21 April 2026
AA1UB4c3.jpg



Surabaya – Pembentukan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Surabaya diharapkan menjadi langkah penting dalam mengubah cara pengelolaan Kebun Raya Mangrove. Sebagai unit pelaksana teknis (UPT), kini Kebun Raya Mangrove berada di bawah naungan BRIDA dan ditujukan untuk menjadi pusat riset konservasi, bukan hanya destinasi wisata biasa.

Kawasan Mangrove Gunung Anyar dan Wonorejo kini ditempatkan sebagai pusat riset berstandar internasional, terutama dalam pengembangan studi blue carbon atau karbon biru. Hal ini menjadi bagian dari upaya untuk memperkuat fungsi ilmiah kawasan sesuai standar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Agus Imam Sonhaji, Kepala BRIDA Surabaya, menjelaskan bahwa integrasi Kebun Raya Mangrove bertujuan untuk mengembalikan fungsinya sebagai pusat penelitian. “Kebun Raya Mangrove kini memiliki mandat ilmiah yang kuat. Di bawah BRIDA, kami fokus menjadikannya pusat studi blue carbon dan benteng ekologi kota. Surabaya akan menjadi pilot project nasional dalam memanfaatkan mangrove untuk mitigasi perubahan iklim sekaligus potensi ekonomi karbon,” ujarnya.

Selain itu, kawasan mangrove akan dikembangkan sebagai living laboratory yang terbuka bagi peneliti lokal maupun internasional. Ini juga menjadi sarana edukasi sains bagi pelajar Surabaya hingga mancanegara. Penguatan fungsi riset ini sejalan dengan peran BRIDA sebagai penghubung ekosistem riset dan inovasi.

Melalui pendekatan Heptahelix, BRIDA mendorong riset kampus agar tidak berhenti pada tataran kajian, tetapi bisa dihilirisasi menjadi kebijakan publik maupun produk ekonomi. “Banyak riset bagus yang terhenti karena tidak terhubung dengan pendanaan atau kebutuhan lapangan. BRIDA hadir untuk melakukan matchmaking agar inovasi bisa berjalan,” jelas Agus.

Tujuan lainnya adalah mampu menyelesaikan masalah perkotaan melalui riset yang difokuskan pada persoalan riil seperti pengangguran, ekonomi, kemacetan, sampah, dan banjir dengan pendekatan inovasi tepat guna. Selain itu, pembangunan ekosistem riset dan inovasi terintegrasi akan dilakukan dengan menjadikan BRIDA sebagai jembatan kolaborasi Heptahelix. Dengan demikian, hasil penelitian dosen dan mahasiswa dapat dihilirisasi menjadi kebijakan publik maupun produk ekonomi yang nyata.

“Ini adalah investasi jangka panjang. Tahun 2026 adalah titik tolak Surabaya menjadi World Class Smart City yang digerakkan oleh inovasi dan riset,” pungkas Agus.

Sebagai informasi, BRIDA Surabaya resmi terbentuk pada 2 Januari 2026. Agus Imam Sonhaji ditunjuk sebagai Kepala BRIDA pertama dan bertanggung jawab mengoordinasikan riset, inovasi, serta pengelolaan Kebun Raya Mangrove.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *