21 April 2026
sejumlah-kapal-tak-melaut-imbas-cuaca-buruk-di-semarang-rabu-1332024_169.jpeg

Nelayan dan Petugas Kebersihan Menghadapi Kesedihan di Hari Raya

Sodikin, seorang nelayan berusia 55 tahun dari Semarang, mengungkapkan rasa sedihnya karena terpaksa menggadai sertifikat tanah untuk membeli baju baru bagi anaknya di hari Lebaran. Hal ini terjadi karena cuaca ekstrem yang membuat aktivitas melautnya terhenti, sehingga penghasilannya mandek.

Sodikin menangis saat meminta belikan baju Lebaran baru untuk anaknya. Karena tidak bisa melaut selama musim baratan, ia harus menggadaikan barang berharganya agar bisa memenuhi kebutuhan dasar keluarga.

“Iya, sejak Januari sampai Lebaran ini musim baratan, sehingga tidak bisa melaut, akhirnya terpaksa gadaikan sertifikat demi beli bisa baju baru untuk anak,” ujarnya pada Kamis (19/3/2026).

Anak-anak Sodikin menangis meminta baju baru untuk hari raya, dan ia merasa tidak tega melihat mereka menangis. Akhirnya, ia memutuskan untuk menggadaikan sertifikat tanah tersebut.

Uang hasil gadai itu juga digunakan untuk biaya hidup selama tidak melaut. Menurut Sodikin, pergi melaut saat Lebaran terasa percuma karena TPI dan pasar banyak yang libur.

“Misal maksa melaut jual ikannya bingung ke mana,” jelasnya.

Selain itu, baginya, selama Lebaran wajib untuk tidak melaut sebagai bentuk menghormati Hari Raya Idul Fitri.

“Ya kami rayakan hari raya dulu sambil perbaiki alat tangkap sehingga lebih siap melaut saat cuaca nanti sudah cerah,” tandasnya.

Kesedihan Petugas Kebersihan di Hari Raya

Selain Sodikin, Rapi, petugas kebersihan di Kota Jambi, juga mengalami kesedihan di hari raya. Demi tetap menjaga dan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Rapi harus tetap mengorek tumpukan sampah.

Baginya, bekerja adalah keharusan, jika tidak, maka tidak akan ada uang yang dia bawa pulang untuk kebutuhan hidupnya. Rapi memilih menanam kesedihan dan kerinduan itu sedalam mungkin di hatinya, terlebih saat dia menyaksikan orang-orang bepergian menyaksikan kemeriahan malam takbir.

“Kalau dibilang iri, rindu pas lihat orang, ya pastilah gak bisa dipungkiri, tetapi kan tidak ada pilihan, ya harus bekerja untuk keluarga,” kata Rapi, kepada Kompas.com, sembari mengangkat keranjang rotan penuh sampah di tangannya, Jumat (21/3/2026).

Dia menyadari, rangkaian Hari Raya Idul Fitri adalah momen untuk berkumpul bersama keluarga. Namun, hal itu tidak selalu bisa ia lakukan.

Realitas di Balik Suasana Hangat Hari Raya

Dua kasus di atas memperlihatkan, di balik suasana hangat Hari Raya Idulfitri, terdapat realitas yang tidak bisa diabaikan, kemiskinan yang masih menjadi tantangan besar, bahkan terasa semakin berat saat Lebaran tiba.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *