomi.
Di luar keuntungan dari penjualan aset bermasalah, BCA tetap fokus pada pengelolaan risiko kredit yang baik. “Ini semua untuk menjaga kualitas kredit,” ujar Hera.
Strategi Berbeda Di CIMB Niaga
Selain Bank Mandiri dan BCA, CIMB Niaga juga berhasil menjaga progres profitabilitasnya pada tahun lalu. Laba bersih bank ini tumbuh 0,53% yoy menjadi Rp 6,93 triliun. Namun, Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengungkapkan bahwa recovery income dari penjualan aset bermasalah bukan menjadi faktor utama dalam capaian tersebut.
Laporan keuangan CIMB Niaga menunjukkan bahwa penjualan kredit ke pihak ketiga pada tahun lalu turun menjadi Rp 430,32 miliar, dibandingkan dengan Rp 1,36 triliun pada tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan pelepasan cadangan kerugian (CKPN) untuk penjualan kredit ke pihak ketiga sebesar Rp 329,22 miliar pada 2025 dan Rp 1,08 triliun pada 2024.
Lani menjelaskan bahwa penjualan aset bermasalah saat ini relatif lebih sedikit karena portofolio yang tersedia tidak begitu besar. “Saat ini portofolio aset bermasalah relatif tidak banyak,” katanya.
Untuk mengoptimalkan pendapatan, CIMB Niaga lebih fokus pada fee income atau pendapatan komisi. Menurut Lani, bisnis ini menjadi prioritas bank di tengah permintaan kredit yang masih rendah.
Pandangan Ahli: Penjualan Aset Tidak Lagi Efektif
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, mengatakan bahwa meskipun penjualan aset bermasalah masih digunakan oleh bank untuk mendongkrak kinerja, hal ini tidak lagi menjadi penggerak utama. “Karena stoknya juga makin menipis,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dalam kondisi ekonomi saat ini, penjualan aset bermasalah akan semakin sulit. Jika bank ingin menjual cepat, harga yang ditawarkan biasanya lebih rendah. “Prospek penjualan aset bermasalah akan melambat dan akan ditawarkan di harga diskon,” kata Trioksa.
Selain itu, bank mungkin mengambil strategi lain, seperti restrukturisasi kredit, efisiensi biaya, serta optimalisasi pertumbuhan fee based income. Dengan demikian, bank harus terus berinovasi dan menyesuaikan diri dengan dinamika pasar dan kondisi ekonomi yang semakin kompleks.