21 April 2026
AA1YECne.jpg

Kerja Sama Energi Indonesia dan Brunei Darussalam

Pertemuan bilateral antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, dengan Deputy Minister (Energy) di Kantor Perdana Menteri Brunei Darussalam, Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi Bin Haji Mohd Hanifah, menjadi langkah penting dalam menjajaki kerja sama di bidang energi. Pertemuan ini berlangsung selama Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, pada Minggu (15/3/226) waktu setempat.

Kerja sama ini mencakup beberapa aspek seperti ketahanan pasokan minyak dan peluang kolaborasi pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Menurut Bahlil, pertemuan ini membuka babak baru dalam hubungan kedua negara, terutama karena Brunei dikenal sebagai produsen migas utama di Asia Tenggara.

Bahlil menyampaikan bahwa delegasi Brunei menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari pengalaman Indonesia dalam mengembangkan diversifikasi pembangkit energi, khususnya dari sumber EBT. Ia menegaskan bahwa Indonesia telah melangkah lebih maju dalam mengembangkan pembangkit energi dari berbagai sumber, sedangkan Brunei saat ini memanfaatkan 99% gas untuk pembangkit listriknya dan ingin mengurangi porsi pemanfaatan gas tersebut.

Selain itu, Brunei sedang mempersiapkan peningkatan kapasitas terpasang pembangkit nasional hingga lima kali lipat dari kapasitas eksisting. Saat ini, kapasitas terpasang Brunei sebesar 1 GW, dan mereka berencana menambah 4 GW. Hal ini menunjukkan komitmen Brunei untuk meningkatkan kapasitas energi nasionalnya.

Pembahasan tidak hanya terbatas pada pembangkit listrik. Bahlil menilai, pertemuan ini juga menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi pasokan minyak. Dengan produksi minyak Brunei yang mencapai sekitar 100.000 hingga 110.000 barel per hari, Indonesia membuka peluang impor minyak bumi dari Brunei sebagai salah satu opsi strategis untuk menjaga stabilitas pasokan energi domestik.

Menurut Bahlil, penjajakan impor minyak bumi dari Brunei bertujuan untuk memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap aman. Selain itu, Brunei juga tertarik dengan teknologi yang diterapkan oleh PT Pertamina (Persero), yaitu Enhanced Oil Recovery (EOR), yang digunakan untuk meningkatkan produksi minyak di sumur-sumur tua.

Oleh karena itu, Menteri Bahlil siap memfasilitasi kerja sama antara Brunei dan perusahaan plat merah Indonesia di bidang energi. Ia menyatakan kesiapan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan teknis, serta belajar bersama.

Di sisi lain, Indonesia juga mendorong peluang investasi yang lebih luas bagi Brunei melalui Koridor Ekonomi Indonesia (KEI) atau Indonesian Economic Development Corridor (IEDC). Melalui skema ini, Brunei diajak untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, khususnya di wilayah terpencil yang memiliki potensi sumber daya alam namun masih membutuhkan dukungan infrastruktur energi.

Kerja sama ini juga mencakup penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui program capacity building. Program ini mencakup berbagai sektor mulai dari hulu migas hingga pelatihan auditor energi terbarukan. Dengan demikian, kerja sama antara Indonesia dan Brunei Darussalam di bidang energi diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi kedua negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *