Penjelasan PT Pelindo Terminal Petikemas Terkait Keterlambatan Layanan
PT Pelindo Terminal Petikemas menyangkal adanya antrean kapal hingga enam hari di sejumlah terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Meskipun mengakui adanya keterlambatan layanan dalam batas tertentu, perseroan menegaskan bahwa operasional bongkar muat tetap berjalan sesuai perencanaan dan tidak mengganggu jadwal sandar kapal secara signifikan.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menjelaskan bahwa seluruh terminal peti kemas di kawasan Tanjung Perak, seperti TPK Lamong, TPS Surabaya, TPK Nilam, hingga TPK Berlian, tetap melayani kapal berdasarkan sistem jadwal sandar atau berthing window system. Dengan skema ini, setiap kapal telah memiliki waktu pelayanan yang terencana sejak awal.
“Kami pastikan tidak ada kapal yang harus antre sampai enam hari untuk mendapatkan pelayanan di terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Perak,” kata Widyaswendra, Selasa (3/2).
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pelayanan
Dalam praktik operasional, pelayanan kapal sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kesiapan fasilitas, keselamatan kerja, kondisi lapangan, hingga kelancaran arus kapal secara keseluruhan. Pada periode tertentu, terutama menjelang hari besar keagamaan, aktivitas terminal memang cenderung meningkat seiring melonjaknya arus barang dan kunjungan kapal.
Widyaswendra menjelaskan bahwa waktu tunggu kapal dapat terjadi akibat perbedaan waktu kedatangan, lonjakan muatan, kecepatan bongkar muat, kesiapan peralatan, hingga faktor alam seperti cuaca dan kondisi pasang surut. Namun, keterlambatan tersebut tidak berlangsung berhari-hari.
“Kalaupun ada kapal yang harus menunggu, waktu tunggunya masih berkisar antara 15 hingga 30 jam,” tegasnya.
Upaya Perbaikan Layanan
Untuk meningkatkan kualitas layanan, Pelindo Terminal Petikemas terus melakukan perbaikan berkelanjutan. Pada 2026 ini, TPS Surabaya dijadwalkan menerima tambahan empat unit quay container crane (QCC) dan 14 unit rubber tyred gantry (RTG). Sementara itu, TPK Berlian juga akan diperkuat dengan dua unit QCC yang ditargetkan tiba pada pertengahan tahun.
“Perbaikan pelayanan terus kami lakukan di seluruh wilayah kerja, mulai dari Belawan hingga Merauke,” tambah Widyaswendra.
Tanggapan dari Pengguna Jasa
Dari sisi pengguna jasa, Ketua DPC Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Surabaya, Stenven Handry Lesawengan, mengakui sempat menerima laporan keterlambatan bongkar muat di TPK Berlian akibat kesiapan alat. Meski demikian, ia menegaskan tidak pernah terjadi antrean kapal hingga berhari-hari.
“Kami sudah berkomunikasi dengan pengelola terminal. Mereka terbuka dan kooperatif mencari solusi agar kegiatan bongkar muat tetap berjalan,” ujar Stenven.
Sementara itu, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Sebastian Wibisono, mendorong percepatan peremajaan alat bongkar muat di terminal peti kemas Tanjung Perak. Ia menilai sebagian peralatan yang ada saat ini sudah tidak sebanding dengan perkembangan ukuran kapal dan meningkatnya arus peti kemas.
“Kami menyambut baik rencana kedatangan alat baru di TPS Surabaya dan berharap langkah serupa juga dilakukan di terminal lain, khususnya TPK Berlian,” pungkas Sebastian.