Temuan Lukisan Gua Tertua di Dunia di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara
Sebuah penemuan penting dalam dunia arkeologi telah mengubah pandangan ilmuwan tentang sejarah manusia purba. Baru-baru ini, hasil studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature menunjukkan bahwa lukisan gua di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, adalah lukisan gua tertua yang pernah ditemukan hingga saat ini. Umur dari lukisan tersebut mencapai antara 71 ribu tahun hingga 67 ribu tahun yang lalu.
Lukisan gua ini jauh lebih tua dibandingkan temuan yang sebelumnya ditemukan di Spanyol. Dengan usia yang begitu tua, lukisan gua di Liang Metanduno menjadi bukti bahwa Homo Sapiens telah menghasilkan karya seni sejak ratusan ribu tahun silam. Sebelumnya, lukisan gua terlama yang dikenal adalah dari kawasan Maros-Pangkep dengan usia sekitar 51 ribu tahun.
Nature menerbitkan dua artikel yang berisi informasi mengenai lukisan gua ini. Artikel pertama berjudul “Rock art from at least 67.800 years ago in Sulawesi” dan artikel kedua berjudul “Hand stencils in Indonesian cave are world’s oldest known artworks”. Penulis utama dari artikel pertama adalah arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Adhi Agus Oktaviana bersama 40 peneliti lainnya dari dalam dan luar negeri.
Dalam penjelasannya, Nature menyatakan bahwa kehadiran lukisan gua yang sangat tua di Sulawesi memberi gambaran bahwa manusia yang tinggal di paparan Sahul pada masa itu, sekitar 68 ribu tahun yang lalu, menggunakan teknologi maritim untuk menyeberang dari wilayah seperti Borneo dan Papua.
Indonesia kini menjadi pusat perhatian dalam dunia arkeologi karena memiliki banyak situs lukisan gua tertua. Sebelumnya, lukisan gua terlama berasal dari kawasan Maros-Pangkep yang menampilkan aktivitas berburu babi dan anoa. Selain itu, ada juga lukisan gua dari kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan Timur.
Pulau Muna, tempat dimana lukisan gua Liang Metanduno berada, sudah diteliti sejak tahun 1977. Namun, pertanggalan secara ilmiah baru dilakukan beberapa waktu terakhir. Pada 12 Februari tahun lalu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberi sinyal tentang hasil pertanggalan yang mengejutkan ini. Ia menyebutkan adanya temuan lukisan gua yang lebih tua dari yang diketahui sebelumnya.
Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi sebagai lokasi peradaban tertua di dunia. Ia menyampaikan hal ini dalam diskusi publik bertajuk “Melihat Kembali Nilai-Nilai Penting Situs Cagar Budaya Nasional Gunung Padang: suatu Upaya Pelestarian Cagar Budaya Berkelanjutan”. Menurutnya, Indonesia bisa menjadi satu-satunya negara yang memiliki peradaban tertua.
Ia juga menyebutkan bahwa ia mendapat informasi tentang temuan lukisan gua yang lebih tua lagi dari Maros, yaitu di Pulau Muna. Meskipun hasil penelitian belum dipublikasikan secara umum, ia menyatakan bahwa temuan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat peradaban kuno.
Para arkeolog menegaskan bahwa temuan ini memperkuat pandangan bahwa Pulau Sulawesi merupakan tempat berkembangnya kebudayaan artistik manusia purba. Hal ini membuka wawasan baru tentang bagaimana sejarah manusia purba juga datang dari Indonesia.
Namun, masih belum diketahui siapa manusia purba yang melukis gua di Metanduno dan situs lain di Pulau Muna. Arkeolog belum dapat menjawab pertanyaan ini karena belum ada fosil yang ditemukan untuk mendukung jawaban tersebut. Nature menyatakan bahwa masih menjadi perdebatan apakah Sulawesi merupakan lokasi perkembangan manusia purba sebelum kolonisasi oleh manusia modern.
Meski demikian, para arkeolog berargumen bahwa dari segi teknik, gaya, kompleksitas lukisan, serta cap tangan dan jari, tidak jauh berbeda dengan kebudayaan manusia purba di pedalaman. Hal ini menunjukkan bahwa seni manusia purba memiliki kesamaan meskipun tersebar di berbagai wilayah.