Pemulihan di Aceh Timur Terus Berjalan
Pemulihan pasca-bencana di Kabupaten Aceh Timur terus berlangsung dengan berbagai langkah yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga terkait. Salah satu upaya utama adalah percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan oleh Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra.
Kepala BNPB sekaligus Wakil Ketua Satgas, Suharyanto, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan evaluasi langsung kondisi lapangan untuk memastikan intervensi pemulihan berbasis penilaian risiko bencana dan kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan ini dilakukan agar tidak hanya fokus pada pemulihan fisik jangka pendek, tetapi juga pada aspek sosial dan psikologis warga.
Peninjauan Sekolah yang Terdampak
Dalam kunjungannya ke Aceh Timur, Suharyanto meninjau SD Negeri Blang Senong, Desa Meunasah Teungoh, Kecamatan Pante Bidari. Sekolah ini sebelumnya terdampak lumpur akibat intensitas curah hujan tinggi dan keterbatasan kapasitas sistem aliran permukaan.
Suharyanto memastikan bahwa bangunan sekolah telah melalui proses pembersihan dan pemeriksaan struktur dasar guna menjamin keselamatan siswa dan tenaga pendidik. Ia menegaskan bahwa pemulihan fasilitas pendidikan merupakan bagian penting dari pemulihan sosial pasca-bencana.
Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang aman, pusat aktivitas komunitas, serta sarana pemulihan psikososial bagi anak-anak. Meskipun masih rusak, kegiatan belajar mengajar sudah berlangsung. Nanti, Kementerian Pekerjaan Umum akan membantu TNI membersihkan sisa lumpur dan puing, sementara Kemendikdasmen akan memperbaiki gedung yang rusak.
Penyerahan Huntara dan DTH
Selain meninjau sekolah, Suharyanto juga mengunjungi Desa Pante Rambong, Kecamatan Pante Bidari. Di sana, ia menyerahkan secara simbolis kunci hunian sementara (huntara) dan Dana Tunggu Hunian (DTH) kepada warga terdampak.
Di lokasi ini direncanakan pembangunan 1.451 unit huntara secara insitu, dengan 102 unit telah selesai dibangun, sementara sisanya masih dalam proses dan ditargetkan rampung sebelum bulan Ramadan 2026. Huntara disiapkan sebagai solusi transisi dengan memperhatikan prinsip bangunan aman bencana, antara lain berada di lokasi relatif aman dari potensi bencana susulan, menggunakan konstruksi sederhana namun kokoh, serta dilengkapi akses air bersih dan sanitasi.
Masyarakat lebih banyak yang memilih huntara insitu atau di lokasi awal tempat tinggal mereka. Hal ini diperbolehkan dan tidak menjadi masalah. Hingga hari ini, sebanyak 102 unit sudah diserahkan.
Dana Tunggu Hunian (DTH)
Sementara itu, Dana Tunggu Hunian (DTH) diberikan sebagai alternatif bagi warga yang memilih menyewa tempat tinggal sementara guna menjaga keberlangsungan kehidupan sosial dan ekonomi keluarga selama masa pemulihan. Hingga hari ini, sebanyak 294 rekening dengan besaran 1,8 juta telah diserahkan kepada warga penerima hak, dari total 400 pemohon yang telah di-SK kan oleh Bupati Aceh Timur kepada BNPB.
DTH ini diberikan BNPB sampai hunian tetap (huntap) selesai dibangun dan dapat ditempati secara permanen. Jika selama tiga bulan huntap belum selesai dibangun, maka BNPB akan mentransfer kembali DTH kepada warga yang berhak.
Tidak jarang, masyarakat ingin tinggal menumpang di rumah sanak saudara sementara. Untuk itu, DTH diberikan untuk tiga bulan. Jika huntapnya belum jadi, maka BNPB akan tambahkan pemberian DTH untuk menyewa tempat tinggal atau di rumah saudaranya.