PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menunjukkan kinerja yang sangat mengesankan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, INCO berhasil meraih pendapatan sebesar US$ 990,19 juta pada tahun tersebut, meningkat 4,18% secara tahunan dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, yaitu US$ 950,38 juta.
Beban pokok pendapatan juga meningkat menjadi US$ 879,34 juta dari sebelumnya US$ 842,16 juta. Dari sisi operasional, beban usaha meningkat signifikan menjadi US$ 52,18 juta dari sebelumnya US$ 38,25 juta. Selain itu, beban lainnya naik menjadi US$ 12,71 juta dari sebelumnya US$ 9,87 juta. Sementara itu, pendapatan lainnya meningkat tipis menjadi US$ 3,92 juta dari US$ 3,72 juta.
Akibat peningkatan beban operasional ini, laba usaha INCO mengalami penurunan menjadi US$ 41,43 juta dari sebelumnya US$ 63,82 juta. Namun, kinerja bottom line tetap menunjukkan perbaikan yang kuat. Hal ini didukung oleh pos non-operasional seperti keuntungan dari pengakuan nilai wajar aset derivatif yang berbalik positif menjadi US$ 16,57 juta dari sebelumnya rugi US$ 19,94 juta. Pendapatan keuangan juga meningkat menjadi US$ 37,26 juta dari US$ 36,2 juta. Selain itu, INCO mencatatkan keuntungan dari pengakuan nilai wajar investasi saham sebesar US$ 6,68 juta serta kontribusi laba dari entitas asosiasi sebesar US$ 607.000.
Dengan berbagai faktor tersebut, laba sebelum pajak INCO meningkat menjadi US$ 94,53 juta dari sebelumnya US$ 74,06 juta. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar US$ 18,47, laba tahun berjalan alias laba bersih INCO mencapai US$ 76,06 juta, melesat 31,68% dari US$ 57,76 juta pada periode sebelumnya.
Kinerja Tahun 2025
Presiden Direktur INCO Bernardus Irmanto menyatakan bahwa kinerja operasional sepanjang tahun lalu tumbuh cukup baik. Produksi nikel matte mencapai 72.027 metrik ton sepanjang tahun 2025, naik dari produksi tahun 2024 sebanyak 71.311 ton. Secara triwulanan, produksi di triwulan IV tahun 2025 mencatatkan 17.052 ton nikel dalam matte, turun 12% dibandingkan 19.391 ton pada triwulan III-2025.
Penurunan ini disebabkan oleh kegiatan pembangunan kembali Furnace 3 yang dimulai pada November dan ditargetkan selesai pada Mei 2026. Meski produksi triwulan IV-2025 sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan IV-2024, secara keseluruhan produksi sepanjang tahun tetap lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Selain itu, produksi nikel matte Vale juga terus mencatat pertumbuhan secara komersial, terutama penjualan bijih nikel saprolit dari blok Pomalaa dan Bahodopi. Pada 2025, penjualan bijih saprolit mencapai 2.316.023 wet metric tons (wmt), dengan volume bulanan tertinggi pada Oktober sebesar 516.167 wmt. Blok Bahodopi memberikan kontribusi terbesar terhadap penjualan bijih saprolit sepanjang tahun.
Pengiriman nikel matte Vale juga mencatat kenaikan moderat pada 2025, yaitu 73.093 ton dibandingkan 72.625 ton di 2024. Hal ini mendukung Vale dapat mempertahankan EBITDA yang solid sebesar US$ 228,2 juta sepanjang tahun lalu, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Harga realisasi rata-rata nikel matte pada tahun 2025 tercatat sebesar US$ 12.157 per ton, turun 7% dibandingkan US$ 13.086 per ton pada tahun sebelumnya. Meskipun harga lebih lemah, peningkatan tingkat payability nikel matte yang mulai berlaku pada Juli tahun lalu, serta volume pengiriman yang lebih tinggi, mendorong kenaikan total pendapatan.
Secara triwulanan, pendapatan mencapai US$ 284,8 juta, naik 2% dibandingkan triwulan sebelumnya, didorong oleh pemulihan harga nikel yang moderat. Bernardus menyatakan bahwa hal ini menegaskan komitmen kuat perusahaan bersama para pemegang saham dalam menghadapi kondisi pasar yang menantang serta keyakinan terhadap prospek jangka panjang industri.
Biaya dan Investasi
Meskipun INCO telah melaksanakan pemeliharaan besar pada salah satu furnace dan berhasil mempertahankan unit biaya kas penjualan yang kompetitif sebesar US$ 9.339 per ton pada tahun 2025, sedikit lebih rendah dibandingkan US$ 9.374 per ton pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan disiplin biaya yang kuat serta menghasilkan tingkat biaya kas tahunan terendah dalam empat tahun terakhir, turun dari sekitar US$ 11.201 per ton pada tahun 2022.
Unit biaya kas penjualan untuk bisnis bijih nikel Vale Indonesia tetap stabil pada kisaran US$ 17–US$ 19 per ton, termasuk biaya royalti dan logistik untuk bijih saprolit campuran. Angka ini mencerminkan bijih yang sepenuhnya bersumber dari blok Bahodopi, mengingat penjualan dari blok Pomalaa masih terbatas pada kegiatan pengambilan bulk sampling test. Aktivitas penambangan penuh di Pomalaa diperkirakan dimulai pada tahun 2026.
Vale Indonesia juga memaparkan, laba bersih yang meningkat 32% secara tahunan menjadi US$ 76,1 juta mencerminkan perbaikan operasional yang konsisten, level produksi yang lebih kuat, serta pendekatan yang disiplin dalam efisiensi biaya.
Proyek Masa Depan
Sepanjang tahun, Vale Indonesia mengalokasikan sekitar US$ 485,9 juta untuk belanja modal, meningkat 46% dibandingkan US$ 332,1 juta pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama mencerminkan belanja untuk proyek-proyek pengembangan serta kebutuhan modal sustaining.
Ke depan, Bernardus menyebutkan INCO semakin mempertajam fokus strategis melalui pengembangan proyek pertambangan dan fasilitas pengolahan hilir bersama mitra usaha patungan. Khusus di Pomalaa, proyek pertambangan perusahaan telah mencapai kemajuan sekitar 60%, dengan sejumlah fasilitas pendukung untuk tahap awal operasi berhasil diselesaikan. Perkembangan ini sejalan dengan kemajuan proyek HPAL yang telah mencapai sekitar 50% tahap konstruksi serta mencatatkan tonggak penting dengan kedatangan empat unit autoclave dan pemasangan unit pertama.
Proyek ini tetap berada pada jalurnya untuk mencapai penyelesaian mekanis pertama pada triwulan ketiga tahun 2026.
Analisis Pasar
Equity Analyst MNC Sekuritas, Raka Junico menilai penjualan bijih nikel menjadi penyelamat kinerja INCO. Menurutnya, perusahaan mampu mengimbangi tekanan penurunan harga nikel global dengan mencatatkan penjualan bijih nikel mentah sebesar US$ 102 juta. “Strategi ini efektif dalam menjaga pertumbuhan pendapatan perusahaan,” tulis Raka dalam risetnya.
Di sisi lain, INCO juga dinilai berhasil mengendalikan biaya produksi. Meski tengah melakukan perbaikan fasilitas pabrik, khususnya Furnace 3, perusahaan tetap mampu menjaga efisiensi operasional dengan baik. Untuk jangka panjang, INCO tengah mengembangkan proyek besar di Pomalaa dan Sorowako yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat dengan target rampung pada 2029.
Raka pun melihat prospek INCO pada 2026 lebih positif. Ia menilai INCO diperkirakan akan mengoptimalkan kuota penjualan bijih nikel serta berpotensi mendapat sentimen positif dari kenaikan harga jual rata-rata nikel global.
Dihubungi terpisah, Senior Teknikal Analis Sucor Sekuritas, Reyhan Pratama menilai secara teknikal pergerakan saham INCO masih berada dalam tren naik. Namun, dalam jangka pendek saham ini tengah mengalami fase koreksi. “Koreksi diperkirakan masih berlanjut dengan potensi penurunan menuju area support di kisaran Rp4.800–Rp5.000 per saham,” ujar Reyhan. Ia pun merekomendasikan investor untuk bersikap wait and see, setidaknya hingga fase koreksi mereda atau harga telah mendekati area support tersebut.