Pendekatan Pendidikan yang Inovatif di Sekolah Garuda
Sekolah Garuda, sebuah inisiatif pendidikan baru yang sedang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, memiliki konsep pembelajaran yang sangat berbeda dari sekolah-sekolah biasanya. Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani, menjelaskan bahwa sekolah ini akan menerapkan empat kurikulum sekaligus dalam sistem pembelajarannya. Tujuannya adalah untuk memperkuat talenta sains dan teknologi sekaligus membuka akses pendidikan berkualitas di luar Pulau Jawa.
Empat Kurikulum yang Digunakan
Empat kurikulum yang digunakan adalah sebagai berikut:
- Kurikulum Nasional: Sebagai fondasi akademik utama, memberikan dasar pengetahuan yang wajib dikuasai siswa.
- Kurikulum Karakter: Fokus pada pengembangan kepemimpinan dan integritas siswa, agar mereka dapat menjadi pemimpin yang tangguh.
- Kurikulum STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics): Memberikan penguatan kompetensi di bidang sains dan teknologi, yang menjadi fokus utama dalam menciptakan tenaga ahli yang dibutuhkan industri.
- Kurikulum Internasional/Global: Membuka akses dan daya saing global bagi siswa, sehingga mereka siap bersaing di tingkat internasional.
Menurut Najib, penguatan bidang STEM menjadi salah satu alasan utama pendirian Sekolah Garuda. Ia menilai kebutuhan akan tenaga ahli sains dan teknologi di Indonesia sangat besar, terutama untuk mendukung industrialisasi dan hilirisasi. Namun, minat dan ekosistem pendidikan STEM dinilai masih terbatas.
“Lulusan perguruan tinggi kita belum didominasi bidang STEM, padahal kebutuhan industri sangat besar. Karena itu, ekosistemnya harus dimulai sejak SMA,” ujarnya dalam konferensi pers sosialisasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sekolah garuda di Kemendiktisaintek, Jakarta Selatan, Rabu, 18 Februari 2026.
Konsep The One Percent Rule
Selain itu, Sekolah Garuda dirancang dengan landasan yang ia sebut sebagai the one percent rule. Maksudnya adalah gagasan bahwa negara perlu memfasilitasi sekitar 1 persen siswa dengan kemampuan sangat unggul atau jenius dan sangat bertalenta yang selama ini dinilai belum mendapat dukungan optimal.
“Sering kali ketika kita bicara inklusivitas, fokusnya pada kelompok difabel dan kelompok rentan lainnya. Tapi ada komponen masyarakat yang sering terlewat, yaitu anak-anak yang sangat berbakat. Mereka jumlahnya kecil, tetapi potensinya besar,” kata Najib dalam pemaparannya.
Lokasi Sekolah Garuda
Berbeda dengan sekolah unggulan yang selama ini banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa, Sekolah Garuda justru dibangun di daerah yang dinilai memiliki potensi besar tetapi minim fasilitas pendidikan unggul.
Empat lokasi pertama yang dipilih adalah:
- Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung
- Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur
- Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara
- Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara
Najib mencontohkan sejumlah daerah seperti Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, hingga Papua yang dinilai memiliki potensi siswa unggul, tetapi akses ke sekolah berkualitas masih terbatas. Di Kalimantan Utara, misalnya, sebagian orang tua yang mampu memilih menyekolahkan anak ke Malaysia karena keterbatasan pilihan sekolah unggulan di daerahnya.
Rencana Pembangunan Sekolah Lainnya
Selain empat sekolah yang akan beroperasi mulai Juni 2026, pemerintah juga menyiapkan pembangunan di sejumlah daerah lain, antara lain:
- Mempawah (Kalimantan Barat)
- Rejang Lebong (Bengkulu)
- Manokwari dan Merauke (Papua)
- Beberapa titik di Maluku
Dengan pendekatan yang inovatif dan strategi pembangunan yang merata, Sekolah Garuda diharapkan dapat menjadi model pendidikan yang mampu menghasilkan generasi muda yang unggul, berkompeten, dan siap bersaing di dunia global.