22 April 2026
AA1VkIZo.jpg

Upaya Pemulihan Danau Lido Memasuki Tahap Kolaborasi Berbasis Sains

Di tengah upaya pemulihan ekosistem Danau Lido, berbagai pihak mulai memperkuat kebijakan melalui pendekatan kolaboratif yang didasarkan pada sains. Program LIDO BAGEUR (Bhumi Pasa Hijau–Danone Indonesia) bekerja sama dengan Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK IPB University) menyelenggarakan acara C-CARE LIDO (Collaborative Action for Revitalization Ecosystem Lido) di Auditorium FPIK IPB University, Kamis (29/1/2026). Acara ini menjadi momen penting untuk mendiskusikan capaian awal program serta mempertemukan para pemangku kepentingan lintas sektor dalam merumuskan tata kelola Danau Lido yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, dan berbasis bukti ilmiah.

Kebijakan Publik yang Terkoordinasi

Dekan FPIK IPB University, Prof. Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc., menegaskan bahwa pengelolaan danau tidak dapat dilepaskan dari kerangka kebijakan publik yang jelas dan terkoordinasi. Meskipun Danau Lido merupakan danau buatan peninggalan era kolonial, perannya kini sangat strategis sebagai penyangga ekosistem, sumber penghidupan masyarakat, serta ruang pembelajaran. Ia menekankan bahwa air menjadi fondasi bagi kehidupan, pangan, dan kesejahteraan manusia. Oleh karena itu, pengelolaannya harus berbasis sains dan didukung tata kelola yang bijak serta berkelanjutan.

Pendekatan Jangka Panjang yang Kolaboratif

Direktur Utama Bhumi Pasa Hijau, Hariadi Propantoko, menjelaskan bahwa revitalisasi Danau Lido merupakan proses jangka panjang yang menuntut keselarasan antara sains, masyarakat, dan kebijakan. Menurutnya, pendekatan sektoral tidak lagi memadai untuk menjawab kompleksitas tekanan ekologis yang dihadapi danau. “Danau adalah ruang hidup bersama. Tanpa kerangka kolaborasi dan kebijakan yang terintegrasi, upaya pemulihan akan berjalan parsial dan sulit berkelanjungan,” ujarnya.

Capaian Awal Program LIDO BAGEUR

Dalam sesi diseminasi, dipaparkan capaian satu tahun awal Program LIDO BAGEUR (Lido Basin Integrated Ecosystem Restoration). Program Manager LIDO BAGEUR, Nevky Emiraj Saputra, menjelaskan bahwa hasil kajian awal menunjukkan perubahan signifikan tutupan lahan di wilayah tangkapan air Danau Lido yang berdampak langsung pada erosi, pendangkalan, dan penurunan kualitas air. “Hasil kajian ini menunjukkan bahwa persoalan Danau Lido tidak hanya berada di badan air, tetapi sangat dipengaruhi oleh tata guna lahan di wilayah tangkapan air. Karena itu, intervensi harus dilakukan berbasis data dan terhubung dengan kebijakan tata ruang serta pengelolaan lingkungan,” ujarnya.

Nevky menambahkan, dalam satu tahun implementasi awal, program mulai mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui praktik budidaya perikanan rendah residu serta pengelolaan sampah di sekitar danau.

Partisipasi Masyarakat dan Kesiapan Teknis

Dari sisi masyarakat, Ketua Kelompok Plasma Lido Jaya, Nurjaman, menyatakan kesiapan warga untuk beradaptasi dengan praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan. Namun, ia menekankan pentingnya pendampingan teknis berkelanjutan serta kepastian kebijakan yang mendukung keberlanjutan mata pencaharian.

Peluncuran Modul KEJARR dan Nota Kesepahaman

Pada momentum C-CARE LIDO, juga dilakukan peluncuran Modul KEJARR (Keramba Jaring Apung Rendah Residu) sebagai panduan teknis budidaya perikanan berbasis daya dukung perairan. Selain itu, dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Bhumi Pasa Hijau dan FPIK IPB University dalam rangka pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.

Forum Multipihak dan Arah Kebijakan Utama

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan forum multipihak yang melibatkan pengelola danau, instansi pemerintah daerah, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, serta perwakilan masyarakat. Forum tersebut menghasilkan tiga arah kebijakan utama, yakni penguatan dan sinkronisasi kebijakan pengelolaan Danau Lido secara terpadu, pembentukan kelembagaan lintas sektor melalui forum komunikasi multipihak, serta pengembangan skema pendanaan yang terencana, transparan, dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, para pihak menegaskan komitmen bersama untuk menjadikan Danau Lido sebagai model pengelolaan danau yang berbasis kolaborasi, sains, dan kebijakan publik yang terintegrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *