Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan program makan bergizi gratis (MBG) meskipun menghadapi kritik dan tantangan fiskal. Ia menyatakan bahwa anggaran yang tersedia lebih baik digunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat daripada disalahgunakan atau dikorupsi.
Pernyataan ini disampaikan oleh Prabowo dalam sesi wawancara dengan sejumlah wartawan dan pakar di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Selasa malam hingga Rabu dini hari, 17 hingga 18 Maret 2026. Dalam wawancara tersebut, ia menyampaikan pandangan pribadinya tentang pentingnya MBG sebagai solusi jangka panjang untuk masalah gizi anak-anak.
“Saya akan bertahan sedapat mungkin. Daripada uang-uang dikorupsi, lebih baik rakyat saya bisa makan,” ujar Prabowo seperti dikutip dari video wawancara yang dirilis Sekretariat Presiden, Ahad, 22 Maret 2026.
Prabowo menjelaskan bahwa selama masa kampanyenya, ia sering melihat banyak anak yang mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi. Ia mencontohkan pengalamannya saat berada di desa-desa, di mana ia melihat langsung kondisi anak-anak yang tidak sehat.
Ia bercerita pernah bertanya umur kepada seorang anak yang tampak seperti berusia 4 tahun. Anak itu menjawab bahwa usianya 11 tahun. Dari pengalaman itulah, ia yakin bahwa proyek MBG bisa menjadi solusi untuk masalah tersebut.
“Saya yakin saya berada di jalan yang benar. Uang kita ada. Saya pertaruhkan kepemimpinan saya, 2029 kita lihat,” kata Prabowo.
Menurutnya, pembiayaan MBG berasal dari hasil efisiensi dan pengurangan kebocoran anggaran negara. Bagi dia, menghentikan MBG bukanlah jawaban untuk mengatasi krisis. Ia menegaskan bahwa masih banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk menghemat anggaran tanpa mengganggu program tersebut.
“Jangan ke arah, ‘Oke ada krisis, nanti kita hentikan MBG’. Masih banyak cara lain yang kita bisa hemat, masih banyak, tapi MBG ini saya udah lihat,” ujarnya.
Ketua Umum Partai Gerindra ini juga mengklaim bahwa program MBG berjalan baik dan mendapat pujian dari Rockefeller Institute di Amerika Serikat. Menurutnya, institusi tersebut menyebut MBG sebagai “investasi terbaik”. Alasannya, setiap US$ 1 atau sekitar Rp 17 ribu yang dialokasikan untuk program ini dapat menghasilkan keuntungan hingga US$ 7 atau sekitar Rp 119 ribu hingga US$ 35 atau sekitar Rp 593 ribu.
“This is strategic, ini untuk human capital kita. Jadi masih banyak penghematan lain yang real, yang bisa dilakukan. Kami sudah exercise, kami sudah melakukan penghematan di banyak bidang,” ujarnya.