22 April 2026
AA1YUJh2.jpg

Proyek pengembangan gas laut dalam di lepas pantai Kalimantan Timur yang dilakukan oleh perusahaan energi asal Italia, Eni, telah mencapai tahap Final Investment Decision (FID) dengan nilai investasi sekitar US$ 15 miliar. Proyek ini mencakup pengembangan dua area utama, yaitu Gendalo-Gandang (South Hub) dan Geng North-Gehem (North Hub). Keputusan ini menunjukkan komitmen kuat dari pihak Eni terhadap potensi sumber daya migas di Indonesia.

Kepastian Investasi dan Dampak Ekonomi

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyatakan bahwa keputusan FID yang diambil oleh Eni menjadi tanda kuatnya kepercayaan investor global terhadap sektor hulu migas Indonesia. Ia menjelaskan bahwa proyek ini tidak hanya akan meningkatkan produksi gas nasional, tetapi juga memperkuat ketahanan energi jangka panjang.

“Keputusan investasi ini menjadi langkah penting dalam mendukung peningkatan produksi gas nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia,” ujar Djoko.

Ia menambahkan bahwa pemerintah bersama SKK Migas akan terus mendorong percepatan proyek strategis agar memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian dan masyarakat. Menurut Djoko, keputusan FID ini terbilang cepat karena diambil hanya sekitar 18 bulan setelah persetujuan Plan of Development (POD) pada 2024. Hal ini mencerminkan percepatan pengembangan proyek migas laut dalam di Indonesia.

Teknologi dan Infrastruktur yang Digunakan

Secara teknis, proyek ini akan memanfaatkan teknologi produksi laut dalam serta infrastruktur yang sudah tersedia. Di antaranya adalah penggunaan fasilitas Jangkrik FPU serta reaktivasi Train F di kilang LNG Bontang. Strategi ini dinilai mampu menekan biaya sekaligus mempercepat komersialisasi gas.

Untuk South Hub, pengembangan dilakukan pada kedalaman laut antara 1.000 hingga 1.800 meter dengan pengeboran tujuh sumur produksi yang dihubungkan ke fasilitas Jangkrik. Sementara itu, North Hub akan mencakup pengeboran 16 sumur pada kedalaman hingga 2.000 meter yang terhubung ke fasilitas produksi terapung (Floating Production Storage and Offloading/FPSO) baru.

FPSO tersebut dirancang memiliki kapasitas pemrosesan lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari serta sekitar 90.000 barel kondensat per hari. Secara keseluruhan, kedua proyek ini diperkirakan memiliki potensi sumber daya hingga 10 triliun kaki kubik gas (TCF) dan 550 juta barel kondensat.

Jadwal Produksi dan Manfaat Ekonomi

Produksi dari proyek ini ditargetkan mulai berjalan pada 2028 dan mencapai puncaknya pada 2029, dengan kapasitas sekitar 2 miliar kaki kubik gas per hari. Gas yang dihasilkan akan dialirkan ke darat untuk memenuhi kebutuhan domestik serta mendukung produksi LNG di Bontang, baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor.

Djoko menekankan bahwa investasi jumbo ini akan memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk penciptaan lapangan kerja. “Dengan nilai investasi tersebut, diperkirakan akan menyerap ribuan tenaga kerja,” ujarnya.

Selain itu, proyek ini juga akan menjadi bagian dari rencana kerja sama bisnis antara Eni dan Petronas. Kedua perusahaan berencana membentuk entitas baru (NewCo) dengan target produksi gabungan lebih dari 500.000 barel setara minyak per hari pada 2029. Hal ini menunjukkan kolaborasi strategis yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi sumber daya migas di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *