22 April 2026
AA1FbgUQ.jpg

Kebijakan WFH/WFA Berpotensi Pengaruhi Pendapatan Pengemudi Ojol

Kebijakan Work From Home (WFH) atau Work From Anywhere (WFA) yang diterapkan satu hari dalam seminggu untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dan karyawan swasta disinyalir berpotensi mengurangi jumlah pesanan yang diterima oleh para pengemudi ojek daring. Hal ini dapat memengaruhi pendapatan mereka secara langsung.

Kebijakan ini diambil sebagai upaya pemerintah untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini dilakukan setelah adanya kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Meskipun kebijakan ini memiliki tujuan baik, para pengemudi ojol merasa khawatir akan dampaknya terhadap bisnis mereka.

Presiden Federasi Serikat Pengemudi Daring Indonesia (FSpeed), Budiman Sudardi, menyatakan bahwa para pengemudi ojol memahami niat baik dari kebijakan ini. Namun, ia juga menyoroti bahwa kebijakan tersebut bisa mengurangi jumlah pesanan, terutama pada hari kerja yang biasanya menjadi puncak mobilitas masyarakat.

Budiman menjelaskan bahwa setelah libur Lebaran, aktivitas pesanan biasanya mengalami penyesuaian. Namun, hingga saat ini, peningkatan jumlah pesanan belum terlihat. Jika kebijakan WFH/WFA benar-benar diterapkan, maka penurunan pendapatan akan semakin terasa.

Ia memberikan contoh, selama masa pandemi, kebijakan WFH sebelumnya menyebabkan penurunan pesanan pengemudi ojol antara 10% hingga 30%, tergantung wilayahnya. Dengan demikian, jika kebijakan ini diterapkan secara konsisten satu hari tiap minggu, penurunan pendapatan bisa mencapai 5% hingga 15%, bahkan bisa mencapai 20% di area bisnis atau perkantoran.

Wilayah perkantoran terasa lebih besar dampaknya dibandingkan daerah pemukiman. Kota-kota besar juga lebih terdampak dibandingkan daerah-daerah lainnya.

Budiman memproyeksikan bahwa ke depan, kemungkinan terjadi perubahan pola permintaan layanan. Misalnya, pergeseran dari layanan antar-jemput penumpang ke pesan-antar makanan. Namun, meskipun demikian, pergeseran ini tetap tidak mampu menutupi penurunan pendapatan dari layanan antar-jemput penumpang.

FSpeed berharap, seiring dengan kebijakan ini, platform aplikasi dapat mempertimbangkan adanya insentif harian. Contohnya, pemangkasan potongan untuk mitra pengemudi agar pendapatan harian tetap terjaga.

Budiman menambahkan bahwa pihaknya berharap pemerintah telah memperhitungkan dampak kebijakan ini terhadap sektor informal seperti para pekerja ojek online. Ia berharap, pemerintah melibatkan para pengemudi dalam mitigasi dampak tersebut, sehingga solusi yang diberikan lebih tepat sasaran.

Selain itu, ia menyarankan adanya stimulus atau program kompensasi bagi para pekerja platform. Dengan begitu, para pengemudi ojol dapat tetap menjalani usaha mereka tanpa terlalu terganggu oleh kebijakan baru ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *