Fenomena Sinkhole di Sumatera Barat: Penyebab dan Keterkaitan dengan Aktivitas Geologis
Beberapa waktu lalu, masyarakat di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, kaget dengan munculnya fenomena sinkhole. Hal ini bukanlah kejadian yang pertama kali terjadi di wilayah Sumatera Barat (Sumbar). Sebelumnya, fenomena serupa juga pernah muncul di wilayah Panta Pauah, Kecamatan Matur, Agam.
Menurut peneliti dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Purna Sulastya Putra, daerah Panta Pauah terdiri atas batuan vulkanik muda seperti batu apung dan andesit. Informasi ini didapatkan dari Peta Geologi Lembar Padang yang disusun oleh Kastowo dan rekan-rekannya pada tahun 1996.
Namun, di sebelah utara, timur lokasi sinkhole, serta ke arah Bukittinggi, terdapat singkapan batuan karbonat yang cukup tua. Endapan vulkanik ini secara stratigrafi menutupi batuan karbonat, sehingga bisa jadi sinkhole di Panta Pauah sangat berkaitan dengan kejadian sinkhole yang umum terjadi pada batuan karbonat.
Hubungan antara Sinkhole dan Batuan Karbonat
Purna menjelaskan bahwa batuan karbonat mudah tererosi oleh air dan sering membentuk gua atau sungai bawah tanah. Sinkhole tersebut bisa saja terjadi akibat kolapsnya gua atau sungai bawah tanah. Namun, ia menekankan bahwa hipotesis ini masih berupa pengamatan geologi regional berdasarkan peta geologi yang ada.
“Bisa jadi sinkhole itu berkaitan dengan erosi bawah permukaan. Terlebih jika dihubungkan dengan bencana banjir besar kemarin, bisa jadi berkaitan, namun perlu pengkajian lebih dalam,” ujarnya.
Dampak Banjir Besar terhadap Formasi Tanah
Secara umum, Purna menjelaskan bahwa banjir besar dapat meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah. Jika tanah tersusun atas material yang longgar dan poros, maka sangat mungkin terjadi erosi internal yang dapat menyebabkan terbentuknya rongga di bawah tanah, sehingga sinkhole muncul di permukaan.
“Observasi dan penelitian detil tentu saja akan dapat menjawab hipotesis tersebut. Terlebih, adanya banjir besar juga akan lebih banyak membawa air yang kaya akan material organik. Air menjadi lebih asam dan pada akhirnya akan mempercepat pelarutan karbonat yang merupakan penyusun utama batugamping,” tambahnya.
Keterkaitan dengan Sesar Sumatera
Meskipun secara teori, banjir yang terjadi di Sumbar bisa saja berhubungan dengan munculnya sinkhole, fenomena ini masih perlu pendalaman lebih lanjut. Purna menekankan satu hal penting, yaitu bahwa lokasi sinkhole di Panta Pauah cukup dekat atau bisa jadi dilalui jalur Sesar Sumatera.
“Apakah ada kaitannya? Bisa jadi, namun mungkin tidak secara langsung, karena zona sesar bisa menjadi jalur air meresap ke dalam tanah yang pada akhirnya akan mempercepat pelarutan pada batuan karbonat di bawah tanah. Ini bukan akibat gempa besar atau patahan aktif yang akan memicu kejadian masif,” jelasnya.
Kesimpulan
Fenomena sinkhole di Sumatera Barat membutuhkan analisis mendalam untuk memahami penyebabnya. Meski ada dugaan keterkaitan dengan banjir dan aktivitas geologis, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hubungan pasti antara faktor-faktor tersebut. Dengan data yang terus dikumpulkan, masyarakat dan pemerintah dapat lebih siap menghadapi risiko yang mungkin muncul dari fenomena alam ini.