21 April 2026
AA1AOq49.jpg



Pemerintah Indonesia memiliki rencana ambisius untuk mengembangkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebagai bagian dari upaya pengelolaan sampah yang lebih efisien sekaligus memanfaatkan sumber daya yang ada. Dalam beberapa tahun terakhir, pihak berwenang telah menetapkan target untuk melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking sejumlah proyek PLTSa pada pertengahan 2026. Proyek ini akan dibangun di 34 titik lokasi yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota, dengan kapasitas pengolahan sampah mencapai 1.000 ton per hari.

Rencana Pemerintah dan Proses Lelang

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menjelaskan bahwa pemerintah telah membuka lelang untuk proyek PLTSa tersebut. Ia menyatakan optimisme bahwa beberapa proyek bisa memulai pembangunan pada pertengahan tahun ini. “Diharapkan pada pertengahan 2026 sudah ada yang dilakukan groundbreaking,” ujarnya saat berbicara di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Meski demikian, Yuliot belum merinci jumlah proyek yang akan mulai dibangun pada periode tersebut. Ia menargetkan beberapa PLTSa dapat mulai beroperasi pada 2027. Menurutnya, biasanya proses pembangunan proyek PLTSa membutuhkan waktu antara 1,5 hingga 2 tahun, asalkan lahan sudah tersedia.

Percepatan Proses Lelang oleh BPI Danantara

Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menargetkan groundbreaking proyek Waste to Energy (WtE) atau PLTSa pada Maret 2026. CEO BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan bahwa pihaknya kini lebih cepat dalam mendapatkan pemenang lelang dibandingkan sebelumnya. Sebelumnya, proses negosiasi untuk satu proyek PLTSa bisa memakan waktu tiga hingga empat tahun.

“Dulu negosiasinya satu project (PLTSa) 3-4 tahun, baru putus (selesai). Sekarang, kita baru buka (lelang) Desember kemarin, mulai bidik di awal, target kita Maret sudah bisa groundbreaking,” katanya dalam sebuah diskusi bertajuk “Peran Danantara Indonesia Mendorong Pertumbuhan Berkualitas” di Jakarta, dikutip Senin (19/01/2026).

Sejarah dan Potensi Proyek WtE

Rosan menambahkan bahwa program WtE sebenarnya sudah ada sejak 2014, namun belum berjalan optimal. Hingga kini, hanya PLTSa di Surabaya dan Surakarta yang sudah beroperasi. Meskipun begitu, minat terhadap proyek pengolahan sampah menjadi energi terus meningkat, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Faktor ketidakpastian itu, sehingga kalau kita lihat kan sampah itu sudah sangat banyak, kalau kita lihat minatnya sangat luar biasa, dalam maupun luar negeri,” tutur Rosan.

Tantangan dan Peluang

Meski proyek PLTSa menawarkan solusi yang inovatif, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah ketersediaan lahan yang cukup luas dan memenuhi standar lingkungan. Selain itu, keberlanjutan operasional dan pengelolaan limbah juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.

Namun, dengan adanya komitmen dari pemerintah dan partisipasi aktif dari swasta, proyek PLTSa diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan dalam mengurangi beban sampah sekaligus memproduksi energi terbarukan. Dengan target groundbreaking pada pertengahan 2026, Indonesia semakin dekat pada visi keberlanjutan yang lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *